Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Telungpuluh Papat


__ADS_3

Aku masuk keruangan kerjaku dengan wajah yang cemberut. Mengambil tas ku dan juga barang-barangku. Inginku segera meninggalkan tempat kerjaku yang sudah kujalani beberapa tahun ini. Aku memang sangat menyukai fotografi. Tapi apalah daya , karena aku dipecat secara tidak adil, mau tak mau aku harus angkat kaki dari sini. Banyak sekali kenanganku disini bersama teman-temanku. Aku menghela nafas kesal. Tiba-tiba Risti, Angga dan juga Reyno masuk keruangan. Mereka berhamburan mendekatiku. Heran mungkin, kenapa aku mengemasi barang-barangku. Risti menepuk bahuku pelan.


"Hey, jangan bilang kamu mau resign?" Kening Risti mengkerut. Reyno dengan cepat mengambil barang-barang yang aku kemasi secara paksa. Angga melipat kedua tangannya diatas dada. Aku menghembuskan nafas pelan. Baru masuk kerja belum melakukan pekerjaan apapun rasanya sudah lelah sekali. Dengan cepat aku mengangguk lemah. Mataku mulai berkaca-kaca. Ingin menangis sejadi-jadinya. Salahku apasih? Aku sangat mencintai pekerjaanku sekarang. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Risti merengkuhku kedalam pelukannya. Aku menangis sesenggukan. Air mataku sudah membasahi kemeja Risti. Aku bukan menangis karena masih kesal dengan perlakuan Pak Romi yang tidak adil dan juga Citra yang keterlaluan.


Aku melepaskan pelukan Risti setelah tangisku sudah mereda. Mataku memerah dan sedikit bengkak.


"Ini pasti gara-gara cewek menjijikkan itu ya?" Sahut Reyno. Dia menggeram kesal juga.


Aku masih diam saja. Tanpa perlu menjelaskan sepertinya mereka sudah tahu. Yang mereka tidak tahu adalah kalau Citra adalah mantan pacar suamiku. Mereka pasti geram sekali kalau tahu hal itu. Apalagi sepertinya Citra tak ingin berpisah dari Juna. Dan sengaja mengerjaiku.

__ADS_1


Senang sekali punya teman-teman yang baik seperti mereka. Aku sudah merasa baikan karena mereka menghiburku. Mungkin besok-besok bakalan kangen sama canda tawa mereka.


Selesai berkemas aku berpamitan dengan Risti, Angga, dan Reyno. Risti membantu membawakan beberapa barang-barangku menuju parkiran mobilku. Kutaruh barangku di jok belakang. Sekali lagi aku memeluk Risti, dan mengucapakan terimakasih karena telah membantuku dan juga menghiburku. Risti tersenyum. Aku masuk kemobil dan segera melajukan mobilku meninggalkan tempat kerjaku.


Selama perjalanan, aku memilih menyetel beberapa lagu kesukaanku. Setidaknya mendengarkan lagu dapat mengobati rasa kesalku hari ini. Kalau Mama sama Mas Hendra tau pasti mereka marah-marah dan juga kecewa. Lebih baik aku tak menceritakannya agar masalahnya tak semakin rumit. Dan Juna? Ah itu nanti saja. Sekarang yang terpenting jangan dulu pulang kerumah. Masih pagi juga. Baru jam sepuluhan.


Akhirnya kupustuskan untuk mampir sebentar disebuah kedai ice cream favoritku dulu sama mas Rizky. Tempat ini sekarang cuma jadi kenangan. Dulu aku sering kesini ketika sedang galau atau sedih, dan mas Rizky selalu menemaniku disini.


Nyess. Seger banget pas masuk kemulut.

__ADS_1


Ketika aku sedang menikmati es krim, tiba-tiba seorang pria duduk dihadapanku. Aku mendongak, menatapnya. Dia tersenyum manis sekali. Astaga, kenapa dia bisa ada disini, gumamku dalam hati.


****Kira-kira siapa ya yang datang? Hehee...


Maaf ya kalau lama up nya, sebenarnya tadi malam udah ngetik panjang lebar, tapi nggak keburu selesai, karena ada sesuatu hal... jadi sekarang aku sempet-sempetin lanjutin ceritanya, mumpung anak gantengku sedang tidur siang...


Terimakasih yang sudah menyukai cerita karanganku, mungkin banyak sekali kekurangan. Karyaku juga tak seindah penulis-penulis yang lain, masih banyak kekurangan dalam hal alur, pengetahuan, dan juga bahasa... Mohon dimaafkan...


Apabila ada kritik dan saran yang mau disampaikan silakan... 😊

__ADS_1


Terimakasih****


__ADS_2