Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 42. Rencana Licik


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan pecahan guci, Zulaikha dan kedua adiknya bergegas untuk masuk ke dalam rumah, terlihat Ammar sedang memangku Aziz yang tidur dengan nyenyak di samping sang nenek.


"apa enggak lebih baik kalau Aziz ditidurkan dikamar, Bu?" saran Zulaikha, dia takut kalau Aziz merasa tidak nyaman.


"tidak perlu Nak, sebentar lagi kami akan pulang!" seru Bu Dijah, dia merasa sudah terlalu lama bertamu dirumah Zulaikha.


Tidak berselang lama, Ammar dan Ibunya memutuskan untuk segera pulang. Zulaikha mengantar kepergian mereka sampai ke dekat mobil. Dia lalu mencium gemas pipi Aziz yang langsung disambut dengan rengekan bocah itu.


"Sssh, sshh, sshh." Ammar menggoyang-goyangkan tubuhnya agar Aziz kembali tidur, sementara Zulaikha menepuk-nepuk pantat Aziz untuk membantu Ammar menidurkannya kembali.


Ibu Dijah terus melihat ke arah Ammar dan Zulaikha, senyum lebar terbit dibibirnya saat merasa kalau dua manusia itu sangat serasi.


"Ibu sangat bahagia jika kamu memiliki pendamping seperti Zulaikha, Ammar. Dia pasti akan selalu menyayangi dan menghormatimu sebagai seorang suami, dan dia jugalah yang nantinya akan menemanimu menuju syurgaNya," Ibu Dijah mengusap sudut matanya yang berhasil mengeluarkan cairan, dia lalu mendekati mereka yang terlihat sedang menidurkan Aziz.


"hati-hati dijalan ya Bu, Ammar!" ucap Zulaikha dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.


Bu Dijah dan Ammar mengangukkan kepala mereka lalu kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan mengucapkan salam terlebih dulu.


Setelah kepergian Ammar dan Ibunya, Zulaikha segera masuk ke dalam toko untuk membantu Syifa dan Sita melayani para pembeli. Terkadang dia juga akan mengantarkan pesanan para pembeli yang memesan via online.


Sementara itu, ditempat lain terlihat seorang pria dan wanita sedang bersitegang di dalam ruang perawatan. Defin sangat murka dengan kecerobohan yang Agnes lakukan, sementara Agnea sendiri merasa kesal karna Defin masih saja mengingat Zulaikha.


"untuk apa kau datang menemui mereka? hah?" teriak Defin yang sudah sangat emosi melihat tingkah wanita itu, wajahnya sudah memerah dengan urat-urat yang menonjol disekitar leher.


"untuk apa kau bilang? tentu saja untuk menyuruh wanita itu pergi dari hidupmu, atau bila perlu pergi dari dunia ini!" jawab Agnes dengan ketus, Defin yang mendengar ucapan Agnes semakin murka.


Dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu sebelum kesabarannya habis dan menjadi hilang kendali, sementara Agnes berteriak memanggil Defin saat lelaki itu keluar dari ruangannya.


"Defin!" teriak Agnes, tetapi Defin tetap saja pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"sial, sial! kenapa anak ini bisa mati sih, aku kan jadi gagal untuk memenangkan hati mereka!" Agnes merasa sangat frustasi, dia bahkan sampai menjambak rambutnya sendiri karna merasa rencananya sudah gagal total.


"hallo sayang!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sedang masuk ke dalam ruangan Agnes, dia menutup pintunya dan mendekat ke arah wanita itu.


Agnes mendongakkan kepalanya untuk melihat lelaki yang saat ini sudah duduk di sofa, membuatnya bertambah kesal dan melempar bantalnya ke arah lelaki itu.


"wow, ada apa baby? apa kau tidak merindukanku?" ucap Rio sembari menangkap bantal yang dilempar oleh Agnes, dia lalu meletakkan bantal itu ke belakang tubuhnya dan bersandar dengan santai.


"kenapa kau ke sini, Rio?" tanya Agnes dengan tajam, dia takut kalau Defin kembali menemuinya dan melihat ada keberadaan Rio diruangan itu.


