
Keesokan harinya, Ammar dan Rafa berangkat menuju perusahaan Sean sesuai dengan apa yang diinginkan oleh lelaki itu.
Dengan mengendarai mobil mewah berwarna putih, Rafa menekan pedal gasnya dan melaju membelah keramaian jalanan. Hingga tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai diparkiran perusahaan terbesar yang ada dikota itu.
"kita harus tetap berhati-hati, Ammar! Aku yakin kalau Sean pasti tidak akan membiarkan kejadian ini," ucap Rafa sambil berjalan di samping Ammar untuk masuk ke dalam perusahaan.
"tenang saja, Kak! aku yakin kalau kita pasti bisa membicarakannya baik-baik, tapi ...," Ammar menjeda ucapannya karna merasa ragu dengan apa yang akan dia katakan.
"tapi apa?" tanya Rafa dengan bingung, saat ini mereka sudah berada di lobi perusahaan.
"tapi aku merasa, sepertinya Tuan Sean mengenal Sita," sambung Ammar, kemarin dia memperhatikan tatapan mata Sean yang terlihat begitu dalam pada Sita.
"aku juga merasa begitu, apalagi dia sempat memanggil Sita dengan sebutan, honey! tidak mungkinkan, kalau dia sembarangan sebut," Rafa juga merasa sama seperti Ammar, dia merasa kalau Sean memiliki hubungan dengan Sita.
"tapi, bagaimana mungkin? Sita saja tidak kenal dengannya," itulah yang membuat Ammar dan juga Zulaikha menjadi bingung, bahkan sepanjang malam mereka terus memikirkan tentang hal ini.
"entahlah, aku juga tidak-"
"selamat pagi, Tuan Ammar, Tuan Rafa!"
Ucapan Rafa terpaksa berhenti saat ada seseorang yang mendekati mereka, bahkan orang tersebut sengaja berada dilobi untuk menyambut kedatangan Ammar dan juga Rafa.
"selamat pagi juga, Tuan Seno!" balas Ammar dan juga Rafa bersamaan, mereka sedikit terkejut dengan keberadaan lelaki paruh baya itu di belakang mereka.
"mari, Tuan! Tuan Sean sudah menunggu kedatangan anda," ajak Seno, seorang lelaki paruh baya yang menjabat sebagai sekretaris pribadi Sean.
Ammar dan Rafa menganggukkan kepala mereka untuk mengiyakan ajakan Seno, mereka lalu mengikuti langkah lelaki paruh baya itu untuk menuju ruangan di mana Sean berada.
__ADS_1
"ini sesuatu yang tidak pernah terjadi! bagaimana mungkin Tuan Seno menyambut kami seperti ini? sebelumnya dia bahkan tidak pernah tersenyum pada kami,"
Ammar dan Rafa merasa bingung dan gelisah, mereka cemas karna sebelumnya mereka tidak pernah disambut seperti ini oleh sekretaris Sean.
"Silahkan, Tuan!" Seno membuka pintu ruangan Sean untuk mempersilahkan Ammar dan Rafa masuk, terlihat Sean sedang duduk dikursi kebesarannya dengan melihat kearah ponsel.
"terima kasih, Tuan Seno," ucap Ammar dan juga Rafa, mereka masuk ke dalam ruangan dengan ragu-ragu karna biasanya mereka akan bertemu dengan Sean di dalam ruang meeting.
"Kalian sudah datang?" Sean meletakkan ponselnya ke atas meja dan bangkit dari kursi, dia lalu berjalan kearah sofa dan menyuruh Ammar dan Rafa untuk duduk dihadapannya.
"silahkan duduk!" Sean mempersilahkan dua lelaki yang ada dihadapannya untuk duduk, dia lalu menyuruh sekretarisnya untuk mengambilkan minuman serta makanan untuk mereka.
"terima kasih, Tuan!" Ammar dan Rafa saling lirik dan berlalu duduk dihadapan Sean, hati mereka sudah was-was kalau sampai Sean macam-macam dengan mereka.
"terima kasih karna sudah meluangkan waktu untuk kami, Tuan. Kami merasa terhormat bisa bertemu secara pribadi dengan Tuan," Ammar mencoba untuk membuka pembicaraan, sedikit basa basi sebelum masuk kepembahasan inti mengenai kejadian kemarin.
Mata Ammar dan juga Rafa membulat sempurna saat melihat amplop tersebut, mereka yakin kalau isi amplop itu adalah harga yang harus mereka bayar untuk kecelakaan yang menimpanya.
"bukalah! Aku ingin tau pendapat kalian mengenai hal ini," seru Sean, dia mempersilahkan mereka untuk membuka amplop yang sudah dia letakkan di atas meja.
Dengan ragu-ragu, Ammar mengambil amplop itu dan membuka isi yang ada di dalamnya. Dia mendapat sebuah lembaran-lembaran kertas yang berisi sebuah tulisan-tulisan dan beberapa gambar.
Deg, mata Ammar dan Rafa membulat sempurna saat melihat potret seorang wanita yang ada dikertas itu. Mereka mulai melihat potret yang lain untuk memastikan apakah yang mereka lihat tidak salah.
"bagaimana? bukankah wanita yang kalian panggil Sita, mirip dengan wanita yang ada digambar itu?" tanya Sean, dia menatap tajam kearah Ammar dan juga Rafa yang sedang sibuk melihat apa yang dia beri.
"i-ini, ini memang benar-benar mirip dengan Sita," jawab Ammar, dia benar-benar merasa seperti melihat foto Sita.
__ADS_1
Rafa juga tampak menajamkan pandangannya untuk memastikan itu benar Sita atau tidak, karna foto yang diberi oleh Sean ada foto wanita yang tidak berhijab, sedangkan Sita selalu memakai hijab. Itu sebabnya mereka sedikit sulit untuk memastikannya.
"apa kalian tau, siapa wanita yang ada difoto itu?" tanya Sean, dia mengambil secangkir kopi yg baru saja diletakkan oleh sekretaris Seno di atas meja.
"foto ini benar-benar mirip Sita, hanya dibeberapa bagian saja wajahnya tampak berbeda," lirih Ammar, dia lalu mengambil kertas lain untuk membaca tulisan yang tertulis di sana.
"namanya Sofia Pranata, dia adalah adikku satu-satunya, sekaligus pewaris kedua dari perusahaan Pranata Group,"
Bruk, kertas-kertas yang dipegang oleh Ammar jatuh berserakan di atas lantai saat dia mendengar ucapan Sean.
Tidak ubahnya dengan Ammar, Rafa juga sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Bahkan, kini dia berdiri tegak dengan mata melotot ke arah Sean.
"tidak, itu ... itu mustahil!"
"dia adalah adikku, adik kesayanganku yang terpisah dariku 7 tahun yang lalu,"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir ke karya temen aku juga yuk! Dijamin seru dan bikin kalian betah buat baca 😍
__ADS_1