
Setelah lama mendengar segala racauan dan kesedihan Syifa, Defin sudah bisa menebak alasan yang menyebabkan wanita itu menanggis sampai seperti itu.
Sementara Syifa yang sudah mulai tenang terlihat mengangkat kepalanya, dia mengusap air mata yang masih membekas diwajahnya tanpa sadar kalau saat ini ada orang lain yang berdiri tepat dihadapannya.
"apa kau sudah puas menangis?"
Syifa terjingkat kaget saat mendengar suara baritone seseorang yang membuatnya langsung mendongakkan kepalanya, mata Syifa melotot tajam saat melihat Defin sedang berdiri tepat dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Syifa bangun dan menatap Defin dengan tajam, dia lalu melihat kesekeliling tempat karna merasa khawatir kalau ada orang lain selain mereka ditempat itu.
"tenang saja, tidak ada orang lain selain kita ditempat ini," ucap Defin yang seolah-olah tau kalau Syifa khawatir ada orang lain ditempat itu.
Syifa kembali melihat kearah Defin, matanya berkilat penuh emosi pada lelaki yang saat ini sedang mengoceh dihadapannya.
"apa yang sedang kau lakukan di sini?" Syifa kembali mengulang pertanyaannya karna belum mendapat jawaban dari Defin, sementara Defin sendiri malah tersenyum tipis melihat wajah garang Syifa.
"Aku tidak sengaja lewat, dan mendengar ada seorang wanita menangis dengan begitu menyedihkan."
Mata Syifa membulat sempurna saat mendengar apa yang Defin ucapkan, dia tidak habis pikir dengan apa yang lelaki itu ucapkan dan lakukan saat ini.
Defin terlihat seperti dua orang yang sangat berbeda dengan Defin yang dulu dia kenal, bahkan selama menikah dengan Zulaikha, hanya beberapa kali saja Syifa berbicara dengan lelaki itu.
Syifa lalu mulai menerka-nerka apakah Defin mendengar segala keluh kesahnya atau tidak, dan mungkin saja lelaki itu juga tau dengan apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"tidak! dia tidak mungkin tau semuanya,"
karna merasa tidak ada hal penting lagi yang harus dia bicarakan dengan Defin, Syifa memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan kembali ke dalam rumah sebelum ada orang lain yang melihatnya sedang berdua dengan lelaki itu.
"aku tidak menyangka kalau kau menyimpan perasaan untuk Ammar!"
Syifa yang sudah berbalik dan hendak pergi dari tempat itu langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar apa yang Defin ucapkan, dia kembali melihat kearah lelaki itu dengan wajah pias.
__ADS_1
"Kau hebat! kau wanita yang bisa mengendalikan perasaanmu untuk orang yang kau sayangi."
Syifa yang tadinya ingin membantah ucapan Defin kalah cepat dengan mulut lelaki itu, dia tercengang saat memikirkan apa yang Defin ucapkan.
Sementara Defin sendiri sudah berjalan kearah mobilnya, dia masuk kemobil itu dan berlalu pergi dari rumah Ridwan dengan perasaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
"ternyata kisah cintamu rumit juga ya, Syifa," gumam Defin sembari tersenyum tipis saat mengingat apa yang baru saja terjadi pada Adik dari mantan istrinya.
Namun, seketika senyum Defin menghilang saat merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi padanya.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa aku peduli pada gadis pemarah itu?" Defin menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pemikiran-pemikiran aneh yang bersarang dikepalanya.
Sementara itu, Zulaikha dan Ammar masih sibuk membagikan momen kebahagiaan mereka dengan semua anggota keluarga.
Semua orang mengucapkan selamat pada mereka berdua dan mendo'kan semua hal baik untuk rumah tangga mereka.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Keluarga besar Ammar memutuskan untuk kembali kerumah Yusuf karna memang mereka berkumpul dirumah lelaki itu, sementara sebagian keluarga Zulaikha juga ikut pamit pulang kerumah mereka masing-masing.
