Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Pitung Puluh Papat


__ADS_3

"Kakak..." Rizky yang juga baru saja keluar dari restoran tadi tak sengaja melihat adiknya di parkiran. Bila pun tak kalah terkejut bertemu dengan kakak iparnya. Yang membuatnya tambah terkejut lagi adalah wanita disamping Rizky, Sandra. Ia tersenyum menyeringai pada Bila.


"Kenapa kau ada disini? " Tanya Juna sambil menatap Rizky dan Sandra bergantian.


"Kita habis makan disini, ngapain lagi? " Alis Rizky terangkat sebelah sambil nyengir.


"Kebetulan sekali, kita boleh numpang mobil kakak nggak? Mobilku tiba-tiba aja kempes begini..." Sahut Juna sambil menunjuk ban mobilnya.


"Kok bisa gitu?"


"Mana aku tahu kak..." Ia mendengus kesal.


"Yaudah.. Ayoo..." Rizky dan Sandra berjalan menuju mobilnya yang tak jauh dari mobil Juna. Sedangkan Juna dan Bila mengekor dari belakang. Tak ada obrolan apapun sampai mereka masuk ke dalam mobil.


"Terus mobilmu gimana?" Tanya Rizky ditengah perjalanan.


"Besok pagi ada yang urus, tenang aja.."


Suasana menjadi hening kembali beberapa saat.


"Bila, apa kabar?" Sandra akhirnya buka suara. Pertama ia ragu-ragu ketika akan mengajak Bila bicara. Kedua ia masih enggan untuk bertatap muka dengannya. Masalah kedua wanita ini saat SMA masih teringat jelas. Terlebih Sandra, dia sebenarnya baik, hanya saja terkadang karena ego nya lebih tinggi , ia bisa saja berubah menjadi jahat.


Sontak Bila menoleh kearah depan, perempuan disamping Rizky sedang tersenyum ramah menyapanya. Rizky melirik Bila sebentar melalui pantulan kaca didalam mobil. Dia terlihat gugup untuk beberapa detik, sampai Juna menyenggol lengan Bila, ia segera tersadar.


"Oh aku baik, kamu gimana? Lama nggak ketemu..." Sahut Bila memaksakan tersenyum.


Dunia begitu sempit rupanya. Gumam Bila dalam hati.


"Kalian saling kenal ya?" Juna ikut menimpali.


"Iya dia teman satu kelasku pas SMA, kita bertiga kan dulu satu sekolah..." Kata Sandra sambil tersenyum, menunjuk Rizky dan Bila bergantian.


"Ah begitu ya,, jadi hanya aku yang sekolahnya paling jauh..." Sahut Juna.

__ADS_1


"Kamu sekolah dimana memang? " Tanya Sandra menggebu-gebu. Ia begitu semangat ketika membahas sesuatu yang menurutnya seru, apalagi ini menyangkut calon adik iparnya. Terlebih ada rivalnya saat di SMA, ia sengaja, agar Bila menjadi bete karena obrolan panjang antara Juna dan Sandra.


"Aku ikut Pamanku di Amerika, selama hampir 4 tahun lamanya, setelah lulus SMA barulah aku melanjutkan kuliah disini..."


Obrolan berbuntut panjang itu terhenti tatkala mobil Rizky berhenti tepat didepan rumah Sandra.


Sandra berpamitan pada Rizky, Juna dan Bila sebelum keluar dari dalam mobil.


Dalam hati ia tertawa senang melihat wajah Bila yang nampak bete, bibirnya sedikit mengerucut, pipi menggembung dan lirikan mata yang tak ramah pada Sandra. Meskipun ia tersenyum ketika Sandra berpamitan dengannya, itupun senyum paksaan.


Setelah Sandra keluar dari dalam mobil, dan masuk kerumah, mobil Rizky segera melaju pulang kerumah. Bila akhirnya bernafas lega ketika Sandra sudah menghilang dari pandangannya. Ada Sandra, mobil berasa diisi puluhan orang, sesak.


****


Mobil Rizky sudah terparkir rapi digarasi rumahnya. Bila bergegas masuk kedalam kamarnya, diikuti Juna dibelakangnya. Rizky mengamati Bila dari kejauhan. Ia menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Masih sama seperti dulu, kalau sedang bete terlihat lucu... Rizky.


****


"Haloo..." Suara Sandra diseberang sana.


"Iya, ada apa?" Sahut Rizky sambil menyandarkan kepalanya diatas bantal.


"Nggak papa, pengen denger suara kamu aja..." Sandra terkekeh.


"Yaudah direkam aja suaraku ini..."


"Astaga kamu ya.. Ada-ada saja... Oh iya gimana Bila, masih bete ya?" Sandra terkekeh lagi. Ia bisa membayangkan raut wajah Bila saat itu.


"Masih kayaknya tadi... Nggak bisa ya kamu nggak kekanak-kanakan begitu? "


"Siapa yang kekanak-kanakan?" Protes Sandra.

__ADS_1


"Kamu lah... Haha..."


"Enggak tuh ya, cuman ngerjain dikit...Hehe"


"Sama aja deh ya..." Rizky tak kalah ngototnya.


Obrolan mereka berakhir tiga puluh menit kemudian.


Rizky menaruh ponselnya di laci meja samping tempat tidur. Ia merebahkan kembali tubuhnya diatas ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai bagian dada. Matanya terpejam, mencoba untuk tidur.


****


Sementara di kamar Juna dan Bila. Mereka sama-sama baru selesai mandi. Tak lupa, memakai piyama tidur.


"Kenapa sih dari tadi cemberut begitu?" Sahut Juna akhirnya. Ia tak tahan lagi melihat istrinya cemberut semenjak pulang dari restoran tadi.


"Emang kelihatan ya?"


"Iyalah..." Juna mencubit pelan kedua pipinya.


"Ada apasih?" Wajah Juna berubah serius. Ia mengelus puncak kepala Bila.


"Hahaha... Nggak papa, cuman sepertinya kebanyakan makan tadi, jadi kekenyangan.." Bila mengelus-elus perutnya.


"Beneran?"


Bila mengangguk sambil tersenyum.


"Yaudah kamu tidur duluan saja, aku mau keruang kerja sebentar, tadi ada kerjaan yang belum beres..."


Juna mengecup kening Bila lalu beranjak keluar kamar menuju ruang kerjanya.


Bila menuruti kata suaminya, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2