"kenapa? kau takut kalau suamimu kembali ke sini?" tanya Rio sembari menaikkan sebelah alisnya, dia lalu beranjak bangun dan mendekat ke arah Agnes.


"kau jangan macam-macam Rio, apa kau mau membuat rencana kita gagal?" bisik Agnes, dia tidak mau apa yang telah mereka rencanakan menjadi sia-sia.


"kau tenang saja Agnes, suamimu sudah pergi dengan mobilnya!" seru Rio, dia tadi sudah melihat Defin pergi meninggalkan rumah sakit.


"sudah aku katakan, kalau suamimu itu sebenarnya mencintai Zulaikha. Emang dasarnya dia saja yang bodoh!" celetuk Rio membuat Agnes melirik tajam kearahnya.


"kalau kau datang ke sini cuma untuk buat pusing, lebih baik pergi!" usir Agnes, kepalanya terasa mau pecah mendengar ocehan pria itu sejak tadi.


"Ck!" Rio hanya berdecak kesal mendengar apa yang Agnes ucapkan, tetapi sejurus kemudian Rio tersenyum tipis saat ide cemerlang hinggap dikepalanya.


"kau ingin membuat Zulaikha pergi kan, maka aku punya caranya," ucap Rio, Agnes yang mendengar ucapan lelaki itu langsung merapatkan duduknya dan juga merapatkan telinganya kemulut wanita itu.


Agnes menganggukkan kepalanya dengan senyum cerah karna merasa takjub dengan ide yang Rio berikan, dia langsung mengecup bibir Rio dengan mesra sebagai hadiah untuk ide cemerlang itu.


"Eits, ciuman saja enggak cukup dong!" Rio menahan tangan Agnes yang sudah ingin menjauh darinya, dia lalu menarik tubuh wanita itu sampai menempel sempurna ditubuhnya.


"ini rumah sakit Rio, kau jangan macam-macam!" bisik Agnes, dia dapat merasakan kalau saat ini Rio sudah sangat berhasrat padanya.

__ADS_1


Tangan Rio sudah menjelajah ke mana-mana membuat Agnes terlena, lelaki itu lalu berbisik dengan sangat lembut ketelinga wanita itu," aku merindukanmu, baby," ucap Rio dengan suara parau menahan hasrat yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


Namun, ketika Rio akan melakukan serangannya, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka membuat Rio langsung meloncat turun dari atas ranjang. Sementara Agnes langsung masuk ke dalam selimut untuk menutupi pakaiannya yang sudah berantakan.


Bu Diana dan Pak Rasyid masuk ke dalam ruangan Agnes untuk melihat kondisi wanita itu, mereka sangat terkejut saat melihat ada seorang pria yang saat ini sedang berduaan dengan Agnes diruangan.


"Agnes, siapa dia?" tanya Bu Diana sembari menunjuk kearah Rio, Agnes yang ditanya merasa gelagapan dan otaknya tidak bisa diajak untuk kerja sama.


"saya temannya Defin Bu, kebetulan saya berada dirumah sakit ini jadi sekalian datang menjenguk Agnes," seru Rio, dia melirik kearah Agnes untuk meminta bala bantuan.


"benar Bu, dia baru saja datang. Tapi karna Defin tidak ada jadi dia bermaksud untuk segera pergi," jawab Agnes, dia mengepalkan tangannya yang sudah berkeringat.


Bu Diana merasa ada yang aneh dengan mereka berdua, tetapi karna tidak mau memperpanjang urusan, maka Bu Diana hanya menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Agnes.


Kemudian Rio keluar dari ruangan itu dan berpamitan untuk pergi, dia berjalan dengan gontai karna tidak mendapatkan kepuasan.


Setelah kepergian Rio, Ibu Dijah mendekat ke arah ranjang di mana Agnes berada. Dia terlihat sangat sedih saat mendengar kabar tentang janin yang sudah meninggal.


"Ibu turut berduka Agnes, andai saja kau bisa lebih berhati-hati lagi,"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2