
Juna masih diam terpaku, dua pasang mata masih saling beradu pandang. Entah apa yang ada dipikiran Juna saat ini, tapi ia masih membungkam mulutnya.
Bila tertawa terbahak. Membuat perubahan ekspresi di wajah Juna.
"Hahahah... aku hanya bercanda saja, jangan serius begitu, lagian kita menikah juga bukan berlandaskan cinta sejak awal... " ada sedikit getaran disetiap kalimat Bila. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa kamu berfikir begitu ?" Sorot mata Juna tajam menatap Bila yang tengah mengaduk-aduk buburnya.
"Entahlah... tiba-tiba saja aku berfikir begitu.. " sahut Bila.
"Selain bisa mencintaimu, aku juga bisa membuatmu cinta padaku... Bagaimana??" Juna melipat kedua tangannya didada. Terdengar serius dari nada bicaranya, sorot matanya tajam.
"Oh ya. Wah hebat dong..." Bila nampak gugup, sampai ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia hanya ingin mengetes seberapa jauh perasaan Juna terhadap Bila. Namun Juna lebih pintar membolak-balikkan pertanyaan.
"Mm... kurasa buburnya sudah hampir dingin, aku akan memakannya disana..." Bila menunjuk arah ruang televisi. Ia beranjak dari tempat duduknya sambil membawa piring berisikan bubur.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti karena Juna mencegatnya dengan satu tangannya. Bila sempat melihat tatapan matanya yang tajam. Ia berpura-pura menatap kearah lain. Jantungnya berdetak cepat. Bila menggeser tubuh Juna agar ia bisa segera keluar dari dapur. Tapi secepat kilat Juna mendorong tubuh Bila hingga mentok ke tembok. Untung saja piringnya tidak jatuh.
Juna mengambil piring berisi bubur dari tangannya, memindahkannya ke meja yang tak jauh dari jangkauannya. Lalu ia kembali fokus padak Bila. Tangan kirinya meraih pinggang Bila, sedangkan tangan kanannya sejajar menyentuh tembok , menutupi bagian kepala Bila. Seperti kucing yang sedang terpojok.
"Sebenarnya kamu penasarankan dengan perasaanku padamu? Akan kujawab setelah kamu menciumku.. Bagaimana?? " Juna menyunggingkan sebuah senyuman penuh arti. Sorot matanya yang tajam membuat Bila tak mampu bicara.
Bila masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Ayolah... Kenapa diam saja, bukankah kau sangat berani saat bercanda denganku tadi ?" Juna menelusuri lekuk wajah Bila yang sudah agak memerah. Jantungnya berdegup kencang sedari tadi. Ia takut hal aneh-aneh akan dilakukan Juna di dapur.
Juna memegangi kedua tangan Bila. Sejurus kemudian Juna mencium bibir mungil milik Bila, dan perlahan-lahan melumatnya dengan serakah. Semakin lama lumatannya semakin dalam, membuat Bila terengah-engah seperti kehabisan nafas.
"Bernafas bodoh!" Seru Juna, kemudian mencium bibirnya kembali. Semakin lama Bila semakin menikmati ciuman dari Juna. Tangannya mulai merangkul pundak Juna, sedangkan Juna memeluk pinggang Bila. Cukup lama mereka berciuman hingga Juna mengakhirinya dengan kissmark di leher.
"Aku mencintaimu... "
__ADS_1
Bila cukup terkejut dengan apa yang barusan dikatakan Juna. Empat pasang mata masih saling beradu pandang. Perlahan Bila melepaskan tangannya yang sedari tadi diatas bahu Juna.
"Sebenarnya aku...."
"Tak apa, kalau kamu belum bisa membalasnya... Aku akan menunggu sampai kamu mengakui perasaanmu yang sebenarnya..." Sahut Juna sambil mengelus puncak kepala Bila. Juna tersenyum.
"Kalau bukan karena kamu mau makan bubur, dan juga ini didapur, aku sudah memakanmu sedari tadi... " Juna tersenyum jahil sambil mencubit kedua pipi Bila.
"Udah ah sakit.. Sana pergi..." Seru Bila , melepaskan kedua tangan Juna.
"Oke..." Akhirnya Juna berlalu meninggalkan dapur. Kini hanya ada Bila didapur yang masih menatap bubur yang sudah dingin sedari tadi.
Sebaiknya nanti malam saja aku mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Juna. Gumam Bila dalam hati.
Lalu ia makan bubur yang sudah dingin tadi.
__ADS_1