
Esok harinya, seusai sarapan pagi, Juna dan Bila tengah bersiap-siap untuk kembali kerumah mereka. Satu koper berisi pakaian mereka berdua telah disiapkan sejak kemarin. Jadi hari ini mereka tinggal berangkat saja.
Karena ini hari libur, Ayah Juna juga tak berangkat bekerja. Ayah dan Bunda juga Rizky tengah berada diteras rumah. Setelah memasukkan koper kedalam mobil, Juna dan Bila segera berpamitan kepada mereka bertiga.
"Baik-baik ya dirumah kalian..." Kata Bunda Ayana sembari memeluk anak dan menantunya bergantian. Tak lupa mencium kening anak bungsunya.
"Iya Bund..." Sahut Bila tersenyum.
"Sering main kesini ya..." Kata Ayah ketika berpelukan dengan Juna.
"Siap yah..."
"Cepetan nikah... Biar ada yang nemenin..." Juna terkekeh. Belum sempat Rizky memberikan ceramah untuk adiknya, ia sudah keduluan diceramahi oleh Juna.
Sialan. Pekik Rizky dalam hati.
"Kan udah ada calonnya... Gercep kak..." Sebuah senyuman tersirat dibibir Juna. Ia sengaja menggoda kakaknya didepan orang tuanya. Membuat Rizky gelagapan. Ia melotot pada Juna, seakan berkata 'apaan sih!'.
"Beneran Riz?" Alis Bunda Ayana bertautan. Ia menatap anak sulungnya, meminta penjelasan.
"Syukur deh kalau sudah ada gandengan..." Celetuk Ayahnya Rizky. Gelak tawa memenuhi teras depan rumah.
"Apaan sih... Resek banget sih lo..." Rizky mendengus kesal. Ia memilih berlalu meninggalkan mereka.
"Yaudan Bunda Ayah kita berangkat dulu..." Juna akhirnya berpamitan.
"Hati-hati ya...."
Juna dan Bila sudah masuk kedalam mobil. Bunda melambaikan tangannya ketika mobil sudah melaju meninggalkan halaman rumah.
__ADS_1
Ah iya, mobil Juna masih mogok diparkiran restoran tadi malam. Jadi sekarang ia meminjam mobil Bundanya. Juna sudah menyuruh salah satu anak buahnya untuk memperbaiki ban mobilnya.
Empat puluh menit kemudian tibalah mereka dirumah. Mereka disambut hangat oleh Bi Mun Mun dan Bi Yati dengan hangat. Selama ini merekalah yang mengurus rumah Juna dan Bila. Dan juga ada tukang kebun yang ikut merawat rumah mereka.
"Biar saya bikinin teh mbak..." Sahut Bi Mun Mun mengikuti langkah kaki Bila kedapur.
"Nggak usah Bi, aku mau minum air dingin saja..." Ia membuka kulkas yang ada didapur, mengambil sebotol air putih dingin, dan menuangkannya kedalam gelas.
"Wahh segarnya..." Setelah meneguk air minum, ia meletakkan kembali gelasnya dimeja.
"Yaudah Bi, aku mau keatas dulu , bantu beresin barang-barang dikoper..." Bi Mun Mun mengangguk sambil tersenyum.
****
"Biar aku saja yang beresin..." Bila baru saja masuk kedalam kamarnya, dan menutup pintu kembali. Ia menghampiri suaminya yang tengah membongkar koper.
Bukan karena apa-apa sih, tapi Bila sudah terlihat was was mengamati cara suaminya membongkar koper dan hendak menatanya dilemari.
Akhirnya Juna memilih untuk berbaring diatas tempat tidur. Ia melepaskan jaket dan menaruhnya di lantai sembarangan. Tak sadar jika sedari tadi ada sepasang mata melotot kearah jaket yang teronggok dilantai. Huh jangan dikira ya, cowok ganteng itu perfect. Nggak ada yang perfect. Dari segi kerapian, kebersihan, kedisiplinan. Salah satunya begini nih, menaruh jaket kesembarang tempat. Dan sebenarnya ini sudah kesekian kalinya. Sebagai istri yang solehah banyakin sabarnya ajah ya. (ketawa jahat)
Memang dalam rumah tangga, sepasang suami istri tak selalu sama. Ada kurangnya dan ada lebihnya. Mereka saling melengkapi. Tinggal bagaiman kita menyikapi dan mau menerima apa adanya. Bukan ada apanya. 😅
"Sayang bisa nggak sih nggak menaruh jaket kelantai... kan bisa digantung disitu, atau ditaruh diatas ranjang..." Tegur Bila setelah selesai menata pakaiannya. Wajahnya merengut sebal. Sedangkan yang ditegur hanya menoleh sembari memamerkan senyum menawannya.
Ah sial , suamiku benar-benar tampan!!!
"Lain kali nggak ada toleransi, langsung aku buang ketempat sampah..." Bila mengomel sambil memungut jaket suaminya dan menggantungnya ditembok.
"Iya sayang, bawel ah..."
__ADS_1
"Kebiasaan" Celetuk Bila. Ia merangkak naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya disamping Juna.
Ketika Juna hendak merengkuh tubuh Bila, tiba-tiba ponsel Juna berdering. Sebuah panggilan dari Herman , anak buah Juna. Ia segera menggeser tombol hijau kekanan, menempelkan ponselnya ditelinga.
"Ada apa?" Tanya Juna.
"Yaudah langsung bawa kerumahku, nanti kamu pulangnya sekalian bawain mobil Bunda ya, ku kirimkan alamat rumahku."
"Hem, ya."
Panggilan berakhir. Juna meletakkan kembali ponselnya di meja.
"Siapa?" Tanya Bila penasaran.
"Herman, mau mengantarkan mobilku yang kutinggal direstoran kemarin, dia mau kesini..." Balas Juna. Ia mengambil ponselnya lagi, ia lupa belum mengirimkan alamat rumahnya yang baru pada Herman.
Ia menuliskan alamat rumahnya dan segera mengirimkannya pada Herman. Terkirim.
"Sayang, aku boleh kerja lagi nggak?" Kini Bila sudah duduk sejajar dengan Juna ditepi ranjang.
"Nggak." Jawaban tegas Juna membuat nyali Bila menciut. Tapi ia tak boleh patah semangat.
"Kenapa?" Mulai menggelayuti lengan suaminya dengan pose manja, menatap lekat wajah Juna. Namun tak membuat Juna luluh, ia hanya meliriknya sekilas sambil bergumam-gumam nggak jelas.
"Nggak boleh ya nggak boleh..." Juna mencubit pipi Bila dengan gemas.
"Ya kenapa? Kenapa nggak boleh?" Masih belum menyerah, belum puas mendengar jawaban suaminya.
"Nggak usah maksa deh ya. Sekali enggak ya enggak. Kamu dirumah aja, cabutin rumput kek, atau apa gitu..."Juna terkekeh sendiri.
__ADS_1
"Huh nggak asik banget sih..." Bila melepaskan rangkulan tangannya. Bibirnya masih menggerutu nggak jelas. Dan akhirnya ia mengalah, kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang.