Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 49. Istana Ammar


__ADS_3

Zulaikha yang sudah berada di dalam pesawat duduk bersebelahan dengan Ibu Dijah, sementara Ammar bersama dengan putranya dan Syifa bersama dengan Sita.


Zulaikha duduk dengan nyaman sembari melihat kearah luar jendela, dia lalu menutup mata dan mencoba untuk menenangkan hati yang sejak tadi bergejolak.


"bismillahirrahmanirrahim, Ridhoi keberangkatan kami ya Allah," Zulaikha hanya bisa berharap semoga ditempat tinggalnya yang baru nanti, mereka bisa hidup dengan tenang dan bahagia.


Ibu Dijah menggenggam tangan Zulaikha untuk memberinya sebuah dukungan, wanita paruh baya itu mengerti kalau Zulaikha pasti sangat berat hati meninggalkan tempat kelahirannya yang penuh dengan kenangan.


"Terima kasih untuk semuanya Bu, mungkin kedepannya kami akan sangat merepotkan keluarga Ibu." Zulaikha membalas genggaman tangan Ibu Dijah dengan hangat, matanya sudah menggantung mendung ingin mengeluarkan air mata.


"tidak Nak, jangan berkata seperti itu!" Ibu Dijah menghapus lelehan air mata yang berhasil lolos membasahi wajah Zulaikha.


"kami sama sekali tidak merasa direpotkan, malah kami senang jika kalian mau hidup bersama dengan kami," lanjut Ibu Dijah, dia mengusap bahu Zulaikha dengan senyum yang tidak pernah pudar diwajahnya.


"jadi, kau jangan berkata seperti itu lagi! Ibu sudah menganggap kalian seperti anak Ibu sendiri, jadi kalian harus anggap Ibu sebagai Ibu kalian. Dalam hubungan keluarga, tidak ada yang namanya merepotkan dan direpotkan, Nak!" sambung Ibu Dijah kemudian, membuat hati Zulaikha menjadi tenang.


Zulaikha merasa sangat bersyukur karna bisa mengenal orang-orang baik seperti Ibu Dijah dan juga Ammar, dia selalu berdo'a agar mereka selalu dalam lindungan sang pencipta.


Ammar yang duduk di depan Zulaikha merasa terharu mendengar percakapan antara Ibunya dan wanita itu, dia benar-benar merasa beruntung dipertemukan dengan wanita seperti Zulaikha.


Sementara itu, ditempat lain terlihat Ridwan dan istrinya sedang berhadapan dengan Defin yang tidak sengaja bertemu di bandara. Ridwan menatap tajak kearah Defin yang saat itu sedang bersama dengan Irham.


"apa yang sedang Mas lakukan di sini?" tanya Defin dengan ramah, dia lalu beralih melihat kearah anak mereka yang berada dalam gendongan Aisyah.


"apa kami tidak boleh, berada dibandara?" ucap Ridwan dengan sinis, sementara Aisyah enggan untuk bersitatap mata dengan Defin. Dia mengalihkan pandangannya kearah lain, dengan pura-pura mengajak putranya berbicara.


"bukan begitu Mas, aku hanya ingin bertanya saja," jawab Defin, dia tau kalau dua orang manusia yang ada dihadapannya saat ini pasti sangat membenci dirinya.


"bertanya? baiklah, kami ke sini untuk-"


Ridwan tidak dapat melanjutkan ucapannya karna lengannya dicengkram kuat oleh Aisyah, Ridwan lalu melihat kearah istrinya yang sedang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"kami ada urusan penting di sini, dan sekarang kami harus pergi!" sambung Aisyah, dia lalu mengajak Ridwan untuk segera pulang dengan alasan kalau putra mereka sudah sangat kelelahan.


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Ridwan mengikuti langkah istrinya untuk pergi meninggalkan Defin, sementara Defin dan Irham melihat kearah mereka dengan bingung. Mereka yakin kalau Ridwan dan istrinya sedang menyimpan sesuatu dari mereka.


"sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa perasaanku tidak enak?" Defin tiba-tiba merasa sesak seperti ada sesuatu yang terjadi.


"maaf Pak, kita harus segera berangkat!" ucap Irham menyadarkan Defin dari lamunannya, mereka harus segera pergi ke Singapura untuk urusan pekerjaan.


