
"Tuan Sean? maksud anda Tuan Sean Pranata?" tanya Ammar pada Dokter tersebut.
Zulaikha dan Sita yang tadinya melihat kearah Dokter, memalingkan wajah mereka kearah Ammar saat mendengar apa yang dia ucapkan.
"benar, Tuan! kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter itu kemudian setelaj menjawab pertanyaan dari Ammar.
Mendengar jawaban Dokter tersebut, Ammar langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sekretaris pribadinya untuk segera datang kerumah sakit saat ini juga.
"ada apa Mas? apa Mas mengenalnya?" Zulaikha merasa bingung dan penasaran dengan reaksi yang diberikan oleh suaminya, dia jadi bertanya-tanya siapakah sosok yang saat ini sedang berada di dalam ruang UGD.
Ammar menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Zulaikha. "Dia rekan bisnisku, Sayang. dan dia itu pengusaha nomor satu di negara ini."
"Apa?" Zulaikha dan Sita membulatkan mata mereka saat mendengar penjelasan tentang sosok Sean Pranata, mereka tidak menyangka kalau lelaki itu adalah pengusaha nomor satu yang ada dinegara mereka saat ini.
"apa, apa Mas tidak salah?" Sita bertanya dengan gugup, dia merasa sangat takut karna telah berurusan dengan orang penting yang pastinya tidak akan tinggal diam mengenai kejadian ini.
"tidak, Sita! Mas tidak mungkin salah, lagipula sudah beberapa kali Mas menjalin hubungan kerja sama dengannya," jawab Ammar, dia lalu sedikit merapikan bajunya dan hendak berlalu masuk ke dalam ruang UGD itu.
"Tunggu, Mas! kau mau masuk?" Zulaikha menahan tangan Ammar yang sudah melangkahkan kaki, dia jadi gelisah karna mengetahui jati diri lelaki itu.
"ada apa, Ammar?"
Ammar yang ingin menjawab ucapan Zulaikha kalah cepat dengan kedatangan Rafa, sekretaris pribadinya yang tadi dia perintahkan untuk datang kerumah sakit itu.
"kau sudah sampai, Kak? Ayo kita masuk!" ajak Ammar.
Rafa yang tidak mengetahui ada urusan apa Ammar dan keluarganya berada dirumah sakit langsung saja mengikuti apa yang Ammar perintahkan, dia ikut masuk ke dalam ruangan yang juga dimasuki oleh lelaki itu.
Zulaikha dan Sita yang melihat Ammar dan Rafa masuk ke dalam ruangan hanya terpaku ditempat mereka, mereka lalu saling lirik dengan pandangan seakan-akan bertanya apakah mereka harus masuk juga atau tidak.
Baru saja Ammar dan Rafa membuka pintu, mereka sudah langsung berpapasan dengan para petugas medis yang akan memindahkan Sean keruang perawatan.
Sean yang sedang terbaring dia atas banker rumah sakit mengerutkan keningnya saat melihat Ammar dan juga Rafa, dia lalu mendudukkan tubuhnya dengan pandangan bertanya-tanya kenapa dua lelaki itu ada dihadapannya saat ini.
"Anda baik-baik saja, Tuan Sean?" tanya Ammar sembari menganggukkan kepalanya, sementara Rafa hanya diam membisu karna terkajut dengan seseorang yang ada dihadapannya saat ini.
__ADS_1
"Tuan Ammar? apa yang sedang anda lakukan di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Ammar, Sean malah balik bertanya padanya.
"em ... maaf Tuan, sebelumnya lebih baik Tuan dipindahkan keruang perawatan dulu, karna ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Anda," ucap Ammar, dia menyenggol lengan Rafa untuk mengembalikan kesadaran lelaki itu.
"be-benar, Tuan! mari, saya juga akan ikut mengantar Tuan," Rafa yang gelagapan karna senggolan lengan Ammar terlihat salah tingkah, sementara Sean hanya menganggukkan kepalanya saja dan kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang.
Kemudian para petugas medis melanjutkan pekerjaan mereka untuk memindahkan Sean keruang perawatan, dengan diikuti oleh Ammar dan juga Rafa dibelakang mereka.
"sebentar, Ammar! kita harus bicara," bisik Rafa, beribu pertanyaan sedang berputar-putar dalam kepalanya saat ini.
"kita bicara nanti, Kak! ada masalah yang lebih penting dari ini," cegah Ammar, dia menyelesaikan masalah Sita terlebih dahulu karna memang masalah ini adalah masalah yang sangat penting.
