
Usai makan siang Juna segera menemui klien yang bernama Pak Wira. Ia masuk keruangan meeting yang berada di lantai 2. Ia masuk ke lift bersama Safira. Ketika pintu hendak tertutup tiba-tiba seorang wanita setengah berlari memasuki lift. Berhasil, wanita tersebut masuk tepat waktu. Ia berdiri mematung dihadapan Juna. Mereka sejenak beradu pandang hingga Juna mengalihkan pandangannya kearah lain.
Juna sempat mengira wanita tersebut adalah salah satu karyawan di perusahaan tersebut, namun dilihat dari penampilannya dia bukan karyawan di perusahaan Juna. Karena dari penampilannya, Juna sudah bisa menilai dia bukan wanita biasa. Dari pakaian dan juga tas yang ditentengnya merupakan barang branded semua. Cantik, putih bersih wajahnya terlihat berseri, tentu ia rajin merawat kulit wajahnya. Rambut panjang, lurus dibiarkan terurai tapi tetap kelihatan rapi.
Wanita tersebut masih menatap Juna, senyum tersirat disudut bibirnya. Karena jengah ditatap terus oleh wanita tak dikenalnya, akhirnya Juna kembali memandangi wanita tersebut. Seolah tahu apa yang difikirkan Juna, wanita itu tersenyum, memamerkan bibirnya yang seksi.
"Satu jam lagi saya tunggu diruangan bapak..."
Triing. Pintu lift terbuka, wanita tersebut menggeser tubuhnya disamping Safira memberikan jalan untuk Juna agar bisa keluar dadi dalam lift.
Juna melirik tajam kearah Safira.
"Beliau adalah putri tunggal Pak Atmaja, Bu aprilia..." kata Safira.
Juna hanya mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Aprilia. Sedangkan Aprilia masih diam mematung didalam lift, lalu ia menekan tombol ke lantai dasar, ia hendak makan siang sebelum meeting dengan Juna.
Lihatlah kau begitu sombong... Gumam Aprilia tersenyum licik.
--------
"Kenapa dia sudah datang sekarang?" Tanya Juna setelah keluar dari lift, sambil berjalan menuju ruangan meeting.
"Dia siapa yang anda maksut pak?" Ah Safira bodoh.
__ADS_1
Juna menghentikan langkahnya.
"Jangan membuatku tambah kesal ya!" Juna terlihat sewot.
"Maafkan saya Pak, maksut anda Bu Aprilia?"
"Siapa lagi. Ha!" Masih menatap tajam sekretarisnya.
"Saya kurang tahu Pak, maaf."
"Apa!!" Juna melanjutkan langkahnya dengan cepat. Ia masih mengumpat kesal kepada sekretarisnya itu.
----------------------
Juna merogoh ponselnya yang ada disaku celananya. Dua pesan belum dibaca. Belahan Jiwa 💕 Juna tersenyum. Ia membuka pesan tersebut.
***Aku sudah sampai dirumah sayang. 😊
Wah kenapa pesanku terabaikan sih... 🙄😪***
Dua pesan masuk dua jam yang lalu. Karena Juna sejak makan siang hingga meeting belum menyentuh ponselnya.
Maaf, habis meeting, sekarang masih ada meeting lagi. 😌 i love you 😜
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian belum ada balasan dari Bila. Ia memasukkan ponselnya kedalam saku lagi.
"Maaf Pak, Bu Aprilia sudah menunggu bapak diruangan bapak..." Juna terkejut.
"Hah. Siapa yang mengijinkan dia masuk keruanganku? Kenapa nggak disini saja! " Juna terlihat kesal.
"Tadi di dalam lift Bu Aprilia sudah mengatakannya, saya kira bapak tahu akan hal itu, karena bapak diam saja itu artinya bapak mengijinkannya..." Kata Safira lirih.
Juna berdecak kesal, ia bangkit dari tempat duduknya dan segera masuk keruangannya secepat mungkin.
Seenaknya saja. Siapa dia!! Umpat Juna dalam hati.
Tak berapa lama kemudian ia sudah masuk kedalam ruangannya bersama Safira. Aprilia sudah duduk disofa menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kiri. Ia tersenyum menatap kedatangan Juna.
"Siapa yang mengijinkan anda masuk keruangan saya tanpa ijin.." Juna menatap tajam Aprilia.
"Tidak ada. Saya kesini bukan untuk meeting, saya kesini ingin berbicara berdua dengan anda, Bisakah sekretarismu itu keluar sebentar..." Aprilia menatap tidak suka kepada Safira.
"Keluarlah sebentar.." Kata Juna kepada Safira. Safira mengangguk dan segera keluar dari ruangan Juna.
"Sekarang bicaralah..." Juna menatap tajam. Juna berdiri menyender disisi meja kerjanya sambil bersedekap.
"Ayolah kita bicara santai saja, kenapa marah begitu..." Aprilia beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya menuntun kearah Juna.
__ADS_1
*bersambung...