
Zulaikha diam sejenak, dia sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk menjawab apa yang ditanyakan oleh Ibu Dijah.
Sementara Ibu Dijah sendiri melihat kearah Zulaikha dengan khawatir, begitu juga dengan Ammar yang melihat Zulaikha dengan sendu karna takut pertanyaan dari Ibunya kembali membuat wanita itu mengingat kenangan masa lalu yang begitu pahit untuk dikenang.
"Bu...." Zulaikha menggenggam tangan Ibu Dijah membuat wanita paruh baya itu membalas genggaman tangannya.
"aku sebenarnya tidak tau sedalam apa perasaanku yang tersisa untuk masa lalu, aku juga tidak tau bagaimana perasaanku terhadap Mas Ammar yang sebentar lagi akan menjadi suami sekaligus pendamping hidupku. Tapi-" Zulaikha menjeda ucapannya untuk menarik napas dengan perlahan sebelum melanjutkan apa yang akan dia katakan.
"Tapi, aku telah berserah diri kepada Allah, Bu! aku menemukan wajah Mas Ammar disetiap tidur malamku, aku menemukan senyumnya disetiap mataku terpejam. Aku juga mengingat garis wajahnya disetiap sujud terakhirku, hingga hatiku menjadi yakin kalau Mas Ammar lah sosok lelaki yang dikirim Allah untuk membimbingku mengarungi bahtera kehidupan yang fana ini."
Tangan Ibu Dijah bergetar dengan disertai deraian air mata saat mendengar jawaban dari calon menantunya, dia lalu memeluk Zulaikha dengan erat seraya mencium kening wanita itu dengan rasa syukur yang sangat mendalam pada sang pencipta.
"Maafkan Ibu, Nak! maafkan Ibu." Ibu Dijah terus memeluk Zulaikha dengan rasa bersalah karna telah menanyakan sesuatu yang sebenarnya dia sendiri sudah tau jawabannya.
Namun, karna keraguan yang menyusup ke dalam hati. Hingga membuat wanita paruh baya itu melontarkan pertanyaannya, walaupun Zulaikha sendiri tidak merasa tersinggung ataupun marah dengan apa yang dia ucapkan.
"Ibu tidak perlu meminta maaf, aku mengerti apa yang Ibu khawatirkan. Insyaallah, Bu! Insyaallah semuanya akan baik-baik saja," ucap Zulaikha, dia mengusap punggung Ibu Dijah guna untuk menenangkan wanita paruh baya itu.
Ammar terus melihat kearah Zulaikha tanpa mengedipkan kedua matanya, dia merasa benar-benar terpukau melihat sifat dan kedewasaan Zulaikha yang membuatnya benar-benar tergila-gila.
"Zulaikha, aku tidak ingin melamarmu. Tapi aku ingin langsung menikahimu, apa kau mau?" Ammar ingin sekali mengatakan semua yang ada dalam hatinya pada Zulaikha, tapi apalah daya. Dia takut kalau wanita itu akan terkejut saat mendengar apa yang dia katakan.
"Papa!"
Ammar yang baru tersadar dari lamunannya langsung melihat kearah sang putra, terlihat Aziz sedang menyodorkan sebuah majalah padanya.
Ammar melihat apa yang diberikan oleh putranya itu, dan tampaklah sebuah potret kenangan masa lalu bersama dengan almarhum Kakak dan juga Kakak iparnya.
__ADS_1
"kenapa Papa besar dan Mama besar ada disitu?" tanya Aziz, dia yang penasaran dengan majalah yang ada di atas meja langsung melihat apa yang ada dimajalah itu.
Ibu Dijah dan Zulaikha yang mendengar ucapan Aziz langsung beralih melihat kearah majalah yang sedang dipegang oleh Ammar. Mereka tampak penasaran dengan sesuatu yang saat ini sedang dilihat oleh lelaki itu.
"Papa besar dan Mama besar sedang menghadiri cara peresmian disebuah perusahaan beberapa tahun yang lalu, dan hari ini perusahaan itu kembali mengadakan acara. Itu sebabnya mereka memajang potret Papa dan Mama besar sebagai kenang-kenangan," jelas Ammar, dia menunjukkan foto itu pada Zulaikha dan juga Ibunya.
