
"Mu-Muammar Al-Fateeh? di-di-dia calon su-su-suaminya?" tanya Defin dengan tidak percaya, tubuhnya langsung merosot jatuh kelantai karna kakinya terasa lemas tidak mampu untuk menopang berat tubuhnya.
Ibu Diana begitu terkejut saat melihat Defin terduduk di atas lantai, dia lalu berusaha untuk turun dari ranjang untuk membangunkan putranya itu.
"ada apa Nak? apa yang terjadi padamu?" tanya Ibu Diana dengan lirih, dia begitu sedih saat melihat keadaan putranya seperti itu.
"sial, sial!" teriak Defin sembari memukul-mukul lantai, dia merasa sangat emosi saat mengetahui siapa sosok lelaki yang akan menjadi suami Zulaikha.
"Defin! Ya Allah!" teriak Ibu Diana sembari memeluk tubuh putranya, dia tidak menyangka kalau apa yang dia katakan akan mengguncang jiwa putranya itu.
"aku sudah tau kalau selama ini ada sesuatu diantara mereka, beraninya mereka melakukan ini padaku!" teriak Defin dengan tidak terkendali, dia kemudian bangkit dan keluar dari kamar tanpa menghiraukan panggilan dari sang Ibu.
"Defin! mau ke mana kamu, Nak?" teriak Ibu Diana dengan deraian air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Ayah Rasyid yang saat itu sedang berada didapur langsung berlari untuk melihat keadaan istrinya, dia merasa khawatir karna mendengar teriakan sang istri.
"Defin, mau ke mana kamu?" Ayah Rasyid mencekal lengan Defin saat berpapasan ditangga, sementara Defin hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Ayahnya itu.
Defin lalu melepaskan cengkraman Ayahnya dan langsung berjalan cepat untuk keluar dari rumah itu, dia harus menemui Zulaikha dan Ammar saat ini juga.
"Ya Allah, Bu!" teriak Ayah Rasyid saat melihat istrinya terduduk di dekat pintu, wanita paruh baya itu menangis dengan sesenggukan sambil terus memanggil nama putranya.
Sementara Defin yang sudah berada di dalam mobil melajukan mobilnya dengan kencang, dia harus keapartemen Irham saat ini juga untuk mengetajui di mana tempat tinggal Ammar.
Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu 1 jam kini dipangkas hanya dengan 40 menit saja, Defin menyalip semua kendaraan yang melintas di depannya membuat beberapa pengguna jalan merasa kesal dan terus menekan klakson kendaraan mereka.
Mobil Defin sudah sampai diparkiran apartemen Irham, dia bergegas untuk turun dan melangkahkan kakinya menuju unit apartemen yang ditempati oleh sekretarisnya itu.
Tok, tok, tok. "Irham, buka pintunya!" Tok, tok, tok. Defin terus mengetuk pintu sembari berteriak memanggil Irham hingga pintu apartemen lelaki itu terbuka.
Irham yang saat itu sedang meeting secara virtual dengan rekan bisnis Defin merasa terkejut saat mendengar pintu apartemennya diketuk oleh seseorang, tidak berselang lama dia juga mendengar teriakan Defin yang terus meminta agar dia membuka pintu.
"Pak Defin, anda-"
"cepat cari tau di mana tempat tinggal Ammar, kita harus berangkat kerumahnya saat ini juga!" potong Defin sembari memberi perintah pada Irham.
__ADS_1
Irham yang mendengar perintah Defin merasa bingung, dia tidak tau siapakah sosok lelaki yang harus dia cari tau tempat tinggalnya.
"Ammar? Ammar siapa-"
"Muammar Al-Fateeh! dia pemimpin dari perusahaan Azza!" jelas Defin kemudian, dia merasa geram saat melihat sekretarisnya itu kebingungan.
"ba-baik Pak, silahkan masuk!" Irham mempersilahkan Defin untuk masuk ke dalam apartemennya, dia lalu berjalan kearag dapur untuk menyajikan minuman ataupun makanan pada bosnya itu.
"sebenarnya ada apa ini? kenapa aku harus mencaritau di mana tempat tinggal Pak Ammar?" Irham merasa bingung saat diperintahkan untuk mencaritau tempat tinggal rekan bisnis mereka, tetapi Irham tidak berani bertanya pada Defin karna takut terkena amukannya.
