
Ammar dan Rafa mendengarkan seluruh cerita Zulaikha sampai selesai, sesekali mereka saling lirik dengan pemirikan yang sama tentang identitas Sita.
"dulu kondisinya sangat parah, aku bahkan tidak pernah bisa melupakan kejadian itu," ucap Zulaikha setelah dia selesai menceritakan semuanya.
"dari cerita Zulaikha, sepertinya apa yang dikatakan Sean itu benar! lagipula, dia juga tidak akan mungkin sembarang menyebut seseorang sebagai adiknya kan?" seru Rafa, dia sudah bisa menarik benang kusut tentang siapa sosok Sita yang sebenarnya.
"tapi, kenapa Sita tidak mengenalnya? apa Sita hilang ingatan?"
Zulaikha menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ammar. "Sita mengalami koma selama 2 minggu, dan saat itu Dokter sudah menyatakan kalau kemungkinan besar dia tidak akan sadar!"
Suara Zulaikha terdengar getir, dia merasa sedih saat kembali mengingat kenangan dulu.
"tapi pernyataan Dokter itu salah, Sita kembali sadar, walaupun dia harus kehilangan seluruh ingatannya," sambung Zulaikha.
Ammar dan Rafa mengangguk-anggukkan kepala mereka karna mulai paham dengan apa yang terjadi.
"apa selama ini dia tidak pernah mengingat masa lalunya?" tanya Rafa kembali, dia dan Ammar saat ini terlihat seperti wartawan yang sedang mewawancarai seseorang.
"pernah, beberapa kali dia mengingat kejadian-kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya, dan semua itu dicatat disebuah buku yang khusus dia sediakan untuk mencatat sesuatu yang dia ingat,"
"bagus! kita harus melihat catatan itu dan memastikan siapa Sita sebenarnya, jika perlu, kita harus menyuruhnya untuk periksa darah, dan mencocokkan darahnya dengan Sean," tidak mau masalah ini terus berlarut-larut, Rafa memilih untuk langsung memeriksa semuanya.
"tapi, apa benar Sita adalah adik dari Tuan Sean?" tanya Zulaikha dengan lirih, dia tidak menyangka kalau Sita adalah adik dari seorang pengusaha sukses dan kaya raya.
"kita harus memastikan itu, Sayang! dan masalah ini memang harus segera diselesaikan," jawab Ammar.
Setelah obrolan mereka selesai, Ammar dan Zulaikha memutuskan untuk kembali pulang sementara Rafa masih harus berada diperusahaan dan mengurus semua pekerjaan Ammar.
Dalam perjalanan, Zulaikha tampak sangat gelisah. Beberapa kali Ammar melihatnya terus menggenggam tasnya dengan pandangan kosong kearah jalanan.
"ada apa, Sayang? kenapa kau gelisah sekali?" tanya Ammar, dia mengusap pipi Zulaikha dengan lembut seraya menenangkan hati wanita itu.
"Mas, kalau benar Sita adalah adik dari Tuan Sean, apa, apa dia akan tinggal bersamanya?"
__ADS_1
Ammar tersenyum mendengar apa yang Zulaikha katakan, dia sudah bisa menduga kalau sejak tadi Zulaikha memikirkan tentang Sita.
"tentu saja, Sayang! jika Sita benar-benar adik kandung Tuan Sean, maka kita tidak berhak untuk menahannya. Tuan Sean juga pasti akan langsung membawa Sita," jawab Ammar.
Raut wajah Zulaikha menjadi muram, dia merasa sangat sedih jika harus berpisah dengan Sita seperti ini.
"apa yang kau pikirkan, Sayang? kenapa kau jadi sedih? seharusnya kau senang karna Sita sudah menemukan keluarganya, selama ini gadis itu pasti merindukan keluarga yang dia sendiri tidak tau siapa mereka," ucap Ammar, dia mencoba untuk memberi pengertian pada Zulaikha agar Zulaikha dapat memahaminya.
"aku, aku mengerti, Mas! aku hanya merasa sedih karna dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri," lirih Zulaikha, selama ini dia menyayangi Sita seperti rasa sayangnya pada Syifa.
