
"Ibu turut berduka Agnes, andai saja kau bisa lebih berhati-hati lagi," lirih Ibu Diana, ucapannya itu seketika membuat Agnes menatap tajam padanya.k
"apa maksud Ibu? apa Ibu pikir aku tidak menjaga kandunganku!" ucap Agnes dengan tajam, dia merasa tersinggung dengan apa yang diucapkan oleh wanita paruh baya itu.
"tidak Agnes, bukan itu maksud Ibu,"
"alah, sudah lah Bu! Aku tau kalau selama ini Ibu tidak pernah menyukaiku, Ibu bahkan menikahkan Defin dengan wanita itu. Dan sekarang? Ibu malah menyalahkanku atas kematian anakku sendiri," lirih Agnes dengan deraian air mata yang sudah membasahi pipi.
Bu Diana dan Ayah Rasyid saling pandang saat mendengar apa yang Agnes ucapkan, hati kecil mereka mengatakan kalau apa yang diucapkan wanita itu adalah benar.
"Ibu minta maaf Agnes, Ibu tau kalau selama ini Ibu telah melakukan banyak kesalahan pada kalian." Ibu Diana menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk mata.
Begitu juga dengan Ayah Rasyid yang memasang raut sedih pada wanita itu, dia merasa bahwa masalah yang sedang terjadi ini adalah teguran dari yang Maha Kuasa untuk mereka.
"kalau hanya meminta maaf, itu tidak akan mengubah apa yang telah terjadi Bu," ucap Agnes, terlihat dia sedikit menarik sudut bibirnya dengan sinis sembari memikirkan ide cemerlang yang tadi diberitahu oleh Rio. Sementara Ibu Diana beralih melihat ke arah wanita itu dengan penuh tanda tanya.
"jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Bu Diana dengan polos, wanita paruh baya itu mengusap sisa-sisa air mata yang masih membekas diwajahnya.
"ada satu cara Bu, dan Ibu harus melakukan semua itu untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi. Dan juga agar hubunganku dan Defin kedepannya bisa berjalan dengan bahagia," ucap Agnes, dia mulai melakukan serangan pertamanya agar apa yang dia inginkan segera terwujud.
"katakan Agnes, apa yang harus Ibu lakukan?" tanya Bu Diana dengan sangat antusias, dia merasa harus bertanggungjawab karna telah menyakiti dan merusak hubungan Agnes dan juga Defin.
"apa Ibu yakin, akan melakukannya?" tanya Agnes dengan lirih sembari memasang wajah memelasnya, dia harus benar-benar membuat mereka kasihan terhadapnya.
Ibu Diana mengganggukkan kepalanya untuk menjawab apa yang Agnes tanyakan, sementara Ayah Rasyid hanya memperhatikan mereka tanpa ada niatan untuk turut serta.
__ADS_1
"Ibu harus menyuruh Zulaikha untuk pergi dari wilayah ini,"
"Apa?" Ibu Diana merasa sangat kaget dengan apa yang Agnes ucapkan, dia bahkan sampai berdiri dengan mata melotot dan wajah yang sangat tegang mendengar apa yang wanita itu inginkan.
"apa kau tidak salah, Agnes?" Ayah Rasyid yang tadinya tidak ingin ikut campur mendadak angkat suara, dia merasa sangat kaget saat mendengar apa yang Agnes ucapkan.
"aku tidak salah, Ayah! hanya itu satu-satunya cara agar hubunganku dan Defin kembali seperti dulu,"
"apa hubungannya Agnes? apa hubungannya Zulaikha dengan semua ini? kenapa dia harus pergi dari rumahnya sendiri?" tanya Ayah Rasyid dengan emosi, dia tidak habis pikir kenapa malah Zulaikha yang terkena imbasnya.
"kenapa Ayah bilang? apa Ayah lupa kalau wanita itu yang pernah menjadi istri Defin!" balas Agnes tak kalah emosi dari Ayah Rasyid, dia bahkan sampai turun dari ranjang sangking emosinya saat ini.
"terus apa masalahnya? toh sekarang mereka sudah bercerai, dan Defin sudah menjadi suamimu sekarang!"
