
"haha, Ammar. Kena kau!" Rafa tersenyum senang saat mendengar ungkapan yang baru saja terlontar dari mulut Ammar, dia yang sudah bosan mendengar curhatan lelaki itu merasa bahagia saat berhasil membuat Ammar mengungkapkan perasaan walau dengan cara seperti itu.
Suasana yang tadinya penuh dengan keributan mendadak jadi sepi, Ammar yang baru menyadari dengan apa yang dia ucapkan tidak berani melihat kearah Zulaikha. Dia mengalihkan pandangannya kearah lain agar tidak bersitatap mata dengan wanita itu.
Sementara Zulaikha sendiri juga merasa sangat malu, dadanya terus berdebar kencang karna ucapan Ammar yang tidak dia ketahui maksudnya.
"Ka-kalau gitu, aku duluan keluar!" Zulaikha bergegas keluar dari ruangan itu meninggalkan Ammar dan Rafa yang terdiam ditempat mereka, Zulaikha merasa sangat malu dengan apa yang Ammar ucapkan.
"kurang ajar! gara-gara Abang aku jadi kelepasan, kan!" Ammar berteriak dengan frustasi sembari memukul-mukul lengan Rafa membuat lelaki itu tertawa dengan lebar.
Wajah Ammar sudah memerah seperti tomat dengan debaran jantung yang terus menguat saat ini, dia benar-benar merasa malu dengan Zulaikha dan tidak tau harus mengatakan apa pada wanita itu.
"Bagaimana ini? apa yang harus aku katakan?" Ammar menjambak-jambak rambutnya karna merasa frustasi dengan apa yang sedang terjadi, dia juga memukul mulutnya yang sudah lancang mengeluarkan kata-kata keramat yang selalu dia simpan erat dalam hatinya.
"kenapa kau kayak gini sih, baguskan kalau dia tau bagaimana perasaanmu!" celetuk Rafa membuat Ammar semakin gelisah, ingin sekali dia mencekik leher lelaki itu jika saja Rafa bukan orang terdekatnya.
"Abang juga taukan bagaimana kondisi Zulaikha, dia berbeda dengan wanita-wanita lain!"
"lalu, mau sampai kapan kau menyembunyikan perasaanmu? hah? sampai nanti Zulaikha menganggapmu sebagai adiknya?" sambar Rafa, dia sudah geram melihat Ammar yang tetap bungkam dan tidak mau mengungkapkan isi hatinya.
Ammar menghela napas kasar, dia lalu menghempaskan pantatnya ke atas sofa dengan perasaan yang tidak menentu. Dia tidak tau harus bagaimana menghadapi Zulaikha saat ini.
"ya Allah, bagaimana ini? apa aku langsung saja mengungkapkan perasaanku? tapi, bagaimana jika Mbak Zulaikha merasa tidak nyaman?" Ammar benar-benar merasa sangat pusing, niat hati ingin lebih dekat dengan Zulaikha, malah berakhir dengan pengungkapan isi hati yang tidak disengaja.
"jodoh itu ditangan Allah, Mar! jika memang dia adalah jodohmu, Allah pasti akan menunjukkan jalan pada kalian. Namun, jika memang kalian tidak berjodoh. Walaupun nantinya kau mengungkapkan isi hatimu diwaktu yang tepat, percayalah bahwa kalian tidak akan pernah berakhir dipelaminan," ucap Rafa, dia menepuk pelan pundak Ammar sembari berjalan keluar.
"tapi, bagaimana jika pengakuanku itu menjadi beban bagi Mbak Zulaikha?"
__ADS_1
Rafa yang sudah berada di depan pintu menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan Ammar, dia lalu berbalik dan tersenyum kearah lelaki itu.
"percayakan saja semuanya pada Allah, Mar! Allah lah yang Maha mengetahui segalanya, bukannya kau yang dulu sering mengingatkanku tentang itu?" ucap Rafa, kemudian dia melanjutkan langkah kakinya untuk pergi menemui Zulaikha yang pastinya sudah kering menunggu kedatangan mereka.
Ammar terdiam saat mendengar perkataan terakhir Rafa, dia mengusap wajahnya dengan kasar sembari menyesali kegelisahaan yang sedari tadi menyelimuti hatinya.
"ya Allah, maafkan aku! Maafkan aku yang telah berburuk sangka pada semua takdirMu, maafkan hambamu ini yang tidak percaya dengan semua kekuasaanMu. Maafkan aku ya Allah!" Ammar mengucap istighfar beberapa kali untuk menyadarkan dirinya kalau semua telah ditentukan oleh Allah, dan sebagai manusia dia hanya perlu berusaha dengan sekuat mungkin, dan sisanya biarlah Allah yang mengambil alih.
