
"Papa meninggal, Papa ikut meninggal bersama Papa besar!"
Seketika suasana menjadi hening dan sunyi akibat perkataan Aziz, semua orang merasa terkejut dengan apa yang bocah kecil itu katakan.
Terutama Ibu Dijah yang merasa syok saat mendengar ucapan cucunya, tubuhnya langsung terasa lemas dan akan terjatuh jika tidak segera ditahan oleh Ammar.
"Ya Allah, Bu!" Ammar memeluk tubuh Ibunya saat Ibu Dijah akan terjatuh, sementara Zulaikha merasa sangat terkejut dan segera memegang lengan wanita paruh baya itu.
"Bawa Ibu ke sana, Mar!" Zulaikha menunjuk ketempat Ammar dan Ibunya duduk tadi, Ammar segera membawa Ibu Dijah dan mendudukkannya dikursi. Sementara Zulaikha langsung masuk untuk mengambil minyak kayu putih untuk dioleskan ketubuh Ibu Dijah.
"Minum dulu, Bu!" ucap Ammar sembari membantu Ibunya untuk minum, terlihat Ibu Diana sangat lemas dengan wajah pucat saat ini.
Zulaikha yang sudah mengambil apa yang dia inginkan kembali bergabung dengan mereka, dia mendudukkan Aziz di kursi depan Ammar lalu segera beralih mendekati Ibu Diana.
Zulaikha menggosokkan minyak yg dia bawa ketangan dan kaki wanita paruh baya itu, lalu menggosok leher dan bahu serta berakhir dikepala Ibu Dijah.
Ammar sangat terharu dengan kepedulian yang diberikan Zulaikha pada Ibunya, dia semakin cinta dan mengagumi sosok wanita cantik itu yang selalu membuatnya berdebar-debar dan salah tingkah.
"Zulaikha!" Ibu Diana memegang tangan wanita itu saat Zulaikha mengusapkan minyak ke lehernya membuat Zulaikha memandangnya dengan tanda tanya.
"menikahlah dengan Ammar!"
Ammar dan Zulaikha tersentak kaget saat mendengar apa yang wanita paruh baya itu katakan, mereka lalu saling lirik dengan wajah memerah karna merasa terkejut dengan ucapan Ibu Dijah.
"Zulaikha-"
"Bu!" Ammar memegang lengan Ibunya agar wanita paruh baya itu tidak mengatakan apapun lagi pada Zulaikha, dia tidak mau membebani Zulaikha dan membuat wanita itu menjadi sedih.
"Papa, aku bertemu dengan Papa besar!"
tiba-tiba Aziz yang sejak tadi berdiam diri mulai angkat suara, sepertinya bocah itu ingin menceritakan maksud dari ucapannya tadi.
"benarkah? apa Papa besar mengatakan sesuatu pada Aziz?" tanya Ammar, dia beralih mengangkat putranya dan mendudukkan bocah itu dipangkuannya.
__ADS_1
"Papa besar bilang mau pergi bersama Papa, tapi Aziz enggak boleh ikut!" ucap Aziz membuat air mata Ibu Dijah runtuh seketika.
Dia kembali mengingat kenangan bersama putra sulungnya dulu, wajah tampan dan teduhnya Azzam selalu terbayang dalam ingatannya setiap waktu.
Jika dibandingkan dengan Ammar, wajah Azzam jauh lebih terlihat tegas dan tenang sedangkan wajah Ammar lebih pada kalem dan tampak kekanakan walaupun sama-sama sangat tampan.
"begitu ya Sayang, terus Papa besar enggak ngasi apa-apa, untuk Aziz?" tanya Ammar kembali, dia sedang mencoba untuk memberikan ketenangan untuk Ibunya.
"enggak! cuma kata Papa besar, dia bilang kalau sebentar lagi Aziz akan punya Mama," jawab Aziz, ucapannya itu berhasil menghentikan tangis Ibu Dijah yang saat ini menatap Zulaikha dengan harap.
Sementara Ammar sendiri hanya tersenyum dan mengaminkan apa yang diucapkan Aziz tadi, dia melirik Zulaikha yang sedang melihat kearah Aziz.
"terus, kenapa Aziz bilang kalau Papa meninggal sama seperti Papa besar?" tanya Ammar kembali, dia penasaran dengan mimpi yang Putranya itu alami.
