
Dua hari telah berlalu, namun Bila masih juga tak sadarkan diri. Juna masih setia menunggu Bila disampingnya. Terkadang ia bergantian dengan Mama dan Marissa untuk menunggui Bila. Juna meninggalkan Bila hanya ketika hendak makan, mandi dan solat. Untuk urusan pekerjaan dikantor sudah dihandle oleh sekretaris dan asisten kepercayaan Ayahnya.
Ayah dan Bunda yang baru saja kembali dari luar kota segera datang kerumah sakit. Mereka pun cukup syok dengan apa yang terjadi dengan menantu kesayangan mereka.
Bunda berpelukan cukup lama dengan Mama, mencoba menguatkan satu sama lain.
Tak ada perubahan yang terjadi sampai hari ke tujuh. Meskipun beberapa luka sudah agak membaik namun Bila tak kunjung membuka matanya. Detak jantung masih normal. Hanya menunggu keajaiban dari yang Maha Kuasa.
Segala upaya sudah dilakukan Juna dan keluarganya, mengajaknya bicara dan juga berdoa. Mungkin Tuhan masih belum mengizinkan.
Juna hanya ingin Bila segera sadar, membuka matanya, dan kembali seperti dulu lagi. Walaupun ia masih belum mempersiapkan apa-apa kalau tiba-tiba Bila terbangun dan kembali mengingat kejadian sebelum dia kecelakaan.
"Kamu makanlah dulu, biar aku yang jagain sama Airlangga..." Pagi ini Marissa datang bersama Hendra dan juga Airlangga. Namun Hendra hanya mengantarkan Marissa saja kerumah sakit dan berangkat kekantor setelah menjenguk adiknya sebentar. Marissa membawa beberapa kotal bekal makanan. Ia sengaja membawanya dari rumah, untuk dimakan Juna dan juga Airlangga.
"Baiklah... Kabari aku jika dia sudah sadar..." Juna melangkah gontai. Kondisinya sedikit kurang fit, karena kurang istirahat dan terlalu banyak fikiran.
"Bawalah ini... " Marissa memberikan sekotak makanan kepada Juna.
"Terimakasih, " Juna menyunggingkan senyumnya.
Ia segera keluar ruangan dan memilih untuk makan dikantin. Biasanya ia selalu ditemani oleh kakaknya, Rizky.
Kantin
Juna tampak enggan untuk melahap makanannya. Baru dua suap yang masuk kemulut Juna. Sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk makanannya. Ia terlihat begitu frustasi atas kejadian yang menimpa istrinya.
__ADS_1
"Hey makanannya nggak enak?" Celetuk Rizky yang sedari tadi heran melihat tingkah adiknya. Wajar jika Juna seperti itu.
"Enak kok..."
"Trus kenapa nggak dimakan? Dari tadi cuma diaduk-aduk doang... Kan mubadzir, udah capek-capek dibuatin makanan sama mbak Marissa, tapi cuma diaduk-aduk doang... Kalau mbak Marissa tahu...."
"Hmm... Terus aja ngomelnya... Nggak ada kerjaan lain selain ngomel?" Juna melirik tajam kakaknya. Hampir setiap hari makan dengan kakaknya selalu diceramahin terus, bikin Juna jengah.
"Kerjaanku banyak, tapi kan jarang-jarang ngomelin kamu..." Rizky terkekeh. Ia tahu adiknya sedang sentimen.
Juna masih terdiam, sesekali meneguk kopinya.
"Aku masih penasaran, darimana kamu tahu kalau Bila mengalami kecelakaan dan dirawat disini? Kata Sandra kamu sudah disini sewaktu ambulans datang membawa Bila..." Raut wajah Juna kembali pias, ia kembali mengingat kejadian sebelum terjadinya kecelakaan. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal. Rizky menyadari ada sesuatu yang terjadi antara Rizky dengan Bila.
"Kalian bertengkar?" Rizky membuyarkan lamunan Juna.
"Ceritakanlah..."
Akhirnya Juna menceritakan dari awal kejadian sampai Bila bisa mengalami kecelakaan. Berkali-kali Juna menyalahkan dirinya. Ia sungguh menyesal dengan apa yang terjadi saat itu. Jika sesuatu terjadi dengan Bila, maka hanya satu orang yang diingatnya, Aprilia. Setiap mengingat wanita itu, Juna amat sangat kesal dengannya. Bahkan selama beberapa hari ini, Safira selalu mengirim pesan jika Aprilia selalu datang kekantor untuk mencari Juna. Dan Juna hanya berpesan kepada Safira untuk tidak memberitahukan keberadaan Juna dan istrinya.
"Tapi semua ini salah paham... Percayalah..."
Juna menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia ingin menangis ,namun sekuat tenaga ia menahannya.
"Aku percaya..." Sahut Rizky.
"Selesaikan makanmu, kau harus kuat, nggak boleh sakit agar bisa meluruskan kesalahpahaman ini dengan Bila, jika dia sudah sadar nanti... Aku mau memeriksa pasien-pasienku... Bye"
__ADS_1
Rizky sudah beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Juna sendiri.
Beberapa menit kemudian ponsel Juna berdering, panggilan masuk dari mbak Marissa. Ia segera menggeser tombol hijau.
"Ada apa mbak?"
"Kamu keruangan Bila sekarang, dia sudah sadar..." Juna mengakhiri panggilannya dan segera menuju ruangan Bila.
-----------------------
Juna masuk keruangan Bila dengan nafas terengah-engah karena ia berlari dari kantin menuju ruangan Bila. Disana sudah ada dokter yang menangani Bila. Dan juga Marissa beserta Airlangga. Dokter masih memeriksa kondisi Bila.
"Bagaimana dok?" Juna menghampiri dokter tersebut.
"Kondisinya sudah berangsur membaik, dia hanya butuh istirahat yang cukup, dua atau tiga hari lagi sudah boleh pulang, besok saya akan mengecek kondisinya kembali..."
Juna dan Marissa berucap syukur bersama-sama. Mereka amat senang melihat Bila yang sudah siuman.
"Kamu baik-baik saja kan ? Apa yang kamu rasakan sekarang? " Juna menggenggam jemari Bila dan duduk disampingnya.
Kini Juna merasa energi ditubuhnya telah pulih kembali setelah melihat Bila.
"Kamu siapa?" Suara Bila sedikit parau karena seminggu ia tak sadarkan diri. Sorot mata Bila menampakkan kebingungan. Ia mulai menjauhkan tangan Juna. Menatap Juna penuh tanda tanya.
Semua yang ada diruangan pun tampak terkejut.
Ada rasa nyeri kembali menjalari dada Juna.
__ADS_1