Ibu Dijah tampak tersenyum dengan mata berkaca-kaca, dia mengusap foto itu sebagai tanda bahwa dia sangat merindukan putra dan juga menantunya yang saat ini sedang berada di sisi sang pencipta.
"Zulaikha, bagaimana jika kau dan Ammar langsung menikah saja?"
Zulaikha dan Ammar langsung terjingkat kaget saat mendengar apa yang Ibu Dijah katakan, mereka lalu beralih melihat kearah wanita paruh baya itu dengan tajam.
"Zulaikha, Ammar! apa tidak sebaiknya kalau kalian langsung menikah? lamaran juga ujung-ujungnya menikahkan, jadi Ibu rasa lebih bagus kalau langsung menikah saja," sambung Ibu Dijah kemudian.
Syifa dan Sita yang ada di samping Zulaikha dan keluarga Ammar langsung melihat kearah mereka, Sita bahkan sampai menjatuhkan tasnya karna terkejut mendengar ucapan Ibu Dijah.
"Ibu memang selalu bisa membaca isi hatiku, ya!" Ammar sebenarnya sangat senang dengan apa yang Ibunya ucapkan, tetapi dia juga terkejut kenapa tiba-tiba Ibunya berkata seperti itu.
"apa Ibu berkata seperti itu karna merasa khawatir-"
"tidak, Zulaikha! jangan salah paham pada Ibu," potong Ibu Dijah.
"Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua, dan segala hal yang baik memang harus disegerakan kan. Jadi, bagaimana menurut kalian?" tanya Ibu Dijah kemudian, dia melihat kearah Ammar yang juga sedang melihatnya.
Zulaikha terdiam dan tidak tau harus menjawab apa pada wanita paruh baya itu, sementara Ammar juga sedang berpikir keras apakah harus mengiyakan ucapan Ibunya atau tidak.
"Ammar?" Ibu Dijah menatap tajam kearah Ammar seolah-olah sedang menyuruh putranya itu untuk mengiyakan apa yang barusan dia katakan, dan benar saja. Ammar langsung menganggukkan kepalanya membuat Ibunya tersenyum dengan lebar.
__ADS_1
"Aku, aku setuju dengan apa yang Ibu katakan. Jika Em, maksudku jika Zulaikha bersedia, maka aku akan memilih untuk langsung menikahi Zulaikha," ucap Ammar, dia meremmas jemari tangannya yang saat ini saling bertautan.
Zulaikha menatap tajam pada Ammar yang tepat berada dihadapannya membuat Ammar semakin dilanda kegelisahan, sementara Syifa dan Sita yang masih jadi penonton sudah tidak sabar menunggu jawabab iya dari mulut Kakak mereka.
Satu detik, dua detik. Bahkan sampai beberapa detik kemudian, tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Zulaikha membuat Ammar menjadi lemas.
"Aku bersedia, Mas! Aku bersedia untuk langsung menikah denganmu,"
"Apa?" Ammar yang merasa sangat kaget langsung berteriak membuat Aziz terjingkat kaget saat mendengar teriakannya, sementara Ibu Dijah dan kedua adik Zulaikha bersorak senang karna mendengar jawaban yang diberi oleh Zulaikha.
"ap-apa aku tidak salah dengar?" tanya Ammar kembali, dia melihat kearah Zulaikha yang dibalas dengan anggukan kepala wanita itu dengan malu-malu dan wajah yang sudah memerah seperti tomat.
Seketika Ammar langsung mengucap syukur yang teramat dalam pada yang maha kuasa, dia tidak menyangka kalau semua yang dia harapkan akan menjadi kenyataan dan dikabulkan oleh sang maha pencipta.
"Terima kasih ya Allah, terima kasih atas kebaikan dan kasih sayangMu. Terima kasih karna telah mengabulkan keinginanku, terima kasih ya Allah," Ammar ingin sekali bersujud dihadapan Allah untuk semua kebaikan dan anugrah yang telah Allah berikan padanya, bahkan dia tidak pernah bermimpi jika Zulaikha akan bersedia menikah dengannya dalam waktu secepat ini.
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya teman aku, dijamin seru dan bikin betah buat baca 😍
__ADS_1