Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 64. Kelepasan Bicara


__ADS_3

Zulaikha yang awalnya diperintahkan oleh Ammar untuk melihat-lihat sekitaran kantor malah disuguhkan dengan segudang pekerjaan oleh sekretaris Rafa, seorang lelaki berusia 34 tahun yang selama ini selalu mendampingi almarhum Kakak kandung Ammar.


"maaf, Pak. Apa saya harus menyelesaikan semuanya saat ini juga?" tanya Zulaikha, matanya melihat keseluruh dokumen yang baru saja diberikan oleh Rafa, padahal dokumen yang lelaki itu beri tadi pagi masih belum diselesaikan oleh Zulaikha.


"tentu saja!" jawabnya dengan yakin dan penuh kepastian membuat seluruh tubuh Zulaikha menjadi lemas.


Rafa hanya tersenyum tipis saat melihat wajah Zulaikha yang langsung pucat begitu dia menjawab pertanyaan wanita itu, semua hal yang dia lakukan saat ini sama persis dengan apa yang dia lakukan dulu terhadap almarhumah Kakak ipar Ammar.


"semoga kau selalu sehat, Zulaikha!" do'a tulus Rafa panjatkan untuk wanita itu saat ingatan tentang almarhum kedua temannya melintas dalam ingatan, dia adalah salah satu orang yang sangat dekat dengan keluarga Amar, terutama dengan almarhum Azzam dan juga istrinya.


Itu sebabnya dia sangat terpukul saat mengetahui berita kecelakaan yang menimpa kedua sahabatnya, dia yang saat itu sedang berada dirumah langsung tancap gas menuju lokasi kecelakaan dan bertemu dengan Ammar.


"Pak?"


seketika suara Zulaikha mengagetkan Rafa yang sedang tenggalam dalam kenangan masa lalu, lelaki itu terlihat menghapus air mata yang berhasil lolos disudut matanya.


"apa aku membuatnya sedih sampai dia menangis seperti itu?" Zulaikha merasa terkejut saat tidak sengaja melihat wajah sedih Rafa, bahkan lelaki itu juga terlihat menangis walau hanya setetes saja.


Rafa segera berbalik dan keluar dari ruangan Zulaikha membuat wanita itu menghela napas kasar, pupus sudah harapannya untuk meminta perpanjangan waktu penyelesaian tugas-tugas dari sekretaris itu.


Tidak terasa, waktu sangat cepat berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan sudah waktunya para pekerja untuk istirahat, menikmati makan siang mereka masing-masing.


Ammar yang saat itu sedang berkutat dengan pekerjaan sedikit terkejut saat mendengar suara alarm dari ponselnya, dia mengambil ponsel itu dan mematikan alarm pertanda makan siang.


"ternyata harus pasang alarm yah biar ingat waktu, bagus juga ide Mama!" gumam Ammar sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku jas, dia lalu mematikan laptopnya dan berlalu keluar dari ruangan.


"loh, mau ke mana Mar?" tanya Rafa, dia yang tadinya ingin mengetuk pintu ruangan Ammar terkejut saat melihat lelaki itu membuka pintu.


"aku mau makan siang diluar ya Bang, sama Mbak Zulaikha!" pamit Ammar, dia lalu berjalan cepat ke ruangan yang ada dihadapannya untuk mengajak pujaan hatinya.


Sementara Rafa melihat kearah Ammar dengan bingung, lelaki itu biasanya tidak pernah ingat waktu saat bekerja, dan dialah yang selalu datang keruangan Ammar untuk mengajaknya makan siang.


Tetapi, kali ini semuanya berbeda. Ammar malah lebih dulu keluar ruangan untuk mengajak Zulaikha makan siang ketimbang Rafa yang biasanya menjadi alarm makan siang dan jam pulang kerja lelaki itu.


"apa cinta memang benar-benar bisa mengubah seseorang?" Rafa benar-benar tidak mengerti mengenai hal seperti itu.

__ADS_1


Tok, tok. "Mbak! apa aku boleh masuk?" Ammar mengetuk pintu ruangan Zulaikha untuk meminta izin masuk keruangan wanita itu.


"masuk saja, Mar!" teriak Zulaikha dari dalam membuat Ammar segera masuk ke dalam ruangan.


Ammar celingukan ke sana ke mari mencari keberadaan Zulaikha. "Mbak? kau ada di mana?" Ammar tidak melihat Zulaikha ditempat duduknya.


"aku di sini, Mar!"


Ammar beralih melihat ke arah bawah dan tampaklah Zulaikha sedang duduk dilantai dengan ditemani tumpukan berkas yang berserakan di sampingnya.


