Cinta Tapi Gengsi

Cinta Tapi Gengsi
Wolulikur


__ADS_3

Sampailah mereka dirumah baru. Bila sempat takjub dengan bangunan baru yang akan ditempatinya. Lebih bagus, dan lebih besar dari rumah orang tua mereka. Saat memasuki rumah, Bila juga terkejut karena didalam rumah sudah ada 3 asisten rumah tangga. Sedemikian rupa Juna mempersiapkan semuanya.


"Sejak kapan kamu mempersiapkan semua ini?" Kini mereka sudah ada didalam kamar. Setelah menaruh beberapa koper, Bila berbaring ditempat tidur. Sedikit lelah. Juna duduk disamping Bila.


"Udah lama sih, Aku udah lama ngincer rumah ini untuk masa depan istri dan juga anak-anakku nanti" Juna tersenyum lebar.


Deg. Bila terkesiap. Membuatnya salah tingkah.


Jangan-jangan dia udah jatuh cinta sama aku. Astaga. Oh iya. Pil kontrasepsiku, jangan sampai dia tahu. Bahaya. Bisa marah besar nanti dia kalau tahu aku meminumnya. Bila.


Sudah hampir sebulan mereka tinggal dirumah baru. Kehidupan mereka terlihat biasa saja. Bila mulai terbiasa menerima Juna sebagai suaminya. Dia juga terbiasa menjalani rutinitas sebagai seorang istri. Menyiapkan makan, pakaian dan lain-lain. Meskipun keahlian memasaknya belum sempurna, dan yang masak paling sering adalah asisten rumah tangganya. Dan satu lagi rahasia yang belum Juna ketahui adalah tentang pil kontrasepsi milik Bila. Dia masih terus mengkonsumsinya. Bayang-bayang Rizky masih menghantuinya. Barangkali ada kesempatan untuk bisa kembali lagi padanya. Maka dari itu Bila belum ingin hamil dan mempunyai anak. Tapi tanpa disadari selama ini, sebenarnya dia mulai jatuh cinta dengan Juna. Rasa berdebar yang tiba-tiba ketika berada didekat Juna, ketika dipeluknya, diciumnya. Ketika dia memberikan perhatian padanya. Tapi dia berusaha menepisnya.


Sedangkan Juna, sebenarnya dia sudah menyukai Bila sejak lama, hanya saja dia belum yakin kalau Bila juga menyukainya. Mereka masih sama-sama bungkam. Juna ingin mendengar dulu pengakuan dari Bila.


"Kamu mau kemana?" Setelah Juna sarapan dia berpakaian rapi, memakai celana jeans panjang dan juga kaos lengan pendek.

__ADS_1


"Mau kerumah Bunda, mau ikut?" sahut Juna.


"He'em boleh deh... Aku ganti baju dulu..." Bila segera mengambil pakaian dilemari. Dan mengganti bajunya.


"Nggak usah cantik-cantik... Biasa saja deh... Kelamaan..." Seru Juna, membuat Bila melotot sebal.


Bila memakai bedak tipis diwajahnya dan mengoleskan lipstik tipis dibibirnya. Menyambar tas kecilnya.


"Udah.. Yuk.." Juna memandangi Bila tanpa berkedip. Lalu memalingkan pandangannya.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai dirumah orang tua Juna.


Pintu rumah Orang tua Juna terbuka sedikit, mereka langsung masuk begitu saja. Pasti mereka lagi menonton tv di hari libur begini. Benar sekali ada canda tawa diruang tv. Ada Ayah , Bunda dan satu orang lagi, nggak asing dimata Bila.


Bila berhenti , mengamati sesosok orang laki-laki yang sangat dikenalnya. Rizky. Dia tertawa riang bersama Ayah dan juga Bunda. Hawa dingin mulai menyelimuti tubuh Bila. Rasanya dia ingin menghambur kepelukannya. Tapi suasananya berbeda. Dia ingin melarikan diri saja.

__ADS_1


Sebelum niatnya terjadi, Juna sudah menggandeng tangan Bila yang gemetaran terlebih dulu. Menariknya, mendekati kedua orang tuanya dan kakaknya.


"Ayah, Bunda, kakak..." Seru Juna. Mengagetkan mereka bertiga. Sontak langsung menengok kearah sumber suara. Bunda tersenyum.


"Eh kalian udah lama datangnya?" Bunda menghampiri Juna dan Bila mengajaknya duduk di sofa.


"Baru aja sih Bund...hehe. Kakak kapan pulangnya? " tanya Juna. Padahal sebenarnya dia sudah tau kalau Rizky sudah pulang seminggu yang lalu.


"Seminggu yang lalu..." Rizky tersenyum getir. Menatap sendu kearah Bila. Namun Bila hanya menunduk, tidak berani menatap Rizky.


Pikirannya masih ruwet. Ingin sekali rasanya dia menyampaikan unek-unek yang ada dikepalanya saat ini.


Lihatkan dia baik-baik saja sekarang. Dia sehat. Lalu bagaimana aku bisa menjalani kehidupanku sekarang dengan tenang? Bila.


Mungkin maaf saja tak cukup. Tapi aku benar-benar minta maaf. Semua demi kebaikanmu. Rizky.

__ADS_1


Suasana diruangan sempat terasa canggung sebentar. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2