Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Seket Limo


__ADS_3

Tok tok tok. Suara ketukan pintu diruangan Arjuna berbunyi nyaring.


"Masuk." Sahut Arjuna dari dalam. Ternyata Safira. Ia membawa setumpuk dokumen yang butuh tanda tangan Arjuna.


"Ini beberapa dokumen yang harus bapak tanda tangani, dan ini adalah jadwal meeting dengan klien, karena ada beberapa klien yang berhalangan hadir karena perubahan jadwal yang mendadak, jadi mereka minta meeting besok pagi saja. Dan untuk hari ini hanya meeting dengan Pak Wira dan Bu Aprilia." Safira menjelaskan dengan sangat detail.


"Siapa Bu Aprilia?" Juna mengernyitkan dahinya. Karena sepertinya tidak ada dalam daftar nama tersebut.


"Bu Aprilia adalah putri tunggal dari Pak Atmaja, yang dulu pernah ingin bekerja sama dengan perusahaan ini pak.." Juna mencoba mengingat-ingat.


Ah iya benar, Pak Atmaja yang mencoba menjodohkan aku dengan anaknya. Huh. Sekarang anaknya yang langsung ingin menemuiku. Semoga nggak ada niatan itu lagi. Gumam Juna dalam hati.


"Sudah pak. Ada lagi yang mau ditanyakan?" Tanya Safira, karena Juna hanya diam saja.


"Oh, sudah terimakasih, kembalilah ke tempatmu."


Juna merogoh ponselnya. Sudah jam sebelas. Ia teringat dengan Bila.


Masih dirumah Bunda? Juna mengirim pesan pada Bila.


Masih. Tapi ternyata Bunda sama Ayah keluar kota. 😥


Lalu kamu sendirian?

__ADS_1


Enggak..


Hah kenapa jawabnya pendek sekali.


Tak berapa lama kemudian Juna memencet tombol Video Call pada Bila.


Bila terkejut ponselnya berbunyi. Belahan Jiwa 💕 menelepon. Ah bukan, tapi video call. Bila segera menggeser tombol hijau.


"Kenapa lama sekali angkatnya?" Juna sengaja memasang wajah bete.


"Ah maaf... " Bila tersenyum, menyembunyikan rasa gugupnya. Ia merasa tidak enak dengan Rizky yang ada didepannya sedang menatap Bila, lebih tepatnya menguping pembicaraan.


"Kamu sama siapa? " Kekhawatiran Bila terjadi. Hal-hal negatif yang dipikirkan Juna terbukti. Ia cemburu dengan Rizky.


Bila menyentuh layar sehingga kamera depan berpindah menjadi kamera belakang. Nampaklah Rizky dilayar ponsel Juna, sambil nyengir tanpa dosa. Rizky tahu adiknya itu cemburu. Namun bukan berarti ia membenci kakaknya.


"Tuh kan.. Cepetan pulang gih, besok kalau Bunda udah pulang datang lagi, nggak lihat tuh kak Rizky udah rapi, dia pasti mau kerumah sakit..." Sahut Juna menggebu-gebu. Bila terkekeh melihat perilaku Juna sekarang. Seperti anak kecil. Dan juga ia baru tahu kalau Juna jealous tingkahnya jadi begitu.


"Kenapa ketawa? Yaudah aku mau makan siang dulu, terus lanjut meeting, kamu segera pulang ya, kabari kalau udah sampai rumah..."


"Iya sayang... Bawel ah!" Bila sengaja merendahkan suaranya didepan Rizky, menjaga perasaan Rizky lebih tepatnya. Namun tetap saja Rizky bisa mendengarnya.


"Apa?? Ulangi sekali lagi yang keras..." Juna sengaja mengerjai Bila, untuk memberi tahu kakaknya kalau Bila sudah menjadi miliknya sepenuhnya. Juna berusah menahan tawanya melihat ekspresi Bila yang kebingungan.

__ADS_1


"Udah ya.. aku tutup nih..." Ancam Bila.


"Yahh baiklah... Assalamu'alaikum..." Juna mengalah.


"Wa'alaikum salam..."


Panggilan berakhir.


Bila memasukkan ponselnya kedalam tas miliknya.


"Maaf sepertinya aku harus pulang sekarang, kamu dengar sendirikan Juna bilang apa tadi..." Bila menjadi salah tingkah.


Rizky tertawa terbahak.


"Yasudah, kamu hati-hati dijalan. Juna memang begitu orangnya kalau sudah cinta sama cewek, tingkat jealousnya meningkat mencapai 90%... "


"Oh begitu... yasudah, salam buat ayah bunda kalau mereka pulang..." Bila berjalan menuju pintu keluar, diikuti Rizky dibelakangnya.


"Oh iya, kamu akan kerumah sakit sekarang?"


"Iya tadi niatnya mau berangkat, tapi kamu datang duluan... " Rizky melirik jam ditangannya.


"Maafkan aku. Yasudah aku pulang dulu..." Bila berlalu meninggalkan Rizky didepan pintu menuju mobil miliknya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mobil Bila sudah melaju meninggalkan kediaman orang tua Juna.


Semoga kalian berbahagia... Rizky tersenyum tipis.


__ADS_2