Kini, tinggallah Zulaikha dan Ammar yang masih duduk disofa ruang tamu ruangan itu. Mereka berdua terlihat canggung bahkan hanya untuk mengobrol seperti biasa saja.
"Pengantin baru kok masih di sini sih? apa mau kayak gituan diruangan ini?"
Ammar dan Zulaikha langsung melihat kearah sumber suara saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Sita, sementara Sita sendiri langsung tertawa terbahak-bahak dengan ditemani oleh Syifa yang juga sedang sibuk menahan tawanya sampai terjongkok di samping kursi.
Mata Zulaikha melotot dengan sempurna pada kedua Adiknya yang telah menggodanya dan Ammar, sementara Ammar sendiri sedang memalingkan wajahnya ke arah lain karna merasa malu dengan ucapan Adik iparnya itu.
"benar itu, Mbak! apa Mbak mau-" Syifa tidak dapat melanjutkan ucapannya saat sepasang mata elang milik seorang lelaki tengah memelototinya, dia lalu menutup mulutnya dengan rapat sebelum lelaki itu memarahinya.
"kenapa kalian tidak istirahat?" tanya Ridwan, sang pemilik mata elang.
Dia melirik kearah Sita dan Syifa yang sedang menundukkan kepala mereka, tetapi Ridwan masih bisa mendengar suara tawa mereka walaupun kedua Adiknya itu berusaha untuk menahannya.
__ADS_1
"Ka-kalau gitu aku istirahat dulu, Mas!" Zulaikha bangkit dan berjalan kearah tangga, dia benar-benar merasa malu karna ulah kedua Adiknya itu.
Sementara Ammar masih berdiam diri, dia terlihat bingung apakah harus ikut bersama Zulaikha atau tetap ditempat itu bersama dengan Ridwan.
"ayo, Ammar! kau tunggu apa lagi? apa tidak mau perang malam ini?"
blush, wajah Ammar seketika langsung memerah saat mendengar godaan yang dilayangkan oleh Kakak iparnya itu. Sementara Zulaikha yang masih bisa mendengar suara Ridwan langsung mempercepat langkah kakinya agar segera pergi dari tempat itu dengan wajah merah seperti tomat.
Ammar yang sudah benar-benar merasa malu langsung undur diri dan menyusul langkah Zulaikha, sangking cepatnya dia berjalan, dia sampai hampir terjungkal jika saja tangannya tidak berpegangan pada pinggiran tangga.
Tawa Syifa dan Sita pecah begitu Ammar menghilang dari tempat itu, mereka yang sedari tadi sudah sekuat tenaga menahan suara mereka langsung lepas kendali membuat Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya Allah, Mas! Mas lihat tadi wajah Mas Ammar, lucu sekali, pppfftt" Sita menutup mulutnya yang tidak bisa diajak kerja sama karna terus saja tertawa, sementara Syifa sendiri juga sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karna terlalu banyak tertawa.
"kok, Mas pulak! kan tadi kalian dulu yang menggoda mereka," cibir Ridwan, dia juga ikut terkekeh pelan melihat kedua Adiknya itu.
"tapi, ada apa denganmu, Syifa? Mas perhatikan beberapa hari belakangan ini kau terus saja melamun dan juga menangis, apa ada sesuatu yang terjadi?"
tawa yang sejak tadi menghiasi bibir Syifa seketika lenyap dan berganti dengan ketegangan, dia langsung menoleh kearah Ridwan saat lelaki itu mendekat kearahnya.
"Mas sering melihatmu merenung, kadang Mas juga mendengar tangisanmu dimalam hari. Apa ada masalah?" tanya Ridwan dengan lembut, dia mengusap kepala Syifa dengan sayang seolah-olah mengatakan kalau apapun yang terjadi, dia akan selalu berada di samping wanita itu.
Mendengar ucapan Ridwan, mata Syifa langsung berkaca-kaca. Air matanya kini bahkan langsung terjun bebas membasahi wajahnya yang sedang tertunduk dihadapan sang Kakak.
"katakan! katakan semuanya pada Mas, Dek!"
•
•
•
__ADS_1
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