
Tidak terasa, dua hari telah berlalu bagi Ammar dan juga Zulaikha. Mereka melewati masa-masa indah pengantin baru dengan rasa cinta yang terus membuncah setiap harinya, dan semua itu berhasil menjadi bahan ejekan bagi keluarga besar mereka.
Ammar yang memang sering bertingkah seperti anak kecil, semakin menjadi saja sejak menikah dengan Zulaikha membuat wanita itu menjadi kewalahan.
Seperti hari ini, resepsi pernikahan akan diadakan. Namun, Ammar tetap bertahan di dalam kamar karna Zulaikha tidak mau mengecup bibirnya sebagai ucapan selamat pagi.
"bangunlah, Mas! kita sudah kesiangan loh ini," seru Zulaikha, dia sudah menurunkan sebelah kakinya di bawah ranjang.
Ammar tetap memeluk pinggang Zulaikha tanpa menghiraukan ucapannya membuat Zulaikha menjadi kesal, dia lalu menarik wajah Ammar dan mengecup seluruh wajah itu sampai membuat Ammar tergelak.
"apa Mas sudah puas?" geram Zulaikha karna setiap membuka mata, Ammar pasti selalu meminta ciuman darinya.
Ammar tersenyum lebar sembari melepaskan pelukan tangannya, dia lalu ikut bangkit dan mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sembari memperhatikan sang Istri yang sedang berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah semua persiapan selesai, hari ini Ammar dan Zulaikha menyelenggarakan acara resepsi pernikahan mereka.
Banyak para kolega bisnis yang turut hadir diacara itu, termasuk keluarga Defin yang juga menjadi tamu kehormatan bagi keluarga kedua pengantin baru.
Para tamu hilir mudik datang memenuhi undangan Ammar dan Zulaikha, para keluarga juga tampak sangat sibuk menyambut semua tamu yang datang sementara Zulaikha dan Ammar masih bersiap dikamar mereka.
"Sayang, apa kau butuh bantuan?" Ammar menyembulkan kepalanya ke dalam kamar mandi untuk melihat apa yang dilakukan oleh istrinya, selama dua hari lidahnya sudah sangat lihai memanggil Zulaikha dengan sebutan sayang.
Zulaikha yang melihat kepala suaminya hanya terkekeh pelan, dia sudah mulai terbiasa dengan tingkah usil Ammar yang selalu menggodanya jika sedang berada di dalam kamar mandi.
"tidak, Mas! Mas tunggu di dalam saja," ucap Zulaikha, dia mendorong kepala suaminya agar keluar dari dalam kamar mandi.
Bukannya keluar, Ammar malah membuka pintu kamar mandi itu dengan lebar dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam bersama dengan Zulaikha.
"Mau ke mana kau?" tiba-tiba Ibu Dijah menarik kerah kemeja Ammar membuat putranya itu tidak jadi masuk ke dalam kamar mandi.
Ammar memalingkan wajahnya ke arah belakang dan tersenyum lebar saat melihat Ibunya sedang menatap tajam padanya, dia lalu segera berbalik dan keluar dari kamar mandi membuat Zulaikha menahan tawa.
"apa kau tidak tau, kalau tamu-tamu kalian sudah menunggu? hah!" teriak Ibu Dijah, wanita paruh baya itu terlihat sangat geram dengan Ammar yang sejak tadi ditunggu tapi tidak juga keluar dari kamar.
Sementara Ammar sendiri langsung menutup telinganya yang terasa berdengung, kemudian dia beralih memeluk lengan sang Ibu yang masih menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Lihat! dari tadi mereka sudah menunggu kalian." Mama Dijah menunjuk beberapa orang wanita yang sedang berdiri diambang pintu, mereka tersenyum kepada Ammar dan juga pada Ibu Dijah saat wanita paruh baya itu menunjuk kearah mereka.
Ammar hanya tersenyum lebar saat melihat Ibunya marah seperti itu, dia lalu mengecup pipi sang Ibu seraya mempersilahkan para perias untuk masuk.
"silahkan masuk, Mbak! maaf menunggu lama," ucapnya dengan tersenyum, dia merasa sedikit bersalah karna membiarkan mereka menunggu di depan pintu.
