Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Sewidak Pitu


__ADS_3

Terlihat Bunda Ayana masuk kedalam rumah membawa beberapa kantung plastik besar. Ia baru saja dari minimarket untuk membeli beberapa makanan dan juga buah-buahan. Dengan sigap Bi Narti segera membantu majikannya untuk membawakan barang belanjaannya tersebut.


"Taruh dikulkas ya Bi... Oh ya Salsabila mana Bi? Barangkali dia mau makan buah..." Bunda Ayana merebahkan tubuhnya disofa.


"Non Bila tidur Bu..." Bi Narti memberikan minuman dingin kepada Bunda Ayana.


"Yasudah.. Biarkan saja..."


"Tapi nona tidur diruang TV Bu..." Bi Narti menunjuk arah ruang tv.


Bunda Ayana tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Tadi nona juga mencari-cari Ibu, sepertinya nona kesepian dan mulai bosan..." Kata Bi Narti.


"Benarkah?" Bi Narti menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, apa dia sudah makan siang?"


"Belum buu..."


"Yasudah kembalilah kedapur..." Bunda Ayana melangkah menuju kamar tidurnya. Sementara Bi Narti kembali kedapur.

__ADS_1


Salsabila bermimpi hampir sama dengan kejadian kecelakaan yang menimpanya. Mobil yang dibawanya terseret dan terguling cukup jauh. Ia terbangun saat merasakan tubuhnya terasa sangat sakit sekali. Terutama bagian kepala, tangan dan pinggang. Perlahan ia membuka matanya, ia terdiam sejenak, mencerna apa yang dilihat dihadapannya. Arjuna kini tengah berjongkok dihadapan Bila. Berkali-kali Bila mengerjapkan matanya. Ia masih syok dan bingung, bukankah ia sedang mengendarai mobil dan mobilnya mengalami kecelakaan. Tapi kenapa sekarang ia berada didalam kamar tidurnya. Dan juga Juna kenapa bisa ada disini. Apakah ini cuma mimpi? Gumam Bila dalam hati.


"Kamu mimpi apa sampai bisa jatuh dari tempat tidur?" Raut wajah Juna menandakan kalau ia khawatir dengan kondisi istrinya.


Astaga ternyata tadi hanya mimpi. Bila bergumam dalam hati.


"Hey aku bertanya padamu ?" Juna menatap Bila lekat-lekat.


"Aku tidak apa-apa... Ini jam berapa? Bukankah aku tadi sedang nonton tv dan..."


"Kamu tidur didepan tv, di lantai, jadi aku memindahkanmu kekamar..."


"Oh begitu... " Bila mencoba berdiri dan menahan rasa sakit. Juna hendak membantunya namun Bila menepisnya.


"Benarkah?" Juna terlihat sedikit kecewa.


Bila melangkah menuju kamar mandi tanpa menghiraukan keberadaan Juna. Ia berdiri didepan wastafel, menatap pantulan wajahnya dicermin. Tak terasa buliran air matanya mulai berjatuhan. Bila menangis sejadinya didalam kamar mandi tanpa suara.


Hampir setengah jam Bila mengunci dirinya didalam kamar mandi. Hingga suara ketukan pintu diluar kamar mandi membuat Bila tersadar. Ia segera membasuh wajahnya, dan mengambil air wudhu.


Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka. Juna sudah terlihat khawatir karena hampir setengah jam Bila berada didalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali sih?" Tanya Juna.


"Maaf, aku sakit perut..." Jawab Bila sembari mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Benarkah? Apa perlu kupanggilkan dokter?"


"Tidak usah, aku sudah baikan sekarang...." Bila mengambil mukena dan sajadah didalam lemari. Juna memperhatikannya. Ia masih berdiri didepan pintu kamar mandi.


Selesai solat, Bila merapikan mukena dan mengembalikannya ketempat semula. Sedangkan Juna , entah dia pergi kemana.


Bila kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tak sengaja ia menyentuh sebuah kotak kecil. Ia mengambil kotak tersebut dan duduk ditepi ranjang. Ia masih mengamati kotak tersebut. Seperti handphone, pikirnya.


"Itu untukmu..." Suara Juna mengagetkan Bila hingga kotak yang dipegangnya hampir terjatuh. Juna terkekeh melihat ekspresi Bila yang sedang terkejut.


"Itu ponselmu, sudah aku belikan yang baru, dan nomermu masih sama seperti yang dulu, sudah diaktifkan, kamu tinggal pakai..." Seolah menjawab kebingungan Bila.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" Tanya Juna saat Bila meletakkan kotak ponselnya diatas meja tanpa membuka dan melihatnya terlebih dahulu. Apalagi tak ada ucapan terimakasih. Juna mendengus kesal.


"Nanti saja... " Jawab Bila singkat. Bila kembali merebahkan tubuhnya dan menyelimuti sebagian tubuhnya sampai sebatas pinggang.


"Sudah sore, nggak baik tidur jam segini..." Bila berdecak kesal, ia menendang selimutnya dan beranjak dari tempat tidur. Ia melangkah keluar kamar sembari menggerutu dalam hati.

__ADS_1


Juna menggelengkan kepala sambil tersenyum.


__ADS_2