Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 47. Masa Lalu Zulaikha


__ADS_3

Setelah pemikiran panjang akhirnya Zulaikha memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dia lalu menghubungi Ridwan untuk memberitahukan tentang kepindahannya.


Ridwan yang merasa terkejut dengan keputusan Zulaikha beranjak pergi kerumah wanita itu beserta dengan sang istri, dia ingin mendengar langsung alasan Zulaikha pergi jauh dari tempat tinggalnya.


"sebenarnya ada apa Dek?" tanya Ridwan, setelah sebelumnya dia berkenalan dengan Ammar dan juga Ibunya yang masih berada dirumah Zulaikha.


Zulaikha terpaksa menceritakan yang sejujurnya pada Ridwan sekaligus untuk meminta pendapatnya, sementara Syifa sedang sibuk menyusun semua barang-barang yang akan dibawa pergi dari rumah itu.


Ridwan merasa sangat emosi saat mendengar semua cerita Zulaikha, dia bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya sampai urat-uratnya menonjol disekitar leher.


"benar-benar manusia yang tidak punya hati, mereka tidak akan pernah hidup bahagia sampai kapanpun!" Ridwan yang sudah merasa sangat marah tidak bisa lagi mengontrol emosinya sehingga menyumpahi mereka yang selalu mengganggu Zulaikha.


"Mas, tidak baik berkata seperti itu!" tegur Aisyah, dia mencoba untuk menenangkan suaminya walaupun dia sendiri merasa geram atas apa yang telah Ibu Diana lakukan pada Zulaikha.


"jadi, bagaimana menurut Mas?" tanya Zulaikha, dia sudah harap-harap cemas dengan keputusan yang akan Ridwan ambil mengenai kepergiannya.


"kenapa kau masih bertanya Dek, Mas selalu mendukung apapun keputusanmu," jawab Ridwan, sebenarnya dia kurang setuju kalau Zulaikha pergi dari tempat itu karna memang tidak seharusnya mereka mengusir Zulaikha dari rumahnya sendiri.


Namun, Ridwan juga tidak mau kalau mereka selalu mengganggu dan membuat masalah dengan Zulaikha. Sehingga dia menyerahkan semua keputusan itu pada Zulaikha.


"tapi, kau akan pergi ke mana Dek?" tanya Ridwan, raut khawatir terlihat jelas diwajah lelaki itu.


"insyaallah aku akan pergi bersama dengan mereka, Mas," ucap Zulaikha sembari melihat kearah Ammar dan Ibunya.


Ridwan yang sudah tau mengenai keluarga Ammar merasa sedikit tenang, apalagi dia sudah kenal dengan Yusuf yang merupakan saudara dekat dari keluarga lelaki itu.


"baiklah, Mas akan mengurus semua hal mengenai kepergian kalian," ucap Ridwan kemudian, dia akan segera mengurus semua hal penting mengenai sekolah Syifa yang tentunya akan ikut pindah bersama dengan Zulaikha.


Lalu Ridwan beralih melihat kearah Ammar yang saat itu sedang sibuk memperhatikan Zulaikha, Ridwan tersenyum tipis karna mengetahui kalau lelaki itu jatuh hati pada Adik perempuannya.


"Ammar, apa aku boleh berbicara empat mata denganmu?" ucap Ridwan membuat semua orang melihat kearahnya.

__ADS_1


"tentu saja, Mas!" jawab Ammar seraya bangkit dan mengikuti langkah Ridwan untuk keluar dari rumah itu, sementara yang lainnya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Setelah sampai diluar, Ridwan mengajak Ammar untuk ke kafe terdekat sembari mengakrabkan diri. Mereka lalu berjalan kaki karna memang lokasi kafe itu hanya ada disebrang toko Zulaikha.


"kau mau pesan apa Ammar?" tanya Ridwan, dia kemudian menyebutkan pesanannya pada seorang pelayan yang berdiri dihadapan mereka.


"aku kopi juga ya, Mbak!" seru Ammar, kemudian pelayan itu pergi dan menyiapkan pesanan mereka.


"Ammar, aku ingin membicarakan hal penting mengenai Zulaikha padamu," ucap Ridwan tiba-tiba, Ammar yang tadinya melihat kearah luar kafe mengalihkan pandangannya kearah Ridwan yang duduk tepat dihadapannya.


"silahkan saja, Mas! aku akan mendengar semua cerita yang Mas sampaikan padaku," seru Ammar dengan sangat antusias, dia merasa sangat bersemangat jika membahas tentang Zulaikha.


"tapi sebelumnya, aku ingin bertanya satu hal padamu-" ucapan Ridwan terpaksa berhenti karna kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka, pelayan itu meletakkan dua gelas kopi ke meja yang ada dihadapan mereka.


"terima kasih, Mbak!" ucap Ammar dengan ramah membuat pelayan kafe itu tersipu malu, dia lalu menjauh dari meja mereka dan kembali ketempatnya.


