Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 52. Pingsan!


__ADS_3

"pergi? apa maksud Ibu?" tanya Defin, dia melihat kearah sang Ibu yang saat itu tampak sangat gelisah.


"i-itu-" Ibu Diana tidak sanggup untuk menceritakan apa yang sudah dia lakukan pada Zulaikha, dia takut kalau Defin murka saat mendengar Zulaikha pergi karna permintaannya.


"hello everybody!" tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yang sedang berjalan ke arah mereka, dialah Agnes yang baru sampai dirumah Ibu Diana.


"duuuh, aku lelah sekali," dessah Agnes sembari menghempaskan pantatnya kearah kursi, dia lalu mengambil makanan yang ada di atas meja tanpa menghiraukan Defin dan Ibu Diana yang sedang bersitegang.


"dari mana saja kamu?" tanya Defin dengan tajam, mulai dari dia bangun tidur, Agnes sudah tidak ada dirumah mereka.


"pagi ini aku ada pemotretan, Sayang!" jawab Agnes, dia lalu memanggil pembantu rumah itu untuk menyiapkan jus segar untuk menyiram tenggorokannya.


Defin berdecak kesal saat mendengar apa yang Agnes ucapkan, dia sangat marah karna wanita itu tidak pernah meminta izin padanya saat pergi keluar rumah.


Sementara Ibu Diana yang masih terdiam memilih untuk masuk ke dalam rumah dengan segala pemikiran yang memenuhi kepalanya, tetapi saat baru melangkahkan kaki, Defin kembali memanggilnya untuk bertanya masalah Zulaikha.


"kenapa Ibu tidak menjawab pertanyaanku? apa Ibu sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Defin dengan penuh curiga, dia menyipitkan matanya sembari melirik tajam kearah sang Ibu.


Agnes yang sedang menikmati minuman segarnya bertanya-tanya tentang apa yang Defin tanyakan pada Ibunya, dia lalu meletakkan gelas jusnya untuk menimpali percakapan mereka.


"pertanyaan apa, Sayang?" tanya Agnes, dia lalu melihat kearah mertuanya yang sedang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat dan gelisah.


Defin mendekat kearah sang Ibu tanpa menghiraukan pertanyaan Agnes, dia benar-benar merasa ada sesuatu yang terjadi pada Zulaikha.


Ibu Diana melirik ke arah Defin yang tampak sangat menyeramkan, dia bahkan semakin gelisah kalau putranya itu akan marah besar padanya.


"jawab aku, Bu!" untuk sekali lagi Defin memaksa Ibunya untuk membuka mulut, jika saja yang saat ini ada dihadapannya bukanlah Ibunya, sudah pasti dia akan menghajar orang tersebut agar berbicara jujur padanya.


"i-itu Zu-Zulaikha-"


"Zulaikha? ada apa dengannya? Bukannya dia udah pergi!" Agnes langsung menutup mulutnya saat sadar dengan apa yang dia ucapkan, matanya melirik kearah Defin yang juga sedang meliriknya dengan tajam.


"sebenarnya apa maksud kalian? apa yang telah kalian lakukan pada Zulaikha?" tanya Defin dengan tajam, dia bahkan sampai mengguncang tubuh Agnes agar wanita itu menjawab ucapannya.

__ADS_1


Agnes mengutuki dirinya sendiri yang sudah kelepasan bicara, dia harus memutar otak agar Defin tidak marah padanya saat mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"jawab aku!" teriak Defin kembali dengan rahang yang mengeras, bahkan urat-urat yang ada disekitar lehernya sampai menonjol kepermukaan.


"kenapa kau bertanya tentang Zulaikha?" balas Agnes, dia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan saat ini.


"kenapa kau bilang? tentu saja karna-"


"karna kau mencintainya kan?" potong Agnes, dia menghempaskan kedua tangan Defin yang bertengger dibahunya.


"apa kau sadar kalau sekarang kau itu sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengannya! jadi untuk apa, kau bertanya-tanya tentang wanita itu lagi?" teriak Agnes penuh emosi, dia lalu menjungkir balikkan meja yang ada di sampingnya sampai semua makanan dan minuman terhempas ke lantai.


