
Ammar berjalan kerumah Zulaikha dengan pikiran yang tidak tenang, dia takut kalau apa yang akan dia katakan nanti membuat Zulaikha menjadi sedih dan menangis.
"Eits, Ammar! mau ke mana kau?" Mikayla yang baru saja keluar dari rumah Zulaikha tidak sengaja berpapasan dengan Ammar dihalaman rumah Zulaikha, dia menghentikan langkah Ammar yang sepertinya tidak sadar kalau ada dia ditempat itu.
"Mika? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ammar, dia sedikit terkejut saat mendengar suara wanita itu.
"seharusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan di sini? kau mau menemui Mbak Zulaikha diam-diamkan?" tuduh Mikayla dengan menyipitkan sebelah matanya.
Dari kejauhan, terlihat seorang wanita paruh baya sedang berjalan kearah mereka berdua. Ibu Dijah mempercepat langkah kakinya saat melihat Ammar dihalaman rumah Zulaikha, padahal dia sudah melarang putranya agar tidak bertemu dengan Zulaikha sampai acara nanti malam.
"bukan begitu, aku cuma-"
"Cuma apa, Ammar? apa kau tidak bisa menahan perasaanmu sampai nanti malam?"
Ammar dan Mikayla langsung melihat kearah belakang saat mendengar suara Ibu Dijah, sementara Ibu Dijah semakin mempercepat langkah kakinya.
Ammar menyalim tangan sang Ibu saat wanita paruh baya itu sudah berdiri di sampingnya, sementara Mikayla hanya tersenyum simpul sembari mengedipkan sebelah matanya pada Ibu Dijah.
"Ibu sudah mau pulang?" tanya Ammar setelah melepaskan tangan Ibunya, terlihat Bu Dijah memandang Ammar dengan tajam.
"kenapa? apa Ibu enggak boleh pulang?" Ibu Dijah balik bertanya pada Ammar yang dibalas dengan senyum lelaki itu.
"bukan begitu Bu, aku kan cuma bertanya saja," ucap Ammar, dia lalu melanjutkan langkahnya untuk bertemu dengan Zulaikha.
Ibu Dijah yang tau ke mana arah tujuan putranya langsung menarik baju Ammar membuat langkah lelaki itu terhenti, dia lalu menoleh pada sang Ibu seolah-olah sedang bertanya apa maksud dari tarikan yang Ibunya lakukan.
"Ibu sudah mengatakan padamu kan, Ammar! kau tidak boleh bertemu dengan Zulaikha sebelum acara lamaran tiba," ucap Ibu Dijah, dia kembali mengingatkan apa yang telah dia katakan tadi pagi.
Mendengar apa yang Ibunya katakan, Ammar lalu melirik kearah Mikayla yang saat itu masih berada ditempat itu.
Mikayla yang tau arti dari lirikan Ammar bergegas untuk pamit dan berlalu pergi kerumah Ammar, sementara Ibu Dijah melihat Ammar dengan bingung karna dia merasa kalau ada sesuatu hal yang ingin Ammar katakan dengannya.
"Bu, ada hal penting yang harus aku katakan pada Zulaikha," ucap Ammar.
__ADS_1
Dia lalu menceritakan semua hal yang terjadi pada orang tua Defin termasuk tentang permintaan mereka yang ingin bertemu dengan Zulaikha, Ammar juga mengatakan kalau dia harus memberitahu Zulaikha mengenai apa yang telah dikatakan oleh Ridwan padanya.
"bagaimana menurut Ibu?" tanya Ammar setelah selesai menceritakan semuanya pada sang Ibu.
Ibu Dijah tersenyum saat mendengar apa yang Ammar katakan, "kau sudah melakukan hal yang tepat, Nak! jangan sampai nantinya terjadi sesuatu yang membuat Zulaikha merasa sedih," ucap Ibu Dijah, dia bangga pada Ammar yang masih tetap memikirkan mantan mertua Zulaikha walaupun saat ini seharusnya mereka sibuk menyiapkan acara lamaran yang akan terjadi beberapa jam lagi.
"Ayo, kita harus memberitahu Zulaikha mengenai hal ini!" Ibu Dijah menarik tangan Ammar menuju rumah Zulaikha, mereka tidak bisa membuang waktu lagi untuk membicarakan hal penting itu pada Zulaikha.
"assalamu'alaikum," ucap Ammar dan Ibunya saat masuk ke dalam rumah, terdengar beberapa orang termasuk kedua Adik Zulaikha menjawab salam dari mereka.
"loh, Mas Ammar? kok, datangnya cepat sekali?" goda Sita sembari turun dari atas tangga, dia sedang sibuk memasang dekorasi untuk acara penting malam nanti.