Tidak berselang lama, Zulaikha keluar dari kamar mandi dengan menggunakan gaun berwarna silver yang tampak sangat cantik dan mewah ditubuhnya.
"Subhanallah, Mbak cantik sekali!" seru salah satu wanita yang sedang berdiri di samping ranjang, begitu juga dengan yang lainnya yang juga terpesona dengan kecantikan alami Zulaikha.
"alhamdulillah, terima-"
"Tentu saja! dia adalah wanita yang paling cantik didunia ini, setelah Ibuku tentunya." Ammar mengecup pipi sang Ibu membuat Ibunya itu merasa malu, Ibu Dijah menepuk lengan Ammar seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Setelah kepergian Ibu Dijah, Ammar ikut keluar untuk menemui teman-temannya yang sudah sampai ditempat itu sedangkan para perias segera mempersiapkan penampilan Zulaikha agar semua mata yang melihat kearah wanita itu benar-benar terpesona.
"Ammar!" panggil salah satu teman Ammar saat lelaki itu baru menampakkan diri ditempat resepsi yang sudah dibanjiri oleh para tamu.
Ammar yang mendengar panggilan temannya langsung berjalan cepat kearah temannya itu dan langsung memeluknya karna memang sudah cukup lama mereka tidak bertemu.
"kau bisa saja! kalian bagaimana kabar kalian semua?" tanya Ammar kemudian.
Mereka semua lalu saling bertukar kabar sembari mengobrol tentang masa lalu, kenangan demi kenangan melintas dibenak mereka saat dulu masih berseragam putih abu-abu.
"jadi, apa kau akan menetap di sini, Mar?" tanya Athala, salah satu teman Ammar yang baru menyelesaikan pendidikannya di Inggris.
"tidak! kami akan menetap di-"
"Mas Ammar!"
Tiba-tiba mereka semua melihat kearah belakang saat mendengar ada seorang wanita yang memanggil Ammar, terlihat Syifa sedang mendekat kearah mereka dengan terburu-buru.
"Mas, dipanggil sama Ibu!" ucap Syifa, dia yang tadi sedang sibuk menyambut teman-teman Zulaikha mendadak diperintah oleh Ibu Dijah untuk memanggil Ammar.
Awalnya, Syifa ingin menolak perintah wanita paruh baya itu. Namun, dia merasa tidak enak dan memilih untuk langsung mencari keberadaan Ammar.
__ADS_1
Ammar bergegas pamit pada teman-temannya untuk menemui sang Ibu, dia takut kalau Ibunya itu akan marah jika dia tidak segera datang kehadapan wanita paruh baya tersebut.
"tunggu!"
Syifa yang sudah berbalik dan hendak mengikuti Ammar tidak jadi melangkahkan kakinya saat mendengar suara seseorang, dia sediki melirik kearah belakang untuk melihat siapakh sosok lelaki yang tadi memanggilnya.
Syifa menunjuk kearah dirinya sendiri seolah-olah bertanya pada lelaki itu apakah dia yang dipanggil atau tidak, sementara lelaki yang tadi memanggilnya langsung menganggukkan kepala dengan senyum cerah secerah mentari pada hari ini.
"maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Syifa, dia langsung menundukkan pandangannya saat bersitatap mata dengan lelaki yang saat ini ada dihadapannya.
Bukannya menjawab pertanyaan Syifa, lelaki itu malah mengusir teman-temannya yang lain agar pergi dari tempat itu seolah-olah ingin bicara berdua saja pada Syifa.
"cih, dasar!" cibir teman-teman Atha saat lelaki itu mengusir mereka, sementara Syifa mengerutkan keningnya karna bingung melihat apa yang lelaki itu lakukan.
"emm, maaf Pak. Apa saya boleh pergi?"
"sebentar! aku ingin bicara denganmu," tahan Atha sembari memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jasnya untuk mengambil sesuatu.
Syifa menatap tajam pada lelaki yang sedang ada dihadapannya saat ini, dia sedikit merasa kesal karna ada seeorang yang mengganggu jalannya.
"apa aku boleh berkenalan denganmu?"
"hah?"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir ke karya sahabat aku yuk, dijamin keren dan seru 😍
__ADS_1