Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 71. Kecurigaan Defin


__ADS_3

Suasana bahagia masih terus menyelimuti hati mereka semua karna saat ini Zulaikha dan Ammar sudah memutuskan untuk menikah, mereka yang selalu mendukung hubungan Zulaikha dan Ammar benar-benar merasa sangat bersyukur karna Allah telah mengabulkan semua do'a dan harapan mereka.


Karena semua keluarga sudah berkumpul ditempat itu, Ammar mengatakan pada Zulaikha untuk membatalkan semua pertemuan yang harus dia hadiri, siang ini Ammar ingin menghabiskan waktu dengan semua keluarganya.


"tapi, kenapa kalian semua ada di sini?" sebenarnya sedari tadi Ammar sangat penasaran kenapa semua orang bisa berada ditempat ini, dan sekarang dia baru punya kesempatan untuk menanyakan rasa penasarannya itu.


Ibu Dijah melirik kearah Rafa yang tentu saja langsung mendapat tatapan tajam dari Ammar, membuat lelaki itu langsung memalingkan wajah.


"aku hanya ingin berbagi kebahagiaan pada mereka, apalagi mereka sudah sangat lama menunggu momen paling bersejarah ini,"


Blush, wajah Ammar dan Zulaikha kembali memerah saat mendengar ucapan Rafa. Mereka merasa malu karna tidak menyangka bahwa apa yang mereka lakukan tadi akan ditonton oleh banyak orang.


Ditengah kebahagiaan yang sedang terjadi, ada seorang gadis yang saat ini sedang duduk disebuah kursi yang ada ditaman halaman samping restoran itu.


Beberapa kali dia mencoba untuk menahan air mata dan rasa sesak yang menyeruak di dalam hatinya, tetapi pertahanannya runtuh juga.


Syifa menundukkan kepalanya dengan tangis yang terus menetes dari kedua mata indahnya, dia benar-benar tidak bagaimana caranya agar air mata yang sejak tadi menetes bisa berhenti.


"ya Allah, Engkaulah yang maha segalanya. Engkaulah yang mengetahui semua isi hati manusia, dan Engkaulah yang menentukan semua takdir bagi setiap makhluk ciptaanMu. Aku mohon ya Allah, hilangkan lah semua rasa sakit dan sesak yang ada dalam relung hati hamba. Sesungguhnya hamba tidak punya kuasa atas diri hamba ini ya Allah, tolonglah hamba!"


Syifa terus terisak karna rasa sakit yang benar-benar menusuk hatinya, dia bahkan tidak tau harus berkata apa agar dia bisa meluapkan segala emosinya.


Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk bahu Syifa membuat gadis itu langsung mengusap air mata yang masih saja terjun bebas diwajahnya.


Syifa lalu melihat ke belakang untuk memastikan tangan siapakah yang saat ini sedang bertengger dibahunya.


Sita tersenyum saat melihat Syifa, dia lalu duduk di samping gadis itu dengan tetap menampilkan senyum manisnya.


"aku tau kalau kau adalah wanita yang hebat dan kuat Syif, bahkan saat ini aku sangat bangga padamu," ucap Sita, tangannya menggenggam erat tangan Syifa untuk memberikan semangat dan dukungan.

__ADS_1


"aku benar-benar jahat Sit, bagaimana mungkin aku bisa memiliki perasaan pada seseorang yang mencintai dan dicintai oleh Kakakku sendiri?" lirih Syifa, dia benar-benar merasa bersalah dan berdosa.


"aku sudah bilang bahwa tidak ada yang salah dan jahat di sini, bahkan kalau Mbak Zulaikha tau sekalipun. Dia akan tetap merasa bangga padamu,"


"tidak, Sit! aku tidak mau kalau sampai Mbak Zulaikha mengetahuinya, cukup kau saja yang tau!" pinta Syifa, biarlah hanya Sita dan Allah saja yang tau bagaimana perasaannya saat ini.