"ya Allah, Mbak! apa yang Mbak lakukan di bawah situ?" tanya Ammar sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan.


Rafa yang masih berada di depan pintu merasa penasaran saat mendengar ucapan Ammar, dia lalu ikut masuk untuk melihat apa yang sedang wanita itu lakukan diruangannya.


"Oh, Mbak sedang menyusun berkas-berkas ini." Zulaikha menunjuk berkas-berkas yang ada dihadapannya membuat Ammar tercengang.


"percuma dong Mbak, aku belikan kursi itu tapi Mbak duduk di bawah!" seru Ammar kemudian, dia lalu mengumpul berkas-berkas yang ada ditangan Zulaikha.


Rafa yang melihat semua itu menahan tawanya, dia benar-benar merasa lucu dengan apa yang Zulaikha lakukan saat ini.


Zulaikha lalu bangun sembari meluruskan pinggangnya yang terasa sakit, dan semua gerakannya itu tidak lepas dari perhatian Ammar dan juga Rafa.


"siapa sih, sebenarnya yang ngasih kerjaan banyak gitu, sama Mbak! padahal udah aku bilang kalau Mbak itu datang cuma untuk liat-liat!" seru Ammar, dia merasa geram karna Zulaikha diberi pekerjaan yang sangat banyak oleh seseorang, tanpa dia sadari kalau seseorang yang dia maksud kini sedang berdiri di belakangnya.


Zulaikha melirik kearah Rafa yang saat itu hanya tersenyum tipis karna mendengar ucapan Ammar, dia lalu sedikit maju agar bisa sejajar dengan lelaki itu.


"aku yang memberikan pekerjaan padanya," ucap Rafa dengan santai, seperti tidak ada beban dan rasa bersalah sama sekali dalam ucapannya.


"apa? jadi Abang yang ngasi kerjaan banyak gitu sama Mbak Zulaikha?" seru Ammar dengan tidak percaya, dia tidak menyangka kalau lelaki itu akan setega itu pada Zulaikha.


Padahal dia tidak tau kalau selama ini Rafa lah yang selalu menyiksa para pekerja dengan segudang pekerjaan.


"memang salahnya di mana? itukan memang pekerjaannya!" jawab Rafa, dia tidak mengerti kenapa Ammar sampai tidak terima seperti itu.


"Ck!" Ammar berdecak kesal mendengar jawaban dari Rafa.

__ADS_1


"*memang betul sih itu pekerjaan sekretaris, tapi*kan hari ini Mbak belum mulai kerja!" Ammar menatap tajam kearah Rafa yang juga sedang menatapnya.


"iya tapikan hari ini Mbak belum mulai kerja! kerjanya itu besok, besok!" ucap Ammar lagi dengan penuh penekanan, padahal tadi pagi dia sudah mengatakan semua itu pada Rafa tetapi lelaki itu seolah tidak mengetahuinya.


"lalu apa bedanya, hari ini dan besok? bukannya tetap sama-sama kerja!" bantah Rafa.


Kali ini mereka kembali bersitegang hanya karna pekerjaan Zulaikha, sementara Zulaikha sendiri tidak tau harus melakukan apa untuk menghentikan perdebatan dua lelaki dewasa yang ada dihadapannya saat itu.


"maaf, apa tidak sebaiknya-"


"kan aku bosnya, jadi Abang harus ngikutin apa mauku! lagi pula itukan banyak sekali!" ucap Ammar, Zulaikha yang berniat menghentikan pertengkaran mereka kalah cepat dengan ucapan lelaki itu.


"oh, jadi sekarang kau pakai bos-bosan? tapi, walaupun kau bos, aku tidak peduli! Zulaikha harus bekerja lebih keras daripada karyawan yang lain!" balas Rafa, ucapannya itu semakin memantik kobaran api dalam diri Ammar.


Sementara Zulaikha melihat Ammar dengan tidak berkedip, dia benar-benar tidak menyangka kalau Ammar yang biasanya selalu berkata bijak kini berubah menjadi seperti anak-anak.


"tapi, diakan memang masih berumur 24 tahun!" Zulaikha baru sadar kalau umur Ammar memang masih sangat muda.


"apa? seenaknya saja Abang mengatakan itu! apa Abang mau membuat Mbak Zulaikha sengsara, sebelum menikah denganku?"


Zulaikha terjingkat kaget saat mendengar apa yang Ammar ucapkan, sementara Ammar sendiri belum sadar dengan apa yang baru saja terlontar dari mulutnya.


"haha, Ammar. Kena kau!"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga ke karya terbaru Othor ya 🥰

__ADS_1


__ADS_2