Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 35. Pertemuan yang Tidak disengaja


__ADS_3

Setelah dua hari dirawat, Dokter sudah memperbolehkan Agnes untuk pulang kerumah karna memang kondisi kesehatannya sudah baik-baik saja.


Selama dirumah sakit, Defin terus menjaga dan menemani Agnes membuat hubungan mereka semakin baik. Namun, bayang-bayang Zulaikha selalu menghantuinya membuatnya lupa jika memanggil nama Agnes.


"kenapa sih, kamu selalu saja manggil-manggil aku Zulaikha. Namaku itu Agnes! Agnes!" ucap Agnes dengan penuh penekanan, sudah beberapa kali Defin memanggilnya dengan nama wanita itu.


"maaf," Defin hanya bisa meminta maaf agar tidak memancing emosi wanita itu, dia sudah diwanti-wanti oleh Dokter untuk menjaga emosi Agnes agar tetap stabil.


"ck," Agnes berdecak kesal saat mendengar maaf dari Defin, dia yakin kalau saat ini Defin masih belum bisa melepaskan wanita itu.


Apalagi dia sering memergoki Defin melihat-lihat akun sosial media Zulaikha membuatnya semakin dilanda kegelisahan.


"kamu hari ini istirahat saja ya, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ucap Defin setelah mobil mereka sampai di depan rumah Agnes.


"ada pekerjaan, atau mau menemui Zulaikha?" cibir Agnes, kemudian dia keluar dari mobil itu dan menutup pintunya dengan kencang.


Brak, Defin terlonjak kaget mendengar suara benturan pintu yang cukup kuat. Dia mengelus dadanya agar tidak terpancing emosi saat ini.


Setelah Agnes keluar, Defin bergegas pergi menuju perusahaan. Dia malas untuk masuk ke dalam rumah itu karna nantinya akan berakhir dengan pertengkaran.


Agnes yang melihat kepergian Defin semakin merasa kesal, dia benar-benar tidak habis pikir dengan pria itu yang masih saja memikirkan Zulaikha.


"aku harus membuat Zulaikha pergi dari negara ini, bila perlu pergi dari dunia ini!" gumamnya sembari melangkahkan kaki ke dalam rumah.


Ditempat lain, Zulaikha sedang duduk bersmaa dengan Ibu Diana. Mantan Mertuanya itu berkunjung karna merasa rindu dengan mantan istri putranya.


"bagaimana kabar Ibu dan Ayah?" tanya Zulaikha dengan lembut, dia mengulas senyum manis untuk wanita paruh baya itu.


"kami baik Nak," jawab Bu Diana sambil melihat Zulaikha dengan sendu.


Kemudian Bu Diana menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dengan Zulaikha, dia lalu menggenggam tangan wanita itu membuat Zulaikha membalas genggaman tangan Bu Diana.

__ADS_1


"Nak, Ibu ingin meminta maaf-"


"Bu, Zulaikha sudah mengikhlaskan semua itu. Zulaikha tidak apa-apa Bu, jadi Ibu juga jangan pernah meminta maaf lagi, ya!" Zulaikha menepuk tangan Bu Diana membuat wanita paruh baya itu semakin sedih.


"Zulaikha, Ibu tidak pernah menyesal menjadikanmu sebagai menantuku. Bahkan Ibu selalu berdo'a agar kau tetap menjadi istri Defin, walaupun kenyataannya kalian sudah berpisah. Tapi, ada satu hal yang paling Ibu sesali seumur hidup. Yaitu menyakitimu, dan membuat hatimu hancur karna keputusan egois Ibu,"


Bu Diana mengusap tetesan air mata yang berhasil keluar dari kedua matanya, dia lalu mengusap kepala Zulaikha dengan sayang seperti yang biasa dia lakukan.


"Ibu akan tetap menganggapmu sebagai anak Ibu sendiri," lirih Ibu Diana dengan mengulas senyum tipis diwajah.


"Tentu saja Bu, aku kan anak Ibu," Zulaikha menghamburkan diri kepelukan Ibu Diana, dia memeluk erat mantan Mertuanya dengan rasa sesak yang mulai menyeruak di dalam hati.


Syifa yang akan masuk ke dalam menghentikan langkah saat melihat Kakaknya dan Ibu Diana saling berpelukan, dia ikut sedih dengan apa yang telah terjadi dalam rumah tangga sang Kakak.


