
Bila menghempaskan tubuhnya ditempat tidur setelah menyelesaikan Solat Isya. Rasanya kepalanya masih berputar-putar seolah masih berada di wahana permainan.
"Nih teh anget , diminum mumpung masih agak panas " Kata Juna begitu memasuki kamar. Ia membuat segelas teh sesuai keinginan Bila.
"Ahh aku pusing, pengen tidur aja..." Juna melongo, menatap Bila yang sudah rebahan dikasur dengan posisi paling enak sedunia.
"Ckk dasar..." Juna berdecak kesal. Ia mendekati Bila, dan menarik tubuhnya agar terbangun. Bila duduk dengan malas. Ia meraih segelas tehnya. Menyeruputnya. Masih agak panas tapi bisa diminum. Rasanya pun nikmat sekali, seperti ada yang menjalar disekujur tubuh. Stamina ditubuh hampir pulih kembali. Ia meminumnya lagi.
"Ayo habiskan lalu istirahat ." kata Juna.
"Nih, udah kembung... " Bila masih menyisakan sedikit. Ia memberikan gelasnya kembali pada Juna. Dan Juna keluar kamar mengembalikan gelasnya kedapur.
Lalu Bila kembali melanjutkan tidurnya, ia mendekap gulingnya erat.
Beberapa saat kemudian Juna masuk kedalam kamar, tak lupa menutup pintunya. Ia juga menyusul Bila tidur dikasur. Juna memijit pelipisnya, dan menghembuskan nafasnya pelan.
Hampir seharian bekerja dikantor membuatnya lelah, ditambah lagi satu masalah, Bila dikeluarkan dari tempat kerjanya, karena Citra.
Juna meraih ponselnya, mencoba menulis sebuah pesan, namun ia hapus lagi, lalu menaruhnya kembali di meja samping tempat tidur. Ia memejamkan matanya sampai terlelap.
__ADS_1
Juna telah menyelesaikan solat subuh. Ia menghampiri Bila yang masih tidur terlelap. Mungkin dia masih nggak enak badan pikir Juna. Tapi ia tetap harus membangunkan Bila untuk solat subuh. Belum sempat Juna membangunkan Bila, ia lebih dulu terbangun. Bila melihat Juna sedang duduk disampingnya, matanya masih tertuju pada Bila.
"Kamu baik-baik saja?" sahut Juna, ia memegng kening Bila. Ia tersenyum, karena suhu badannya biasa saja.
"Ya, aku baik-baik saja... ada apa?" Bila membenarkan posisinya hingga terduduk bersandarkan bantal.
"Kamu solat subuh dulu gih, aku mau kedapur dulu.." kata Juna lembut.
Sesekali Bila menguap. Masih mengantuk. Ia mengangguk pelan. Kemudian Juna beranjak dari tempat tidur, berjalan keluar kamar menuju kedapur. Sebenarnya ia ingin membuatkan Bila bubur. Meskipun ada Bi Munmun dirumahnya tapi Juna ingin sekali membuat dengan tangannya sendiri.
Selesai solat subuh, Bila pergi kedapur menyusul Juna. Kini ia mendapati Juna tengah berada didepan kompor yang menyala, mengaduk-aduk bubur. Bila menghampiri Juna.
"Oh ini... Iya aku buatin kamu bubur, barangkali perutmu masih nggak enak.." Juna tersenyum.
"Wow... kamu ternyata bisa diandalkan juga dalam urusan memasak... " Bila terkekeh. Ia duduk dikursi dapur, sambil mengamati Juna dari belakang.
"Iyalah... Aku tuh suami idaman, bisa apa saja.." Juna terkekeh mendengar penuturannya sendiri.
"Masa sih? Emang kamu bisa apa saja..." Bila melipat kedua tangannya didada.
__ADS_1
"Banyak...Hehe... Nih udah matang... Kamu mau makan sekarang?"
"Nanti aja.. kan masih panas banget tuh..." Sahut Bila.
"Yaudah aku taruh dipiring dulu, biar agak anget, dan enak dimakan..." Ia mengambil piring dan mengambilkan bubur, menaruhnya dipiring. Lalu meletakkannya di meja makan.
"Bi Munmun kemana?" Bila mengamati sekitar karena sedari tadi tak melihatnya. Biasanya kan dia jam segini udah sibuk didapur.
"Dia cuti selama 3 hari, mau pulang kampung nengokin anaknya katanya..." Juna melepas celemek di tubuhnya, dan duduk disamping Bila.
Bila hanya manggut-manggut, mulutnya membentuk huruf O.
"Katanya kamu bisa apa saja..." Bila menatap Juna.
"Iya.. Bisa... Eh nggak juga sih... hehe" Juna terkekeh.
"Kenapa memang?" tanya Juna.
"Bisakah kamu mencintaiku?" Bila memandangi wajah Juna lekat-lekat.
__ADS_1