Prang, suara pecahan gelas dan piring menggema di samping rumah membuat pembantu yang ada dirumah itu berlari kearah sumber suara.


"jawab aku, Defin?" teriak Agnes lagi, dia mendorong tubuh Defin hingga lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang.


"jaga ucapanmu, Agnes! Aku hanya khawatir saja dengan mereka!" bantah Defin, dia merasa geram karna wanita itu selalu menuduhnya yang tidak-tidak.


"halah, kamu selalu beralasan seperti itu. Bilang saja kalau kau merindukan belaian j*lang itukan!"


"Ibu!" teriak Defin saat melihat tubuh sang Ibu terjatuh di atas lantai, dia lalu berlari kearah Ibunya dan menepuk-nepuk pipi wanita paruh baya itu.


Agnes yang melihat Ibu Diana pingsan hanya memandangnya dalam diam, pipinya terasa kebas dan berdenyut akibat tamparan yang dilayangkan oleh Defin.


"apa lagi yang kau tunggu, cepat telpon Dokter!" teriak Defin saat melihat Agnes hanya mematung ditempatnya, sementara dia langsung menggendong sang Ibu dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"cih, yang pingsan itukan Ibumu. Kenapa malah aku yang harus menelpon Dokter?" gerutu Agnes, tetapi dia tetap mengambil ponselnya dan menelpon Dokter pribadi keluarga Defin.


Sementara itu, ditempat lain terlihat Zulaikha sedang sibuk berbelanja dipasar. Dia menenteng sebuah tas belanja berwarna hitam sembari memperhatikan beberapa sayuran yang akan dia beli.


Zulaikha memang lebih suka berbelanja dipasar daripada disupermarket, karna menurutnya, dengan berbelanja disupermarket dia bisa membantu perekonomian rakyat kecil.


Setelah selesai membeli segala keperluannya, Zulaikha berjalan kearah jalan untuk menyebrang kesebuah toko perlengkapan elektronik. Dia ingin membeli sesuatu untuk keperluan pribadinya.

__ADS_1


Dari kejauhan, sebuah mobil berwarna putih terlihat sedang mendekati Zulaikha dan menghentikan mobilnya di samping wanita itu yang di balas dengan senyuman Zulaikha karna mengetahui siapa pemilik mobil tersebut.


"Mbak mau ke mana?" tanya Ammar yang baru keluar dari mobilnya, dia berjalan mendekati Zulaikha yang juga mendekat kearahnya.


"Aku mau ke sana!" Zulaikha menunjuk sebuah toko yang ada disebrang jalan, sementara Ammar melihat kearah belanjaan Zulaikha yang terlihat banyak dan memenuhi tas belanjanya.


Tanpa menunggu persetujuan Zulaikha, Ammar langsung mengambil alih tas belanja itu dari tangan Zulaikha membuatnya kaget dan menatap Ammar dengan bingung.


"Ammar?" tanya Zulaikha sembari menunjuk tas belanjanya yang sudah berpindah tangan.


"ayo, aku akan mengantar Mbak!" ajak Ammar sembari berjalan kearah mobilnya, dia lalu membuka bagasi bagian belakang untuk meletakkan barang belanjaan wanita itu.


Zulaikha mengikuti langkah Ammar dan masuk kemobil lelaki itu, tidak berselang lama Ammar juga masuk dan duduk di belakang kemudi.


"apa tidak merepotkan, Mar?" tanya Zulaikha, dia takut kalau lelaki itu sedang sibuk saat ini.


"tidak kok Mbak! aku tidak pernah merasa direpotkan kalau demi Mbak!"


Blush, tiba-tiba wajah Zulaikha memerah saat mendengar apa yang Ammar ucapkan. Dia lalu mengalihkan wajahnya kearah samping agar lelaki itu tidak melihat bagaimana ekspresi yang tampak diwajahnya saat ini.


"kendalikan dirimu Zulaikha, kau tidak boleh berpikir jauh terhadap Ammar!"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya teman Othor, dijamin seru dan bikin kalian betah baca 😍

__ADS_1



__ADS_2