"apa kau menyukai Zulaikha, Ammar?"


"te-terima kasih, Mas!" ucap Ammar, dia kemudian meminum kopi untuk menghilangkan rasa yang tidak enak ditenggorokannya.


"maaf ya Mar, pasti kau terkejut dengan apa yang aku katakan!" lirih Ridwan, dia merasa sangat bersalah karna membuat lelaki itu sampai tersedak seperti itu.


"tidak, Mas! aku cuma sedikit terkejut," bantah Ammar, walaupun dia masih mengatakan sedikit terkejut pada lelaki itu.


"eem sejujurnya, aku memang menyukai Mbak Zulaikha sejak pertama kali bertemu dengannya Mas!" ucap Ammar dengan pelan, dia merasa gugup seperti sedang meminta izin untuk meminang seorang gadis.


"aku sudah tau, Ammar. Aku bisa melihat jelas dari sorot matamu saat memandang Zulaikha,"


Ammar merasa malu mendengar ucapan Ridwan, wajahnya bahkan sampai memerah membuat Ridwan terkekeh geli karna tidak menyangka kalau lelaki seperti Ammar bisa tersipu malu seperti itu.


"tapi kau tau sendirikan bagaimana keadaan Zulaikha saat ini, mungkin dia masih merasa trauma atau bahkan belum bisa melupakan masa lalunya bersama mereka," sinis Ridwan, rasa benci yang tumbuh dihatinya untuk keluarga Defin semakin hari semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"aku mengajak Mbak Zulaikha pergi bukan berarti aku akan langsung menikahinya, Mas. Aku hanya tidak ingin melihat Mbak Zulaikha menderita, walaupun hatiku benar-benar jatuh cinta dan ingin sekali menikah dengannya," balas Ammar, ucapannya itu berhasil membuat hati Ridwan tersentuh.


"Zulaikha adalah adikku yang paling baik dan lemah lembut, dia selalu menjaga perasaan orang lain dan selalu mengalah atas apa yang orang lain lakukan padanya. Termasuk menerima Syifa dan menyayanginya, walaupun Syifa adalah anak dari hubungan Ayahnya dengan wanita lain,"


Ammar terlonjak kaget dengan apa yang baru saja dia dengar, Ammar tidak percaya kalau ternyata Syifa adalah saudara yang tidak seibu dengan Zulaikha.


"selama ini, kami menjaga rahasia itu dari Syifa. Kami tidak mau dia merasa tidak nyaman karna mengetahui masalah itu," ucap Ridwan kemudian, dia menghela napas kasar saat kembali teringat dengan masa lalu.


"dan untuk Zulaikha, dia menikah diusia yang bisa dibilang tidak muda lagi. Sangat sulit baginya melupakan masa lalu yang terjadi diantara kedua orangtuanya, yang menyebabkan Bibiku terkena serangan jantung dan meninggal," lirih Ridwan, terlihat jelas bagaimana sakitnya dia saat mengetahui Bibi semata wayangnya pergi meninggalkannya.


Ammar turut berduka dengan apa yang dia ketahui hari ini, dia tidak menyangka kalau Zulaikha akan mengalami hal seperti itu.


"Zulaikha menikah saat usianya menginjak 28 tahun, dan tidak sampai setahun. Dia harus mengalami penderitaan yang mungkin aku sendiri tidak akan sanggup menghadapinya. Luka yang dia rasakan dulu kembali terulang dalam bahtera rumah tangganya," akhirnya pertahanan Ridwan runtuh juga, dia menghapus air mata yang berhasil lolos disudut matanya.


"ketahuilah Ammar, kalau dia saat ini hanya sedang berpura-pura untuk kuat dan selalu tersenyum dengan semua orang. Tanpa orang lain ketahui, dia selalu menangis dalam setiap hembusan napasnya dimalam hari,"


suasana terasa sangat sesak dan menyakitkan saat ini, kedua lelaki itu benar-benar merasa prihatin atas nasib yang menimpa kehidupan Zulaikha.


"insyaallah aku akan selalu membahagiakannya, Mas! aku akan menghapus semua luka yang telah menggores relung hatinya selama ini," ucap Ammar dengan yakin, apapun akan dia lakukan agar hidup Zulaikha dipenuhi dengan kebahagiaan.


"terima kasih Ammar, terima kasih," balas Ridwan, dia merasa bersyukur karna bisa bertemu dengan mengenal lelaki sebaik Ammar. Walaupun dia baru saja mengenal lelaki itu, tetapi hati kecilnya merasa yakin kalau Ammar adalah lelaki yang memiliki hati yang baik serta akhlak yang mulia.


"ya Allah, izinkanlah aku untuk bisa membahagiaakan Mbak Zulaikha. Berkahilah setiap langkah yang akan aku ambil,"





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2