Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 38. Kedatangan Agnes


__ADS_3

Ammar yang berdiri tepat dihadapan Zulaikha hanya bisa memandang Zulaikha dalam diam, hatinya ikut sakit saat melihat air mata yang mengalir bebas diwajah wanita itu.


"Zulaikha, kau adalah wanita yang bisa membuatku senang dan sedih secara bersamaan. Aku senang karna bisa kembali bertemu denganmu, tapi aku juga sedih saat melihat luka yang teramat dalam dari sorot mata indahmu," Ammar terus melihat ke arah Zulaikha tanpa mengedipkan matanya, tetapi tarikan tangan dari seseorang menyadarkannya dan langsung mengalihkan pandangan ke arah bawah.


"Papa, kalau 2 menit lagi aku gak makan. Aku bisa mati," seru Aziz sembari mengerucutkan bibirnya, sementara Ammar tersenyum geli dan menggendong bocah berusia 4 tahun itu.


Zulaikha yang mendengar suara Aziz langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Bu Dijah, dia lalu menundukkan kepalanya karna merasa malu dengan apa yang telah terjadi.


"Nak, segala hal yang terjadi didunia ini sesungguhnya telah ditentukan oleh Allah. Yang buruk maupun yang baik, yang hidup dan yang mati, yang sehat dan yang sakit. Bahkan sehelai daun yang terjatuh pun sudah ditentukan oleh Allah, dan siapalah kita yang mampu untuk mengubah garis yang telah Allah tentukan," ucap Bu Dijah dengan lembut, dia mengusap air mata yang masih membekas diwajah Zulaikha.


"Ibu yakin Nak, Allah sudah menyiapkan hadiah yang sangat istimewa untukmu dikemudian hari. Asal kau selalu sabar dan ikhlas menjalani semua takdirnya, dan buka hatimu untuk menerima segala cinta dari orang-orang yang menyayangimu," sambung Bu Dijah lagi.


Zulaikha tersenyum senang dengan semua nasehat yang diberi oleh wanita paruh baya itu, dia merasa tersentuh dengan kebaikan yang diberikan oleh orangtua Ammar.


"grandma, aku sudah sangat lapar. Kalau kita tidak makan, nanti kita bisa pasti!" seru Aziz yang mencoba untuk menghentikan percakapan neneknya dan Zulaikha.


Zulaikha dan Bu Dijah tersenyum simpul melihat raut wajah kesal Aziz, lalu mereka semua melangkahkan kaki ke arah dapur untuk menikmati makan siang yang sudah sangat lama tertunda.


Sementara itu, ditempat lain terlihat seorang pria sedang duduk dikursi taman yang ada di samping rumah orangtuanya.


Defin memandang ke arah kolam ikan dengan pikiran yang sudah melayang-layang, dan pikiran itu tentunya tertuju pada mantan istrinya yang saat ini sedang bersama dengan lelaki lain.


"sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan Ammar, Zulaikha? kenapa kalian terlihat sangat dekat? apa kalian punya hubungan istimewa? apa kau sudah dekat dengannya saat masih menjadi istriku?" Defin mengacak-acak rambutnya karna merasa kesal dengan segala pikiran yang bersarang dikepalanya, tanpa dia sadari kalau saat ini kedua orangtuanya sedang memperhatikan apa yang dia lakukan.


"Yah, Ibu merasa sangat sedih dan bersalah pada Defin. Kita telah menghancurkan hidupnya, kita juga telah menyakiti hatinya. Ibu merasa kasihan padanya, Yah," lirih Bu Diana, matanya berkaca-kaca melihat keadaan sang putra yang sudah berantakan.


"yang berlalu tidak bisa diubah lagi Bu, yang terpenting kita harus selalu memberi dukungan padanya," balas Ayah Rasyid, dia mengusap bahu sang istri untuk menenangkannya.

__ADS_1


Mereka lalu berjalan ke arah Defin yang masih bersandar dikursi itu, Ayah Rasyid menepuk bahunya membuat Defin terjingkat kaget dengan kepala yang melihat kearah orang yang menepuknya.