Irham segera menjalankan perintah Defin dengan mengecek keseluruhan data Ammar, dia berusaha keras untuk mencari tau tempat tinggal lelaki itu.
Setelah berkutat selama setengah jam di depan laptop, akhirnya Irham berhasil juga menemukan tempat tinggal Ammar.
"Pak, Pak Ammar tinggal di daerah Bintang Work kota Kuala Lumpur," ucap Irham, dia menunjukkan data-data Ammar yang berhasil dia temukan.
"Bintang Work itu sangat luas, lalu di mananya dia tinggal?" tanya Defin dengan cepat, matanya menatap tajam kearah Irham yang sedang menundukkan kepalanya.
"saya tidak berhasil menemukannya, Pak!" lirih Irham, dia sudah mencari tempat tinggal Ammar di daerah itu tetapi dia tidak berhasil menemukannya.
"baiklah, kita akan membongkar daerah Bintang Work itu. Saat ini juga kita akan berangkat ke sana!"
"tapi ini sudah maghrib Pak, apa tidak sebaiknya-"
"pesankan tiket sekarang juga! Aku tidak bisa menunggu sampai besok!" potong Defin, keputusannya sudah bulat dan akan berangkat malam ini juga.
Irham segera menjalankan perintah dari bosnya, dia sudah tidak bisa melakukan apapun saat Defin bersikeras untuk berangkat malam ini juga.
Setelah semua persiapan selesai, Defin dan Irham segera berangkat menuju bandara. Saat dalam perjalanan, tiba-tiba ponsel Defin berdering dan dia segera mengambil ponsel yang ada disaku jaketnya.
"iya, Bu!" jawab Defin, ternyata Ibunya lah yang saat ini sedang menelpon.
"kau di mana, Defin? kenapa rumahmu kosong?" tanya Ibu Diana disebrang telpon, dia dan Ayah Rasyid mengecek kerumah putranya tetapi tidak ada siapa pun dirumah itu.
"Bu, aku harus pergi kesuatu tempat. Kemungkinan aku tidak akan kembali selama beberapa hari!" pamit Defin, dia tidak mau kondisi Ibunya kembali turun karna merasa khawatir dengan keberadaannya.
__ADS_1
"kau mau ke mana, Defin?" tanya Ibu Diana kembali, wanita paruh baya itu sudah sangat khawatir dengan putra semata wayangnya.
"aku-" Defin tidak bisa menjawab pertanyaan Ibunya karna takut kalau sang Ibu akan melarang kepergiaannya.
"apa kau mau menemui Zulaikha?"
Defin merasa sangat terkejut saat mendengar apa yang Ibunya katakan, dia tidak menyangka kalau sang Ibu tau ke mana dia akan pergi saat ini.
"iya, Bu! Aku akan pergi menemuinya," karna Ibunya sudah tau ke mana tujuannya saat ini, maka Defin memilih untuk jujur pada sang Ibu.
Sementara Irham yang mencoba untuk mencuri dengar mulai meraba-raba ke mana arah pembicaraan Defin dan Ibunya.
"untuk apa Nak? apa tidak bisa, kau melupakan Zulaikha?" tanya Ibu Diana dengan lirih, wanita paruh baya itu merasa sedih dengan apa yang terjadi pada putranya.
"tidak, Bu! aku harus menyelesaikan masalahku dengan mereka," ucap Defin, dia harus bertemu dengan Ammar dan Zulaikha saat ini juga.
"tapi kau mau pergi ke mana? apa kau tau di mana Zulaikha?" tanya Ibu Diana kembali.
"aku tau Bu, aku tau di mana mereka berada,"
kemudian Ibu Diana mematikan panggilan telpon mereka setelah memutuskan untuk membiarkan Defin pergi menemui Zulaikha, karna jika dilarangpun, putranya itu pasti akan tetap pergi.
Irham yang sejak tadi menajamkan telinganya sudah mengerti kenapa Defin ngotot ingin pergi ke tempat tinggal Ammar saat ini juga.
"apa benar, Mbak Zulaikha sedang bersama Ammar? tapi, kenapa dia bisa bersama lelaki itu?"
•
•
•
TBC.
Terima kasih bagi yang sudah baca 😘
__ADS_1
Mampir juga yuk ke karya teman Othor, dijamin seru dan betah buat baca 😍