"aku mengerti! tapi, kau juga harus berjanji bahwa kau tidak akan menyalahkan dirimu sendiri. Perasaanmu itu tidak salah, karna kau berhasil mengendalikan perasaan cintamu itu. Jadi jangan menganggap kalau kau jahat atau bersalah!" ucap Sita, biar bagaimanapun sampai saat ini Syifa berhasil mengendalikan perasaannya sendiri.


Syifa menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan Sita, dia merasa sedikit tenang setelah mendengar semua perkataan wanita itu.


"Allah maha baik, Allah tidak mungkin memberi ujian diluar batas kesanggupan hambanya. Yakinlah bahwa suatu saat nanti, kau akan sadar kalau semua cobaan yang Allah berikan padamu karna Allah ingin mengangkat derajatmu menjadi manusia yang lebih baik lagi," sambung Sita, dia yakin kalau suatu saat nanti Syifa pasti akan berhasil melupakan perasaannya pada Ammar.


Syifa mengaminkan apa yang diucapkan oleh Sita, dia juga selalu berdo'a agar diberikan kemudahan dan petunjuk supaya bisa menjalani semua cobaan yang Allah berikan.


Sementara itu, ditempat lain terlihat seorang pria sedang duduk termenung di depan ruang ICU disebuah rumah sakit.


"sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Ibu bisa sampai jatuh dari tangga? dan kata Dokter Ibu mengalami serangan jantung?" Defin benar-benar merasa bingung dengan musibah yang dialami sang Ibu, dia harus memeriksa semuanya sendiri untuk mencari kebenarannya.


"Sayang, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Agnes, dia duduk di samping Defin dengan wajah yang tampak khawatir.


"seperti yang kau lihat!" jawab Defin dengan dingin, dia lalu menatap kearah Agnes dengan tajam membuat wanita itu sedikit merasa takut.


"apa kau benar-benar tidak mengetahui semuanya, Agnes?" untuk kesekian kalinya, Defin kembali bertanya mengenai jatuhnya Ibu Diana dari tangga karna memang kejadian itu terjadi dirumahnya sendiri.


"aku tidak tau, Sayang! aku kan sudah mengatakan semuanya padamu," jawab Agnes, dia mencoba untuk mengendalikan hatinya yang sudah benar-benar merasa takut.


Defin mengalihkan pandangannya kearah lain karna enggan bersitatp mata dengan wanita itu, dia benar-benar merasa curiga kalau Agneslah yang menyebabkan Ibunya terjatuh ditangga.


"kalian pulang saja Defin, biar Ayah yang menunggu Ibu!" ucap Ayah Rasyid, dia kasihan melihat putranya yang harus bolak-balik kerumah sakit dan kantor.

__ADS_1


Defin mengelengkan kepalanya untuk menolak ucapan Ayah Rasyid, dia tetap ingin berada di samping sang Ibu saat ini.


Lalu Defin beralih melirik kearah Agnes dan memerintahkan wanita itu untuk pulang, entah kenapa saat ini Defin benar-benar tidak ingin melihat wanita itu.


Tanpa diperintah dua kali, Agnes langsung pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang menuju rumahnya.


Sepanjang perjalanan, Agnes terus memikirkan tentang apa yang telah terjadi. Dia takut kalau suatu saat nanti, Defin mengetahui semua yang telah dia lakukan dan berakhir dengan melaporkannya ke kantor polisi.


"Sial!" Agnes memukul-mukul setir mobilnya karna merasa kesal dengan apa yang sedang terjadi saat ini, padahal dia sudah bersusah payah merencakan semuanya tetapi hasilnya malah tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.


"kenapa wanita tua itu tidak mati saja sih! bagaimana jika nanti dia bangun dan membongkar semuanya?" Agnes benar-benar sednag diliputi oleh rasa kesal dan gelisah.


"tidak! itu tidak boleh terjadi! Aku harus melakukan sesuatu sebelum wanita tua itu membuka matanya," gumam Agnes, dia lalu melajukan mobilnya menuju rumah seseorang.





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Oh yah, aku mau kasi bonus visual karakter Zulaikha dan Ammar untuk kalian 😍 semoga kalian suka yah 🥰



__ADS_1


__ADS_2