Sementara itu, Zulaikha yang sedang duduk dilobi perusahaan merasa benar-benar gelisah. Rasa lelah dan lapar yang sedari tadi dia rasakan tiba-tiba saja hilang dimakan oleh rasa malu, gugup, gelisah dan semua rasa yang memenuhi hatinya saat ini.
Beberapa kali Zulaikha berusaha untuk tidak memikirkan ucapan Ammar, tetapi hatinya benar-benar tidak bisa melupakan semua itu.
"ya Allah, apa yang harus aku lakukan? haruskah aku melupakan ucapan Ammar? dan bersikap seperti tidak ada sesuatu yang terjadi? atau aku harus meminta penjelasan padanya?" Zulaikha benar-benar tidak tau harus bagaimana menghadapi Ammar saat ini.
"kamu tadi lihat jugakan, wanita yang ada dibelakang Pak Ammar? dia mirip dengan wanita yang kemarin itu dibawa ke sini!"
"tunggu! kenapa aku penasaran? semua itukan tidak ada hubungannya denganku!" Zulaikha menggelengkan kepalanya untuk mengusir segala bisikan setan yang berhasil menghasutnya, dia lalu beranjak bangun dan ingim berlalu ke kantin perusahaan.
"mereka memang mirip, tapi enggak sama! kalau yang kemarin itu lebih muda dan bertubuh kecil, kalau yang ini kan tinggi. Kalau enggak salah namanya Zulaikha!"
Zulaikha yang sudah selangkah meninggalkan kursi kembali menghentikan langkah kakinya saat mendengar namanya disebut oleh dua wanita itu, dia sedikit melirik kearah mereka tanpa disadari oleh dua wanita itu.
"katanya lagu nih ya, Zulaikha itu akan menjadi sekretaris Pak Ammar. Enak sekali kan!" tambah wanita itu, mereka tidak sadar kalau saat ini orang yang sedang mereka ceritai sedang berada tepat di samping mereka.
"masak? aah, aku kan jadi iri. Aku juga mau kali jadi sekretarisnya Pak Ammar! udah baik, ramah, ganteng, dan kaya lagi. Paket lengkap deh pokoknya!" ucap mereka lagi tidak ada habisnya, membuatnya Zulaikha sedikit marah karna menurutnya tidak baik menceritakan pimpinan mereka sendiri.
"tapi, menurutmu siapa yah perempuan yang semalam dibawa Pak Ammar? nampaknya kayak masih kuliah gitukan? terus tau enggak, dia keluar dari ruangan Pak Ammar dengan wajah merah. Pokoknya kayak habis melakukan sesuatu gitu, duuuh otakku dibuat traveling sama dia!"
__ADS_1
Zulaikha yang sudah tidak tahan mendengar segala ocehan mereka memutuskan untuk menegurnya, tetapi baru saja berbalik dan hendak melangkah, tiba-tiba suara seseorang sudah lebih dulu mengagetkannya.
"apa kalian tidak punya pekerjaan?"
Zulaikha dan kedua wanita itu terjingkat kaget saat mendengar suara Rafa, begitu juga dengan beberapa orang yang melintas ditempat itu membuat mereka terdiam sembari melirik kearah lelaki yang wajahnya terlihat sangat menyeramkan saat ini.
Rafa mendekat kearah dua wanita yang sejak tadi sibuk menggosipi pimpinan mereka, sementara Zulaikha hanya diam dengan mulut terbuka karna melihat keberadaan Rafa yang entah sejak kapan berada ditempat itu.
"apa kalian dibayar untuk menceritakan pimpinan kalian sendiri?" sentak Rafa, kedua wanita yang saat itu berada dihadapannya langsung menunduk takut dengan tubuh gemetaran.
"ma-maaf kan kami Pak, kami tidak bermaksud-"
"tidak bermaksud kau bilang? hah? apa kalian tidak sadar kalau Ammar lah yang selama ini mengisi perut kalian? bukannya berterima kasih, kalian malah menceritakan yang tidak-tidak tentangnya!" lanjut Rafa dengan emosi yang sudah meletup-letup, dia sangat tidak suka melihat orang yang sibuk menceritakan orang lain yang tidak ada hubungannya dengan mereka.
"maafkan kami Pak, kami bersalah. Kami janji tidak akan melakukan itu lagi, maafkan kami Pak. Tolong maafkan kami," mereka berdua menangia sesenggukan dan memohon agar lelaki itu memaafkan kesalahan mereka, karna Rafa bisa saja memecat mereka saat ini juga.
"kalian tidak pantas-"
"sudahlah Bang, mereka sudah meminta maaf!" tiba-tiba Ammar muncul ditempat itu karna mendengar dari salah satu karyawan kalau Rafa sedang marah-marah dilobi perusahaan.
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