Aziz tampak berpikir sejenak, bayang-bayang kedua orangtuanya melintas dalam ingatan walaupun sebenarnya dia tidak tau sosok sepasang wanita dan pria yang selalu masuk ke dalam mimpinya.
"karna Papa besar sudah meninggal, dan Papa besar ngajak Papa pergi. Berarti Papa juga meninggal!" jawab Aziz dengan menggebu-gebu, membuat Ammar tertawa kecil karna ucapannya.
Ibu Diana bernapas lega saat mendengar apa yang Aziz ucapkan, rasa sakit dan khawatir dalam hatinya perlahan mulai menghilang.
Sepanjang kaki Zulaikha melangkah, dia terlihat sedang malamun memikirkan apa yang Ibu Dijah katakan tadi. Sejujurnya dia ingin menanyakannya pada Ibu Dijah, tapi kamudian dia mengurungkan niatnya karna pasti dia sendiri yang akan malu nantinya.
Bruk, sangking khusyuknya dalam lamunan. Zulaikha tidak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berjalan berlawanan dengannya.
"astaghfirullah, maaf Mbak!" seru Zulaikha, dia lalu membantu gadis itu untuk bangun karna tadi sempat terduduk ditanah.
"tidak apa-apa,.Mbak!" jawab gadis tersebut dengan ramah dan senyum manisnya.
"apa Mbak, yang namanya Zulaikha?" lanjut gadis itu membuat Zulaikha sedikit kaget.
Zulaikha mencoba untuk mengingat-ingat sosok wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini, tetapi nihil. Dia merasa tidak pernah kenal dengan gadis itu.
"benar, aku Zulaikha!" jawab Zulaikha, dia lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan gadis itu.
__ADS_1
Gadis yang tadi bertabrakan dengan Zulaikha membalas uluran tangannya "Aku Mikayla, Mbak! panggil saja Mika.!
Kemudian mereka saling melepaskan pegangan tangannya, dan melempar senyum kemasing-masing orang.
"apa sebelumnya kita sudah saling kenal?" tanya Zulaikha, dia penasaran dari mana wanita itu tau namanya.
Mika menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zulaikha. "Saya aunty nya Aziz, dia selalu bercerita mengenai Mbak. Maka dari itu saya langsung mengenali Mbak pada pertemuan pertama." Senyum indah terbit diwajah Mika saat menceritakan tentang Aziz.
"benarkah? senang bisa berkenalan dengan Mbak!"
"enggak-enggak! jangan panggil Mbak dong, aku ini seumuran dengan Ammar Mbak. Pasti Mbak lebih dewasakan dari kami?" ucap Mika, dia tahu kalau Zulaikha sudah berumur hampir 30 tahun.
"aah, kalau begitu aku panggil Mika saja ya!" ucap Zulaikha kemudian.
Setelah sedikit berbincang, Zulaikha pamit untuk pulang kerumahnya sedangkan Mika berlalu masuk ke dalam rumah Ammar.
"pantas saja Ammar bisa jatuh cinta denganmu, Mbak! aku saja yang baru pertama kali bertemu denganmu sudah bisa melihat kebaikan dan kelembuatan hatimu," gumam Mika sembari berbalik dan melihat punggung Zulaikha, kemudian dia meneruskan langkah kakinya untuk menemui Aziz.
Sudah lama Mika tidak mengunjungi Aziz karna disibukkan dengan segudang pekerjaan, dia hanya berkomunikasi lewat ponsel saja jika merasa rindu dengan keponakannya itu.
Zulaikha langsung berkutat didapur saat sudah sampai dirumahnya, dia menyiapkan sayuran dan ayam yang akan menjadi menu makanan mereka malam ini.
Tidak berselang lama, datanglah kedua adiknya yang baru saja menutup toko. Karna cuaca yang tiba-tiba mendung dan berangin, mereka memutuskan untuk menutup toko lebih awal.
"oh yah Mbak, aku sudah menyelesaikan semua proses pendaftaran perkuliahanku. Jadi mulai senin besok, aku sudah harus masuk," ucap Syifa, dia merasa bersemangat karna kembali menempuh pendidikan.
Zulaikha menganggukkan kepalanya untuk menjawab pernyataan Syifa, lalu mereka kembali fokus menyiapkan makanan yang sudah hampir selesai.
•
•
•
__ADS_1
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