
Kini Bila tengah memasukkan pakaian-pakaian kedalam koper. Hari ini dia pulang kerja lebih awal, untungnya kerjaannya nggak terlalu banyak. Sudah pukul 4 sore, tapi Juna belum pulang juga. Setiap menit Bila melirik jam, sambil menggerutu, karena Juna tak juga pulang. Padahal udah dibela-belain ijin pulang kerja lebih awal.
Ceklek. Pintu kamar terbuka, bersamaan dengan selesainya Bila packing baju. Juna memandangi koper dan tas yang udah tersusun rapi.
"Kamu udah selesai packing?"
"Sudah.." Bila mengamati barang-barangnya satu persatu, barangkali ada yang kelupaan.
"Punyaku juga?"
"Punyamu? Belum... Aku nggak tau mana yang mesti dibawa, bajumu aja banyak banget, kalau dibawa semua , 5 koper aja nggak muat..." Bila tertawa terkekeh. Juna menepuk jidatnya pelan.
"Ya bawa seperlunya ajalah, nggak semua, bantuin dong..." sahut Juna. Dia mulai packing beberapa pakaiannya. Hanya membawa beberapa pakaian santai dan baju kerjanya. Bila segera membantu Juna mengambil beberapa pakaian pilihannya. Satu koper muat. Bandingkan dengan milik Bila, 2 koper dan masih ada tas jinjing agak besar.
"Kamu mau kemana sih, bawa barang segitu banyaknya?" Juna terheran-heran dengan sosok wanita. Ribet kalau diajak pindah rumah.
"Astaga, ini tuh barang penting semua tauu... ada kamera, bajuku, baju kerja, sepatu, heels, tas, make up... "
__ADS_1
"Yayaya... Sekarang aku mau mandi, setelah mandi kita berangkat ..." Potong Juna. Nggak selesai-selesai kalau dengar penjelasan dari Bila.
Juna dan Bila telah selesai mandi. Eitss tapi mereka nggak mandi barengan ya, mandinya bergantian, hehe. Juna membawa 2 koper turun kebawah untuk dimasukkan dibagasi mobil. Diikuti Bila.
Setelah semua beres, mereka berpamitan dengan Ayah Bunda. Bersalaman dan berpelukan satu sama lain.
"Hati-hati yaa dijalan..." kata Bunda sambil melambaikan tangan. Mereka tersenyum dan mengangguk. Masuk kemobil Juna. Dan melaju meninggalkan halaman rumah Juna.
Masih ditengah perjalanan. Bila seperti tidak asing dengan jalan yang dilewatinya.
"Kita mampir dulu ketempat Mama, tadi pas pulang kerja ketemu sama Mas Hendra, katanya disuruh mampir, setelah menikah belum pernah pulang kesana kan?" Kata Juna terkekeh. Bila menepuk jidatnya pelan.
"Oh iya... Habisnya sibuk kerja sih... Pas hari libur capek rasanya... hehe"
"Terus ngomong-ngomong rumah barunya dimana?" sahut Bila lagi. Penasaran.
"Rahasia dong" Juna tersenyum jahil. Bila memukul bahu Juna keras, hingga membuat pemiliknya mengaduh, meringis kesakitan.
__ADS_1
"Untung ya aku pandai nyetir, kalau enggak... Tauk deh..." Juna mengelus-elus bahunya dengan satu tangannya. Masih terasa sedikit panas dan perih.
"Oh iya, waktu kita mau nikah itu, Mama sama kakakku udah tau kalau mas Rizky kecelakaan?" Sudah sejak lama Bila ingin menanyakannya, terutama Mama dan mas Hendra.
Juna masih terdiam, seperti enggan menjelaskan. Pandangannya masih lurus kedepan. Bila memandangi raut wajah Juna yang datar.
"Iya mereka udah tau... " Juna menjawab lirih, meskipun masih bisa terdengar Bila.
Jawaban yang kurang memuaskan. Yang Bila inginkan adalah sebuah penjelasan, kenapa mereka tetap melanjutkan pernikahan ini.
"Terus..." Bila masih ingin penjelasan lagi.
"Pakai logika saja deh, undangan udah disebar, udah sewa WO dan segala macam, pernikahan batal, kasihan kan Mama kamu, dan juga rugi banyak..."
"Tapi kan..."
"Sssttt aku nggak mau bahas lagi, kalau masih tanya lagi , nanti malam kubuat kamu nggak bisa tidur nyenyak..." Juna terkekeh. Bila melotot kesal. Terpaksa diam seribu bahasa.
__ADS_1