"kau sedang apa Nak?" tanya Ayah Rasyid, dia pura-pura tidak tau dengan keadaan putranya saat ini.


"tidak ada Yah, aku hanya sedang melihat ikan," bohong Defin, dia tidak mungkin menceritakan tentang Zulaikha pada kedua orangtuanya.


"apa kau sudah makan siang?" tanya Ibu Diana, dia mendudukkan pantatnya di samping Defin dan menepuk tangannya sekilas.


Defin menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sang Ibu, lalu mereka beranjak bangun dan pergi ke dapur untuk menikmati makan siang.


Pada saat yang sama, Ammar dan Ibunya sedang bersiap-siap untuk pergi dari rumah Zulaikha, mereka mengucapkan banyak terima kasih karna Zulaikha sudah menyambut mereka dengan baik.


"tante, besok Aziz datang lagi ke sini! Aziz mau jemput tante untuk main mobil-mobilan dirumah uncle Yusuf," seru Aziz yang saat ini sedang berada dalam gendongan Papanya.


"waah beneran? besok tante tunggu di sini ya," balas Zulaikha dengan senang, dia mencium pipi gembul Aziz membuat tangannya menempel dilengan Ammar.


Setelah berpamitan pada semua orang, Zulaikha mengantar Ammar dan keluarganya menuju mobil sedangkan Syifa dan Sita kembali ke toko mereka.


"hati-hati ya Bu, terima kasih sudah mau berkunjung kerumah saya," ucap Zulaikha sebelum mereka masuk ke dalam mobil.


"iya Nak, seharusnya kami yang berterima kasih karna sudah disambut dengan baik oleh semua keluargamu," balas Bu Dijah, lalu wanita paruh baya itu memeluk Zulaikha dengan erat dan mendaratkan kecupan dikening wanita itu membuat Zulaikha sedikit terkejut.


"sering-seringlah menghubungi Ibu, dan kalau kau pergi ke Malaysia, jangan lupa singgah ke rumah Ibu ya," sambung Bu Dijah yang dibalas dengan anggukan kepala Zulaikha.


"hati-hati ya, Ammar," seru Zulaikha pada Ammar yang sudah berada di dalam mobil, lelaki itu hanya tersenyum lebar dengan anggukan kepala menanggapi ucapan Zulaikha.


Namun, sebelum mereka pergi. Sebuah mobil berwarna merah menyala berhenti tepat di depan mobil Ammar membuat lelaki itu tidak bisa melajukan mobilnya.

__ADS_1


Dari dalam mobil berwarna merah itu, keluarlah seorang wanita yang sangat Zulaikha kenali. Dialah Agnes yang berjalan cepat ke arah Zulaikha.


Agnes berdiri tepat dihadapan Zulaikha membuat Ammar dan Ibunya menjadi bingung, Ammar kemudian beranjak bangun untuk menyuruh Agnes agar meminggirkan mobilnya.


"Agnes, apa yang kau-"


Plak, sebuah tamparan mendarat tepat dipipi Zulaikha membuat semua orang menjadi kaget. Ammar segera keluar dari mobilnya dengan emosi saat melihat apa yang terjadi dengan Zulaikha.


"dasar wanita murahan, tidak tau diri!" maki Agnes membuat Zulaikha mengangkat kepalanya dengan wajah memerah, bekas tamparan wanita itu.


"berhenti! apa seperti ini caramu memperlakukan orang lain?" seru Ammar yang sudah berdiri di samping Zulaikha, untung saja Agnes itu perempuan. Jika tidak, Ammar pasti sudah menghajarnya sampai babak belur.


"diam kau! aku tidak ada urusan denganmu," sentak Agnes, dia lalu memperhatikan wajah Ammar yang tidak asing dipikirannya.


"kalau kamu mau bicara, silahkan bicara. Manusia diberi otak dan pikiran oleh Allah untuk berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, bukan langsung melakukan sesuatu tanpa berpikir. Percuma kau diberi otak tapi tidak kau gunakan, lebih baik berikan otak itu pada binatang yang diluar sana!"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga ke karya terbaru aku ya, Menjadi Madu Sahabatku 😍 mohon dukungannya 🙏

__ADS_1


__ADS_2