
"Tumben udah pulang? Katanya mau lembur?" Bila baru saja keluar dari kamar mandi ketika Juna baru saja masuk kekamarnya. Juna merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Menghela nafas pelan.
"Capek ya? " Bila duduk disamping Juna. Mengusap puncak kepalanya pelan.
"Iya.. Kamu mau pijitin aku? Hm.." Juna menarik tubuh Bila hingga tidur sejajar dengan Juna. Ia memeluk Bila dan mencium pipinya.
"Enggak."
"Kenapa?" Juna merengut. Kecewa dengan jawaban Bila.
"Karena kamu belum mandi..." Bila terkekeh.
Juna tersenyum lalu terbangun.
"Yaudah aku mandi dulu... Janji ya" Juna mengedipkan sebelah matanya. Ia melepas jas, dasi dan kemeja kantornya. Tak lupa sepatu yang masih melekat dikakinya. Ia hanya menggunakan celana boxer, dan segera menuju kamar mandi.
"Iya tapi setelah aku packing pakaian dulu, katanya besok mau pulang kerumah..." Bila beranjak dari tempat tidur, memungut pakaian kerja Juna dan memasukkannya kedalam keranjang pakaian kotor.
"Oh iya, aku hampir lupa... hehe.. Yaudah bye.." Juna menepuk jidatnya pelan lalu setelah itu menghilang dari balik pintu kamar mandi. Bila hanya geleng-geleng kepala.
Banyak kerjaan jadi pelupa begitu. Untung masih ingat jalan pulang kerumah. Gumam Bila dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Bila segera mengemasi beberapa pakaian yang akan dibawanya pulang kerumah mereka. Sebenarnya nggak banyak sih yang dibawa, ia sengaja meninggalkan beberapa pakaian dirumah orang tua Juna, agar memudahkannya jika sewaktu-waktu akan menginap dirumah mertuanya.
Dan untuk pakaian Juna, ia hanya akan membawa beberapa saja. Karena memang koleksi baju Juna yang dirumah ini dan rumah Juna sendiri hampir sama banyaknya.
Packing selesai tepat setelah Juna selesai mandi. Bila duduk bersandarkan lemari.
"Capek juga? Nggak jadi mijitin aku dong..." Juna terkekeh melihat Bila yang terlihat sedikit kelelahan.
"Nanti gantian... Hehe"
"Kok gitu... " Juna memasang wajah cemberut lagi.
"Biar adil kan..." Bila menjulurkan lidahnya kemudian tersenyum. Ia berdiri dan segera membuka lemari pakaian, mengambilkan baju santai untuk Juna.
Juna menyambut pakaian yang diberikan Bila dan segera memakainya.
"Sekali-kali makan diluar yuk..." Sahut Juna tiba-tiba.
__ADS_1
"Tumben..." Bila memperhatikan Juna dengan seksama.
"Pengen aja... Nggak mau ya?"
"Yaudah karena kamu maksa, aku mau..." Bila memasang wajah pasrah.
"Aku nggak maksa ya..."
Bila tergelak.
"Kamu ih dikit-dikit cemberut, nggak baik untuk wajah, kadar ketampanan kamu akan berkurang nanti..." Sahut Bila sambil mencubit pelan kedua pipi Juna gemas.
"Baiklah..." Juna meraih kedua tangan Bila, menggenggamnya erat.
"I love you..." Juna mengecup kening Bila agak lama.
"I love you too..." Bila memeluk tubuh tegap Juna. Rasa hangat dan nyaman bercampur menjadi satu.
******
"Loh kamu mau kemana Riz?" Sahut Bunda Ayana ketika melihat penampilan Rizky sedikit berbeda, terlihat rapi namun santai.
"Mau keluar bentar Bund... Cari angin.." Rizky tersenyum kikuk. Jarang-jarang sih Rizky diinterogasi oleh Bundanya. Kebetulan aja hari ini Bunda Ayana memergoki Rizky.
"Apasih Bund, cuma lagi pengen makan aja diluar..." Sahut Rizky malu-malu.
"Oh yaudah, hati-hati kamu dijalan, jangan pulang malam-malam, apalagi pulangin cewek jangan malam-malam..." Bunda Ayana terkekeh sendiri.
"Apasih Bund... Tauk ah, Assalamu'alaikum..." Rizky segera meninggalkan Bundanya sebelum Bundanya semakin bicara ngelantur.
"Wa'alaikumsalam..." Bunda Ayana geleng-geleng kepala.
Semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu... Bunda Ayana.
Selang beberapa menit kemudian Juna dan Bila keluar dari kamarnya. Sudah berpakaian rapi. Mereka menuruni tangga sambil bergandengan tangan layaknya pengantin baru.
"Loh loh kalian juga mau pergi?" Sahut Bunda Ayana, ketika mereka berdua menghampiri Bundanya di meja makan. Bunda Ayana tengah makan malam, sendirian, karena suaminya masih lembur dikantor.
"Iya Bund... " Juna tersenyum menoleh kearah Bila. Masih dalam posisi bergandengan tangan.
__ADS_1
"Lah terus Bunda masa makan malam sendiriran dirumah..." Bunda Ayana cemberut. Ia meletakkan sendoknya kembali diatas piring makannya.
Sebenarnya tadi Bunda Ayana hendak menyantap makan malamnya, namun karena melihat Juna dan Bila berdandan rapi sambil bergandengan tangan, maka ia urungkan dulu untuk menyantap makanannya.
"Kak Rizky sama Ayah kemana Bund?" Tanya Juna mengamati sekeliling. Tak ada siapapun. Pintu kamar Rizky pun tertutup rapat.
"Ayahmu masih lembur di kantor, dan Rizky barusan ia keluar, mau cari angin katanya..."
"Maaf Bund, kali ini Bunda makan malam sama Bibi aja dulu ya... " Juna terkekeh.
"Hm yasudah , kalian hati-hati dijalan ya... Pulangnya jangan malam-malam..." Kata Bunda Ayana. Pesan seorang Ibu untuk kedua anaknya hampir sama.
"Siap! Juna pergi dulu Bund.. Assalamu'alaikum..." Juna dan Bila berlalu meninggalkan ruang makan dan Bunda Ayana.
"Wa'alaikumsalam..." Bunda Ayana kembali melanjutkan makan malamnya. Namun tiba-tiba ia merasa kenyang, sudah tak bernafsu untuk memakannya lagi. Padahal sedari tadi ia sangat lapar. Namun karena tak ada yang menemani makan malam, rasanya jadi berbeda.
*****
Rizky terlebih dahulu menjemput Sandra dirumahnya.
Sekarang ia sudah sampai didepan gerbang rumah Sandra, namun Sandra berpesan agar ia menunggunya diluar saja. Karena Ayahnya Sandra sedang tidak dirumah. Ia takut jika ketahuan Ayahnya membawa seorang laki-laki masuk kedalam rumahnya tanpa seizin Ayahnya ataupun tanpa adanya Ayah dirumah. Meskipun Ayahnya dan Rizky sudah pernah saling bertemu satu sama lain dirumah sakit.
"Hey udah lama nunggunya?" Sahut Sandra begitu ia sudah masuk kedalam mobil milik Rizky.
"Cukup lama..." Rizky melirik arloji ditangannya.
"Maaf..."
"Iya nggak papa... Mau makan dimana kita?" Rizky melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati pemandangan jalan raya dimalam hari. Sudah lama ia tak menikmati jalanan di malam hari.
"Ke Restoran SS saja , gimana? Disana menunya banyak dan juga enak, tempatnya juga nyaman, terutama buat nongkrong anak muda..."
"Hey kita sudah bukan anak muda lagi tauk..." Sahut Rizky. Sandra tergelak. Mengingat umurnya yang sekarang sudah termasuk matang untuk menikah.
"Tapi kita berjiwa muda, dan aku menolak cepat tua..." Ucap Sandra sedikit lantang.
"Ya ya ya baiklah...terserah...." Rizky kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya menuju Restoran SS.
Satu hal yang baru diketahu Rizky tentang Sandra. Ternyata Sandra orang yang humoris dan banyak bicara. Meskipun terkadang emosinya tak terkontrol. Sedikit banyak Sandra telah mengisi kekosongan dihati Rizky.
__ADS_1
***
Hallooo readers, maaf author updatenya lambat sekali. Dikarenakan menulis bukanlah pekerjaan utama saya. Ini awalnya cuma iseng-iseng, lama-lama jadi keterusan. Ndilalah (kebetulan) waktu itu waktunya pas senggang, jadi aktif nulis, tapi makin lama waktu buat nulis agak berkurang. Tapi kalo pembaca ngasih dukungan dan semangat untuk author, saya akan sangat berterimakasih. Mungkin itu bisa membantu author untuk segera melanjutkan cerita ini. Tapi nggak janji setiap hari ya... 😅😂