Setelah saling melepas rindu, Ibu Diana pamit untuk kembali pulang ke rumah. Zulaikha lalu mengantar Ibu Diana sampai ke rumahnya yang berada beberapa meter dari rumahnya sendiri.


Dalam perjalanan pulang, Zulaikha melihat seorang anak kecil sedang berlari keluar dari dalam mobil. Dia berlari dengan kencang menabrak tubuh Zulaikha membuatnya terjatuh ke atas tanah, dan anak kecil itu juga terjerembab masuk ke dalan selokan.


"Papa! hiks, hua, hua." Tangisan Aziz terdengar nyaring membuat Zulaikha yang masih terduduk ditanah beranjak bangun untuk melihat keadaan anak laki-laki itu.


"Ya Allah, Azizi!" Ammar berlari saat melihat Aziz masuk ke dalam sebuah selokan, dengan diikuti oleh Ibu Dijah yang juga terkejut melihat cucunya terjun bebas ke dalam selokan itu.


"Cup, cup. Jangan nangis ya Sayang! sini, biar tante tolong." Zulaikha ikut masuk ke dalam selokan untuk mengeluarkan Aziz, sementara Aziz langsung memeluk tubuh Zulaikha yang berusaha untuk membawanya keluar.


"Ya Allah Nak, kok bisa jatuh sih?" seru Ibu Dijah yang baru sampai ditempat itu, sementara Ammar hanya diam memperhatikan wanita yang saat ini sedang menolong putranya.


"sudah tidak apa-apakan? lihat, orangtua kamu ada di si-" Zulaikha tidak dapat melanjutkan ucapannya saat dia mengenali siapa lelaki yang saat ini sedang berdiri dihadapannya.


"Ammar?" seru Zulaikha, membuat lelaki itu melebarkan senyumnya.


"Mbak Zulaikha, kita bertemu lagi," balas Ammar, dia merasa sangat senang bisa bertemu dengan wanita itu walaupun dia sengaja ingin berkunjung ke toko bunga milik Zulaikha.

__ADS_1


"Papa, Aziz ditolong sama tante cantik," ucap Aziz, tangannya melingkar dileher Zulaikha dengan tubuh yang sudah berwarna hitam akibat tercebur di selokan.


Zulaikha sedikit terkejut saat mendengar panggilan anak kecil itu pada Ammar, dia tidak menyangka kalau lelaki muda itu ternyata sudah mempunyai anak.


"Ya Allah Aziz, lihat! baju tante cantik kan jadi kotor juga kena bajumu!" seru Bu Dijah yang sejak tadi diam memperhatikan Zulaikha dan Ammar.


"tidak apa-apa Bu, nanti bisa-" Zulaikha kembali terkejut saat melihat wanita paruh baya yang ada di samping Ammar, dia ingat betul dengan wajah wanita itu yang telah mendengarkan segala keluh kesahnya pada saat di pinggir danau.


"Ibu kan, Ya Allah." Zulaikha menyalim tangan Bu Dijah yang langsung dibalas oleh wanita paruh baya itu, sementara Ammar mengerutkan keningnya karna merasa bingung melihat apa yang Zulaikha lakukan.


"Ibu sudah kenal, dengan Mbak Zulaikha?" tanya Ammar sembari mengangkat tangannya untuk menggendong Aziz, tetapi Aziz menggelengkan kepalanya karna tidak ingin turun dari gendongan Zulaikha.


"Ibu pernah bertemu dengannya, dipinggir danau yang biasa Ibu datangi." Ibu Dia beralih melihat ke arah Zulaikha.


"ternyata namamu Zulaikha, Nak? nama yang bagus!" seru Bu Dijah kemudian membuat Zulaikha tersenyum lebar membalas pujian wanita paruh baya itu.


"terima kasih Bu," jawab Zulaikha.


Kemudian Zulaikha mengajak Ammar dan Ibunya untuk singgah kerumahnya sembari mengganti pakaian Aziz yang sudah kotor akibat terjatuh.


Tentu saja ajakannya itu membuat hati Ammar menjadi berbunga-bunga, dia bahkan tidak bisa memalingkan matanya dari Zulaikha yang berhasil menggetarkan hatinya.


"Ya Allah, perasaan seperti apa yang sedang aku rasakan ini?"





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga ke karya terbaru Othor, Menjadi Madu Sahabatku 😍 Mohon dukungannya 🙏


__ADS_2