Rafa menghela napas kasar, dia lalu menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan apa yang Ammar ucapkan, walaupun dia sudah penasaran setengah mati saat ini.
Zulaikha dan Sita yang masih terpaku di depan pintu terjingkat kaget saat para petugas medis membawa Sean keluar ruangan, mereka lalu memberi jalan untuk petugas medis itu dan menjauh beberapa langkah.
Sean tersenyum lebar saat melihat Sita masih berada ditempat itu, dia lalu menyuruh petugas medis untuk berhenti sejenak.
"kau masih di sini, honey?"
"maaf Tuan, apa anda mengenal adik saya?" tanya Zulaikha, dia yang sangat terkejut memilih untuk langsung bertanya pada Sean sementara yang lainnya menajamkan telinga mereka untuk mendengar jawaban dari lelaki itu.
"adik? dia, adikmu?" Sean balik bertanya pada Zulaikha dengan nada suara tingga, bahkan Zulaikha dan Sita kini mulai sedikit takut dengan lelaki itu saat ini.
"maaf, Tuan! ini istri saya, dan yang ini adalah adik ipar saya," Ammar yang melihat Sean bernada tinggi beralih angkat bicara, dia berdiri tepat dihadapan Sean dan bertatapan langsung dengannya.
Sean terdiam dengan mata yang menatap tajam kearah Ammar, dia lalu melihat kearah Zulaikha dan pandangannya berhenti kearah Sita yang saat ini sedang menundukkan pandangannya.
"apa selama ini Sofia tinggal bersama mereka?"
Untuk sepersekian detik, terjadi keheningan diantara mereka. Sampai Sean memberi arahan pada petugas medis untuk membawanya keruang perawatan.
"memang ada sesuatu yang harus kita bicarakan, Tuan Ammar! silahkan datang ke perusahaan Saya besok pagi," ucap Sean sebelum dia menjauh dari Ammar dan yang lainnya.
"baik, Tuan!" Ammar menganggukkan kepalanya untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh Sean, dia lalu berjalan kearah kursi dan duduk dikursi tersebut.
__ADS_1
Zulaikha dan Sita beralih duduk di kursi yang sama dengan Ammar, sementara Rafa berdiri dihadapan Ammar dengan tatapan tajam kearah lelaki itu.
"sekarang katakan padaku, Ammar! sebenarnya ada apa ini?" tanya Rafa dengan tidak sabar, dia melirik kearah Zulaikha dan Sita untuk meminta jawaban dari mereka.
Akhirnya Sita kembali menceritakan apa yang terjadi pada Rafa, dan Rafa mendengarkannya dengan sangat serius dan tenang.
"kenapa harus dia? padahal ada berjuta-juta manusia di negara ini!" ucap Rafa setelah Sita selesai menceritakan semuanya.
Sita meremmas jemari tangannya, dia yakin kalau saat ini dia sedang membuat masalah besar dengan seseorang yang seharusnya tidak dia dekati.
"semuanya sudah terjadi, Mas! dan kita juga tidak pernah menginginkan hal seperti ini. Lagipula, kenapa Mas harus sekhawatir itu," ucap Zulaikha sembari menggenggam tangan Sita, dia tau kalau adiknya itu pasti sedang gelisah saat ini.
"tentu saja aku harus khawatir, dia itu bukan seseorang yang bisa kita sentuh. Dia juga bukan seperti kita yang bisa langsung memaafkan orang lain, dia itu-"
Rafa tidak lagi melanjutkan ucapannya saat lengannya dicengkram oleh Ammar, Ammar menggelengkan kepalanya seolah-olah sedang memberi perintah agar Rafa tidak melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
Rafa menatap Ammar dengan tajam, dia lalu menghembuskan napas kasar untuk melampiaskan kekesalannya.
"sudahlah, semuanya sudah terjadi. Yang harus kita lakukan saat ini adalah meminta maaf pada Tuan Sean, aku yakin kalau Tuan Sean pasti akan melupakan kejadian ini," ucap Ammar, dia mencoba untuk menenangkan Zulaikha dan Sita yang saat ini pasti sedang merasa gelisah.
"ya Allah, sepertinya aku sudah melakukan masalah besar. Aku mohon berikanlah jalan keluar untuk kami, dan berikanlah kebaikan dihati Tuan Sean agar mau melupakan kejadian ini,"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya temen aku, dijamin seru dan bikin kalian betah buat baca 😍
__ADS_1