
Syifa berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya saat ini, dia lalu menghela napas pelan untuk menjawab pertanyaan dari Zulaikha.
"yah, Mas Ammar enggak sengaja narik aku pas mau jatuh, Mbak. Jadi enggak sengaja kepeluk," ucap Syifa, dia mengatakannya dengan santai agar sang Kakak tidak berpikiran yang macam-macam.
Zulaikha menganggukkan-anggukkan kepalanya saat mendengar ucapan Syifa, dia lalu masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makan malam.
Setelah kepergian Zulaikha, Sita beralih duduk di samping Syifa yang saat itu sedang mengusap wajahnya dengan kasar.
"rasa cinta memang seperti itu Syif, kadang datang tanpa diundang, dan pergi tanpa izin. Tapi sebagai pemilik rasa itu, kita harus mampu untuk mengaturnya. Agar tidak terjatuh dalam kubangan yang salah," ucap Sita, dia menepuk pelan pundak Syifa lalu berlalu menyusul Zulaikha.
Syifa terpaku ditempatnya saat mendengar ucapan Sita, dia lalu beranjak bangun untuk menyusul kepergian temannya itu.
"Apa maksudmu, Sit?" Syifa mencekal tangan Sita yang saat itu sudah berada di atas tangga membuat langkah Sita terhenti dan mereka saling bersitatap mata.
"kau tau apa yang aku maksud Syif!" jawab Sita, dia tersenyum sembari menarik lengan Sita untuk mengikuti langkah kakinya.
Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar dengan situasi yang sedikit berbeda dari biasanya, di mana mereka biasa saling bercanda dan baku hantam, tetapi kali ini situasinya sedikit menegangkan.
"apa maksudmu, Sita? aku tidak-"
"kau mencintai Mas Ammar, kan?" potong Sita, terlihat jelas raut wajah Syifa yang sangat terkejut dengan apa yang gadis itu katakan.
"bagaimana mungkin Sita mengetahuinya? apa Mbak Zulaikha juga tau?" Syifa merasa sangat khawatir saat ini, dia takut kalau sang Kakak juga mengetahui bagaimana perasaannya pada Ammar.
Sita yang seakan tau apa yang dipikirkan Syifa beralih menggenggam tangan gadis itu membuat Syifa tersentak kaget dan langsung melihat kearahnya.
"Mbak Zulaikha tidak tau apapun Syif, dan aku harap seterusnya akan seperti itu," ucap Sita dengan pelan berusaha untuk menenangkan temannya yang saat ini sedang dilanda dengan kegelisahan.
Sementara Syifa mulai terisak dalam pelukan Sita seakan-akan sedang mencurahkan segala kesusahan hatinya saat ini, Sita juga memeluk erat tubuh sahabatnya yang tumbuh besar bersamanya.
"Apa yang harus aku lakukan Sit, apa yang harus aku lakukan? hiks." Tangisan Syifa semakin menguat saat Sita semakin erat memeluknya, dia yang selama ini selalu menyimpan segala keluh kesahnya seorang diri kini merasa sangat lega saat bisa mencurahkan semua perasaannya pada orang lain.
Sita terus memeluk tubuh sahabatnya sembari mendengarkan apa yang Syifa ucapkan, saat ini dia harus menjadi pendengar budiman agar tidak ada lagi keluh kesah yang disimpab dalam hati Syifa.
__ADS_1
Setelah puas menangis sampai membuat kedua mata Syifa bengkak, gadis itu mulai merenggangkan pelukannya. Dia menatap Sita seolah-olah sedang meminta bala bantuan.
"sebenarnya aku enggak berhak mengatakan ini Syif, karna aku sendiri juga tidak tau siapa yang akan menjadi jodoh Mas Ammar kelak. Apakah Mbak Zulaikha? atau kau? atau mungkin bisa jadi orang lain. Tapi hanya akan ada satu kemungkinan yang akan terjadi jika Mbak Zulaikha mengetahui ini Syif, kemungkinan besar dia akan mengalah dan membiarkan mu untuk bersama dengan Mar Ammar,"
"tidak! jangan katakan itu Sit, tolong jangan katakan itu!" potong Syifa, dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati sang Kakak jika tau kalau lelaki yang mulai dia sukai ternyata juga dicintai oleh adiknya sendiri.
"aku tidak pernah berharap kalau perasaanku akan jadi seperti ini Sit, bahkan aku tidak pernah sedikitpun memikirkannya!" lirih Syifa, entah bagaimana rasa suka dan cinta bisa masuk ke dalam relung hatinya untuk seseorang yang bahkan sama sekali tidak pernah dia sangka-sangka.