Syifa yang melihat Ammar hanya tersenyum dengan tipis, dia lalu memalingkan wajahnya karna masih merasa sesak jika berlama-lama menatap wajah lelaki itu yang berhasil menyusup ke dalam hatinya tanpa izin.
"namanya juga sudah enggak tahan, Sit!" jawab Ammar dengan tawanya membuat beberapa orang yang ada ditempat itu ikut tertawa saat mendengar ucapannya.
"wah, kayaknya kita harus cepat-cepat nih Buk!" ucap Sita pada Bu Dijah yang sudah duduk di atas sofa, wanita paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya melihat apa yang Ammar dan Sita lakukan diruangan itu.
"di mana Zulaikha, Sita?" tanya Bu Dijah kemudian, dia tadi melihat Zulaikha di samping rumah tetapi saat ini wanita itu tidak terlihat di mana pun berada.
"kami boleh ke kamarnya langsung kan? ada sesuatu yang ingin Ibu dan Ammar katakan pada Zulaikha!" ucap Ibu Dijah lagi, Sita langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari Bu Dijah.
Dia lalu mengantar Ammar dan Ibunya ke kamar Zulaikha, terlihat pintu kamar itu sedikit terbuka dan tampaklah Zulaikha sedang menunaikan ibadah shalat Dhuha.
"Ibu dan mas Ammar tunggu di sini saja, sebentar lagi Mbak pasti selesai," ucap Sita, dia membuka pintu kamar Zulaikha untuk mempersilahkan Ammar dan Ibunya menunggu di dalam kamar.
"Ibu masuk saja, biar aku menunggu di sana!" Ammar menunjuk sebuah kursi yang berada tidak jauh dari kamar Zulaikha, dia merasa tidak nyaman kalau masuk ke dalam seorang wanita yang belum menjadi istrinya.
Setelah mengantar Ammar dan Ibunya, Sita kembali keruang tamu untuk melanjutkan pekerjaannya sedangkan Ibu Dijah menunggu Zulaikha sampai selesai mengerjakan shalat.
Tidak berselang lama, Zulaikha sudah selesai dengan shalatnya. Dia berbalik dan sedikit terkejut saat melihat keberadaan Ibu Dijah dikamarnya.
"Ibu?" ucap Zulaikha sembari duduk di samping wanita paruh baya itu yang sedang duduk di atas ranjang.
__ADS_1
Ibu Dijah tersenyum melihat wajah terkejut Zulaikha, dia lalu memanggil Ammar untuk masuk ke dalam kamar karna Zulaikha sudah selesai mengerjakan shalat.
Zulaikha mengerutkan keningnya saat melihat Ammar juga ada ditempat itu, dia mulai menerka-nerka tentang apa yang sedang terjadi saat ini.
"maaf Mbak, kalau kedatangan kami membuat Mbak terkejut! tapi, ada hal penting yang harus kami sampaikan pada, Mbak!" ucap Ammar, dia duduk di atas kursi yang berada tepat dihadapan Zulaikha.
"Tidak apa-apa, Mas! katakan saja jika ada sesuatu yang penting." Zulaikha menganggukkan kepalanya untuk mempersilahkan Ammar mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Kemudian Ammar mulai menceritakan semua hal yang dikatakan oleh Ridwan, termasuk kondisi Ibu Diana yang saat ini masih berada dalam keadaan kritis.
"maaf kalau aku lancang, Mbak! tapi, apa tidak sebaiknya kalau kita segera berangkat ke sana?" ucap Ammar dengan pelan, dia takut kalau ucapannya menyinggung perasaan Zulaikha.
Zulaikha lalu melihat kearah Ammar dengan sendu, "apa tidak apa-apa?" tanya Zulaikha, dia merasa tidak enak hati pada Ammar dan juga Ibunya.
Ammar dan Ibu Dijah tersenyum saat mendengar ucapan Zulaikha.
"tentu saja tidak apa-apa, Nak! Ibu rasa memang seharusnya kalian pergi ke sana, dan untuk acara lamaran kalian, kita bisa melakukannya di Indonesia," ucap Ibu Dijah, dia menggenggam kedua tangan Zulaikha membuat wanita itu merasa terharu.
Zulaikha lalu melihat kearah Ammar seolah-olah sedang bertanya pada lelaki itu tentang masalah ini, dan Ammar membalas tatapan Zulaikha dengan anggukan kepalanya.
"terima kasih Bu, Mas!" ucap Zulaikha sembari memeluk tubuh calon mertuanya, dia merasa benar-benar bersyukur karna diberi keluarga baru sebaik mereka.
"Ya Allah, berkahilah setiap langkah kami,"
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Mampir juga yuk ke karya temen Aku, dijamin keren dan seru 😍