Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 40. Tidak Selamat


__ADS_3

Defin membawa Agnes masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit, sementara yang lainnya hanya menatap kepergian mereka dengan diam.


"Syifa, Mbak mau pergi dulu ya,"


Syifa menahan tangan sang Kakak yang sudah berjalan ke arah mobil, dia tau kalau saat ini Zulaikha pasti akan pergi mengikuti Defin.


"Mbak gak perlu melihatnya, itu balasan untuk perbuatannya sendiri!" ucap Syifa dengan penuh penekanan, sementara Zulaikha menghela napas kasar saat mendengar apa yang adiknya katakan.


"dek, Agnes itu sedang hamil, dan janin yang sedang dia kandung itu adalah ciptaan Allah. Bagaimana mungkin kita bisa diam saja dengan kejadian ini?" tanya Zulaikha dengan lirih, kemudian dia menepuk pelan tangan Syifa untuk memberikan ketenangan padanya.


"ka-kalau gitu aku juga ikut Mbak!" pinta Syifa, karna biar bagaimanapun dialah yang menyebabkan Agnes masuk rumah sakit.


Namun, Zulaikha menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin kalau Syifa kembali emosi saat bertemu dengan wanita itu.


"biar Mbak sendiri aja ya dek, kau jaga toko dengan Sita," ucap Zulaikha, lebih baik dia pergi sendiri agar suasana tidak semakin memanas.


"aku akan menemanimu, Mbak!"


tiba-tiba Ammar buka suara, dia yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia memilih untuk ikut menemani wanita itu.


Ibu Dijah melirik ke arah Ammar dengan senyum tipis diwajahnya, dia sudah yakin kalau Ammar mempunyai perasaan yang istimewa pada Zulaikha.


"benar Nak, biar Ammar saja yang menemanimu," sambung Bu Dijah, dia melirik ke arah Ammar dengan senyum tipis membuat Ammar curiga dengan senyum Ibunya itu.


"kenapa aku merasa kalau Ibu sedang merencanakan sesuatu," Ammar merasa kalau Ibunya itu memberi lampu hijau pada perasannya.


Zulaikha yang awalnya ingin menolak mendadak mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Bu Dijah, dia lalu menganggukkan kepalanya dan pergi bersama dengan Ammar ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Zulaikha hanya diam dengan pikiran yang berkelana ke mana-mana. Sementara Ammar hanya melirik ke arah wanita yang saat ini sedang berada di sampingnya.


"apa yang harus aku lakukan?" Ammar merasa bingung sendiri karna memang tidak pernah berada diposisi ini, bahkan dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang perempuan.


Akibat keheningan yang terjadi disepanjang jalan, tidak terasa mobil mereka sudah sampai dihalaman rumah sakit terdekat. Mereka yakin kalau Agnes dibawa ke rumah sakit itu karna memang wanita itu harus segera mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


"mereka ada di sini Mar, itu mobil Mas Defin!" Zulaikha menunjuk ke arah di mana mobil Defin terparkir, lalu Ammar menganggukkan kepalanya dan berlalu keluar dari mobil itu.


Zulaikha segera bertanya pada bagian administrasi tentang wanita bernama Agnes, kemudian mereka memberitahu Zulaikha jika saat ini Agnes sedang berada di ruang UGD.


Zulaikha dan Ammar bergegas untuk menuju ruangan Agnes, lalu mereka melihat Defin sedang duduk dikursi tepat di depan ruangan itu.


"Mas Defin!" panggil Zulaikha sembari mempercepat langkah kakinya, sementara Defin yang melihat kedatangan Zulaikha langsung berdiri dengan hati yang sangat bahagia.


Namun, kebahagiaan Defin harus hancur saat dia melihat sosok lelaki yang saat ini berjalan di belakang Zulaikha, apalagi mereka berdua terlihat sangat serasi satu sama lain.


"Mas, ba-bagaimana keadaan Agnes?" tanya Zulaikha, dia mendekat ke arah Defin dengan tetap diikuti oleh Ammar.


"seperti yang kau lihat!" jawab Defin dengan ketus, dia merasa kesal saat melihat Ammar juga ada ditempat itu.


Ammar tersenyum tipis saat melihat Defin, dia lalu duduk di samping lelaki itu yang sedang sedikit membelakanginya.


"duduk dulu Mbak, Mbak pasti capekkan," ucap Ammar penuh perhatian, sementara Defin terlihat tidak peduli tetapi dalam hatinya mulai berkobar api kecemburuan.


"apa kau haus Mar? biar Mbak belikan air," tanya Zulaikha, dia takut kalau Ammar merasa haus karna menemaninya.


Tidak berselang lama, tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka dan keluarlah seorang Dokter dengan dua orang perawat yang langsung disambut oleh Defin dan yang lainnya.


"bagaimana keadaan mereka, Dokter?" tanya Defin, dia sangat khawatir dengan keadaan Agnes dan juga bayinya.


"maafkan kami Pak, kami tidak bisa menyelamatkan anak Bapak,"


Deg, jantung Defin seolah sedang ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan saat mendengar apa yang Dokter itu ucapkan. Sementara Zulaikha juga merasa sangat terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan tangan.


"ka-kau bilang apa?" tanya Defin sembari mencengkram kerah kemeja Dokter itu, Ammar segera menarik tangan Defin agar terlepas dari leher Dokter tersebut.


"tenangkan dirimu Pak, jangan-"


"diam kau! aku tidak punya urusan denganmu!" potong Defin dengan tajam, dia menghempaskan tangan Ammar yang masih memegang pergelangan tangannya.

__ADS_1


"kami minta maaf Pak, kandungan istri Bapak sudah gugur saat sampai dirumah sakit,"


"apa kau bilang, gugur?" mata Defin melotot dengan sempurna kearah Dokter yang menjelaskan tentang kondisi Agnes saat ini.


Tubuh Defin terasa lemas dan terduduk di atas kursi, dia tidak percaya kalau saat ini janin yang ada dalam kandungan Agnes sudah meninggal.


Zulaikha yang mendengarkan penjelasan Dokter merasa kaget, dia juga sedih melihat keadaan Agnes saat ini.


Kemudian Agnes dipindahkan keruang perawatan karna memang wanita itu masih harus diperiksa, sementara Zulaikha dan Ammar masih setia berada dirumah sakit itu.


Tidak berselang lama, terlihat mata Agnes terbuka dengan perlahan-lahan. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu.


"kau sudah sadar?" tiba-tiba suara baritone Defin mengejutakannya yang sedang melihat ke sana ke mari.


Agnes lalu beralih melihat ke arah Defin, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Zulaikha dan Ammar juga berada diruangannya.


"apa yang kau lakukan di sini? apa kau belum puas, sudah membunuh anakku?" teriak Agnes dengan seluruh tubuh gemetar, dia merasa sangat sedih karna kehilangan anaknya.


"aku-aku minta maaf atas apa yang telah terjadi-"


"tidak! aku tidak akan pernah memaafkan kalian! aku akan menuntut kalian semua yang telah membunuh anakku!" teriak Agnes dengan sorot mata penuh kebencian. Sementara Defin hanya diam ditempatnya tanpa mengatakan satu katapun pada mereka.


Ammar yang sejak tadi berdiam diri ingin sekali mengatakan sesuatu pada Agnes, tetapi tatapan Zulaikha terasa memberi kode padanya bahwa dia tidak boleh melakukan apa-apa.


"lebih baik kalian pergi dari sini! aku tidak ingin melihat sampah seperti kalian!" usir Agnes, dia lalu beralih ke arah Defin agar lelaki itu mengusir mereka berdua.





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2