"cinta memang seperti itukan, ada kalanya dia datang disaat yang tidak disangka-sangka. Dan pada seseorang yang juga tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, semua terjadi begitu saja tanpa bisa kita cegah," ucap Sita, dia membaringkan tubuhnya diranjang sembari menatap langit-langit kamar.
"cinta itu tidak pernah salah Syif, hanya perilaku dari seseorang yang mencintai itulah yang bisa menyebabkan cinta itu menjadi salah," sambungnya lagi, dia sudah seperti dewi cinta yang saat ini sedang memberikan petuah pada anak buahnya.
Syifa terdiam sembari mendengarkan seluruh ucapan Sita, dia masih tetap tidak mengerti kenapa rasa itu hadir saat dia sendiri sedang membantu sang Kakak agar bisa lebih dekat dengan Ammar.
"jika kau sudah berusaha untuk melupakannya, maka langkah terakhir yaitu menyerahkan segala sesuatunya pada Allah. Biarlah Allah yang akan mengendalikan semuanya," ucap Sita, dia lalu kembali bangkit dan berlalu ke kamar mandi.
"benar! apa yang Sita katakan memang benar, aku sudah menyerahkan segalanya padaMu ya Allah. Aku harap Kau akan mengabulkan semua yang aku inginkan," Syifa hanya bisa pasrah kemana takdir akan membawanya perasaannya ini.
Beberapa hari telah berlalu, saat ini Zulaikha sudah sibuk bekerja diperusahaan Ammar. Selama bekerja, Zulaikha terlihat sangat baik dan cekatan.
Rafa dan Ammar sangat puas dengan hasil kinerja Zulaikha, begitu pula dengan teman-teman sekantornya yang sudah mulai akrab dengan wanita itu.
"hah, lelah sekali," keluh Zulaikha sembari meluruskan pinggangnya yang terasa kaku, dia lalu mengambil ponselnya dan melihat sebuah catatan yang dia tulis diponsel itu.
"sudah 5 hari yah sejak pengakuan Ammar padaku," ternyata Zulaikha ingin melihat sebuah catatan yang menunjukkan tentang tanggal pengakuan Ammar padanya.
Selama 4 hari ini, Zulaikha selalu shalat istikharah dan juga mengerjakan tahajud. Dia juga selalu berdzikir dan memohon petunjuk dari yang maha kuasa.
Apakah dia harus menerima sosok Ammar sebagai calon pendamping hidupnya? atau malah harus menolak segala pengakuan yang telah Ammar ucapkan padanya?
Zulaikha menemukan jawaban dari semua do'a-do'anya tepat dihari kelima, di mana dia akan menjawab segala pengakuan Ammar saat mereka sudah selesai bekerja nanti.
"Mbak, apa yang sedang kau pikirkan?"
__ADS_1
tiba-tiba suara Ammar mengejutkan Zulaikha yang sedang sibuk memikirkannya, wanita itu bahkan sampai hampir terjatuh dari kursi jika tidak ditahan oleh Ammar.
"ya Allah, Mbak! hanpir saja jatuh," seru Ammar, jika saja dia tidak cepat-cepat menahan kursi Zulaikha, pasti saat ini wanita itu sudah terjatuh menghantam lantai.
"kamu bikin Mbak kaget sih, Mar!" balas Zulaikha, dadanya berdebar kencang karna kaget saat mendengar suara lelaki itu.
Ammar hanya tersenyum lebar saat melihat Zulaikha seperti itu, hatinya menjadi berbunga-bunga saat Zulaikha sedang marah-marah.
"maaf Mbak, aku enggak sengaja!" ucap Ammar, dia jadi merasa sedikit bersalah walaupun dia senang saat melihat Zulaikha seperti itu.
"sudahlah, lupakan saja!" balas Zulaikha membuat Ammar semakin melebarkan senyumannya.
"oh yah, Mar. Apa nanti aku bisa bicara sesuatu padamu?" tanya Zulaikha, matanya melirik kearah Ammar yang sedang melihat-lihat berkas yang ada dimejanya.
"katakan saja Mbak, aku akan mendengarkannya!" jawab Ammar tanpa mengalihkan pandangan, dia pikir kalau saat ini Zulaikha ingin membicarakan soal pekerjaan.
Zulaikha tersenyum tipis, "aku ingin menjawab pengakuanmu, Ammar!"
deg, Ammar terpaku di depan Zulaikha saat mendengar ucapan wanita itu. Bahkan berkas-berkas yang ada ditangannya berhamburan jatuh ke atas lantai.
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya temen aku, dijamin pasti seru 😍
__ADS_1