"Tidak ada yang perlu kau sedihkan, Zulaikha! lagipula, menurut penglihatanku, Tuan Sean sangat menyayangi adiknya, dan dia pasti akan mengerti dengan kondisi Sita saat ini. Aku rasa, Tuan Sean tidak akan memaksa Sita untuk ikut padanya. Percayalah, semua ini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT."
Zulaikha menyandarkan kepalanya ke bahu Ammar, dia merasa kembali tenang mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Beberapa jam telah berlalu, setelah mengantar Zulaikha dan berbincang dengan keluarganya mengenai acara resepsi besok hari. Ammar kembali pergi untuk menemui Rafa, mereka harus segera bertemu dengan Sean dan menceritakan semua yang mereka ketahui pada lelaki itu.
Sementara itu, saat ini Sean sedan berada di dalam mobilnya yang berada tepat di depan rumah Zulaikha. Matanya melihat ke sana kemari mengikuti seorang wanita yang sedang sibuk menyusun bunga-bunga.
"Jadi selama ini kau tinggal di sini, Sofia?" Sean terus melihat kearah Sita yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
Tiba-tiba Sean dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang mengetuk kaca mobilnya, bahkan orang yang mengetuk itu menyuruhnya untuk segera turun dari mobil.
"maaf, Tuan! saya perhatikan sejak tadi anda terus melihat teman saya, apa ada sesuatu yang ingin anda katakan padanya?" tanya Syifa dengan tajam, dia yang akan memanggil Sita tidak sengaja melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumah mereka.
"apa kau yang bernama Syifa?" bukannya menjawab pertanyaan Syifa, Sean malah balik bertanya pada wanita itu yang langsung membuat Syifa terlonjak kaget.
"ke-kenapa kau tau namaku?" tanya Syifa dengan heran, dia lalu memasukkan tangannya ke dalam tas untuk mengambil ponsel karna merasa khawatir kalau lelaki yang ada dihadapannya berniat jahat padanya.
Sean tersenyum simpul melihat wajah Syifa yang diselimuti oleh ketakutan, dia lalu melihat kearah Sita dengan sekilas sebelum kembali masuk ke dalam mobil.
"Tunggu! mau ke mana kau? siapa kau sebenarnya? kenapa kau tau namaku?" Syifa mengetuk-ngetuk kaca mobil Sean untuk memaksa laki-laki itu menjawab pertanyaannya.
Sean terkekeh pelan melihat apa yang Syifa lakukan, dia lalu menurunkan kaca mobilnya dengan tatapan tajam kearah gadis itu.
__ADS_1
"mulai sekarang, kita akan sering bertemu, Syifa!"
"a-apa?"
Sean kembali menutup kaca mobilnya dan melajukan mobil itu meninggalkan Syifa yang masih terpaku ditempatnya.
"tu-tunggu! dasar laki-laki gila!" maki Syifa, dia benar-benar tidak habis pikir dengan semua laki-laki aneh yang dia temui.
"apa semua laki-laki dinegara ini seperti itu?" ucapnya dengan emosi, dia sampai mengusap dadanya yang naik turun akibat tingkah Sean.
"memangnya ada apa dengan laki-laki dinegara ini?"
Syifa terlonjak kaget saat melihat Sita sudah berdiri di sampingnya, dia bahkan mencubit lengan sahabatnya itu sampai Sita berteriak kesakitan akibat cubitan mautnya.
"sakit, tau! kenapa kau mencubitku?" tanya Sita sembari mengusap-usap lengannya yang berdenyut.
"itu karna kau mengagetkanku!" ketus Syifa.
"sebenarnya dati tadi kau sedang apa sih? sampai-sampai tidak sadar kalau sejak tadi ada seorang lelaki yang terus memperhatikanmu!" sambung Syifa, dia heran karna kenapa Sita tidak sadar kalau ada seseorang yang memperhatikannya, padahal selama ini Sita adalah manusia yang paling peka dan tau tentang segala sesuatu.
"aku tau!"
"hah! kau, kau bilang apa?"
"aku tau, kalau sejak tadi ada seorang lelaki yang memperhatikanku!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Kemaran aku bilang kalau di bab ini cerita Zulaikha akan tamat, tapi ternyata masih 2 bab lagi 😭 tunggu bab terakhir Zulaikha ya, akan aku usahakan update sore ini 🥰 see you 😘