Ridwan yang saat itu sudah berada di dalam mobil bertanya pada istrinya, alasan kenapa wanita itu tadi mengahalanginya saat ingin mengatakan kalau mereka baru saja mengantar Zulaikha.


"untuk apa memberitahunya, Mas? apa Mas mau, kalau dia mengejar Zulaikha sampai ke sana?" tanya Aisyah, dia tidak mau kalau sampai Defin tau mengenai kepergian Zulaikha.


"kau benar Dek, kita harus merahasiakan kepergian Zulaikha dari siapa pun. Terkhusus dari keluarga Defin!" ucap Ridwan membenarkan apa yang istrinya katakan. Mereka lalu melaju ke jalan raya untuk pulang kerumah mereka sendiri.


****


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya pesawat Zulaikha mendarat sempurna dibandara tujuan. Mereka bergegas untuk turun dengan membawa perlengkapan mereka masing-masing.


"tante-tante, nanti tante tinggal dirumahku kan?" tanya Aziz sembari menarik gaun yang sedang Zulaikha pakai, dia sangat senang karna banyak orang yang ikut pulang bersamanya.


"tentu saja Nak, tante Zulaikha nanti tinggal dirumah kita," jawab Ibu Dijah, membuat Aziz mengembangkan senyum manisnya.


"kalau gitu nanti tante tidur sama aku dan Papa juga kan?"


semua orang terlonjak kaget saat mendengar apa yang Aziz tanyakan, terutama Ammar yang merasa sangat malu saat mendengar ucapan putranya.


"ehem, Aziz. Ayo kita pulang!" ajak Ammar untuk mengalihkan pembicaraan, dia langsung menggendong Aziz dan membawanya menuju jemputan mereka.


"puft, lucu sekali sih anak itu," seru Sita sembari tertawa lepas karna merasa lucu dengan apa yang Aziz ucapkan tadi, sementara Zulaikha langsung mencubit lengan adiknya itu dengan wajah yang memerah.


"sudah-sudah, ayo kita pulang!" ajak Ibu Dijah kemudian, dia menahan senyumnya saat melihat wajah lucu Zulaikha yang memerah. Lalu mereka semua bergegas untuk mengikuti langkah Ammar keluar dari bandara itu.

__ADS_1


Ammar memerintahkan dua supir untuk membawa dua mobil saat menjemput mereka, satu mobil untuk keluarganya dan satu mobil lagi untuk keluarga Zulaikha.


Mata Zulaikha dan kedua adiknya sangat terpana melihat kota yang saat ini ada dihadapan mereka, mereka juga memperhatikan lalu-lalang pejalan kaki yang sedang menikmati hari-hari mereka.


"indah sekali kan Mbak, kotanya!" seru Syifa yang merasa sangat antusias memperhatikan bangunan-bangunan megah yang ada di depan matanya, dia bahkan sampai menyingkirkan kepala Sita ke belakang agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan.


Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai di halaman depan rumah mewah Ammar. Mata Zulaikha dan kedua Adiknya melotot saat melihat rumah Ammar yang sangat mewah dan besar, mereka sampai tidak bisa berkedip karna bangunan yang begitu indah terpampang nyata di depan mata mereka.


"ya Allah, ini rumah atau istana?" seru Syifa, dia tidak menyangka kalau ada rumah yang sebagus itu didunia ini.


"iya kan, gila banget! kira-kira berapa ya biaya untuk membangunnya?" Sita mulai menerka-nerka jumlah uang untuk membangun rumah mewah itu.


Tok, tok. Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu mobil mereka membuat tiga wanita yang ada di dalamnya terlonjak kaget.


Zulaikha langsung bergegas turun saat melihat Ammar berdiri di samping mobil itu, sementara kedua adiknya juga langsung bergegas turun dengan membawa tas-tas mereka.


"ada apa Mbak? apa terjadi sesuatu?" tanya Ammar, sudah lebih dari 10 menit dia menunggu mereka agar keluar dari mobil tetapi yang ditunggu tidak juga keluar membuat lelaki itu mendatangi mereka.


"ti-tidak ada Mar, ayo kita masuk!" Zulaikha terpaku saat menyadari apa yang baru saja dia katakan, dia merasa malu karna mengajak Ammar masuk ke dalam rumah lelaki itu sendiri.


"apa yang aku lakukan? "





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


__ADS_2