Ibu Diana yang melihat perdebatan antara suami dan menantunya merasa bingung harus melakukan apa, sebenarnya dia juga tidak setuju dengan apa yang Agnes inginkan. Tetapi dia juga tidak ingin semakin memperkeruh suasana panas yang sedang terjadi saat ini.
Ayah Rasyid mengusap wajahnya dengan kasar, dia lalu duduk kembali saat kepalanya terasa pusing dan berputar-putar. Sementara Ibu Diana beralih ke sisi sang suami yang sudah duduk dengan tangan yang memijat kepalanya.
"sudah Yah, jangan berdebat lagi!" lirih Bu Diana, dia memijat kepala sang suami yang sudah terlihat sedikit pucat. Sementara Agnes sedang menatap tajam pada mereka berdua dengan otak yang terus berpikir keras agar Ibu mertuanya mau melakukan apa yang dia inginkan, karna jika tidak maka semua rencananya hanya akan berakhir seperti debu.
"memang apa salahnya jika aku menginginkan itu? selama ini aku sudah banyak mengalah, aku membiarkan lelaki yang sangat aku cintai menikah dengan wanita lain. Aku membiarkan dia membina rumah tangga bersama wanita pilihan orangtuanya, sedangkan aku? apa yang aku dapatkan? aku hanya mendapat status seorang istri siri yang pastinya selalu direndahkan dan dihina oleh orang lain," Agnes terisak sembari berjongkok di samping ranjang, dia membenamkan kepalanya di antara kedua kaki dan terus menangis dengan pilu.
Ibu Diana melirik ke arah suaminya yang terlihat acuh saja dengan apa yang Agnes lakukan, sementara dia sendiri merasa sangat bingung saat ini.
Kemudian Ibu Diana bangkit dan mendekat ke arah Agnes, dia memegang kedua bahu wanita itu hingga Agnes mendongakkan kepalanya dengan mata yang sembab dan wajah memerah.
__ADS_1
"Ibu mengerti dengan apa yang selama ini kamu rasakan Agnes, dan Ibu merasa sangat bersalah padamu. Tapi Ibu tidak bisa-"
"tidak! Ibu tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan, Ibu bahkan tidak pernah berada diposisiku saat ini. Hanya orang yang merasakannya lah yang paham betul bagaimana rasa sakitnya saat melihat suami yang sangat aku cintai menikah dengan orang lain, bahkan aku juga kehilangan anakku karna orang tersebut!" potong Agnes dengan tajam, dia lalu melepaskan kedua tangan Bu Diana dan beranjak naik ke atas ranjang.
Ibu Diana kembali diam, dia terlihat bingung dengan permintaan wanita itu. Disatu sisi dia ingin mengabulkan keinginan Agnes sebagai permaintaan maaf, tetapi disisi lain dia tidak mau lagi menyakiti hati Zulaikha karna memang semua ini adalah kesalahannya sendiri.
Ayah Rasyid yang tidak ingin lagi berdebat memilih untuk keluar ruangan meninggalkan dua orang wanita yang masih sama-sama terdiam ditempat mereka, sementara Agnes yang melihat kepergian lelaki paruh baya itu semakin merasa senang karna dia akan lebih leluasa untuk merayu Ibu Diana.
"Bu, mengertilah akan posisiku. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama suamiku Bu, hiks," Agnes kembali terisak mencoba untuk membuat hati Bu Diana menjadi luluh.
Ibu Diana benar-benar merasa bingung saat ini, dia lalu memilih untuk pamit dan menengkan diri agar bisa membuat keputusan yang akan dua lakukan.
"aku mohon Bu, ini adalah permintaan pertama dan terakhirku! selama ini aku selalu menerima apa yang Ibu lakukan terhadap hubunganku dan Defin, jika ada sedikit saja hati nurani Ibu maka lakukanlah apa yang aku inginkan!"
Ibu Diana yang sudah berada diambang pintu kembali menghentikan langkah kakinya, dia lalu berbalik dan tersenyum ke arah Agnes.
"tapi Ibu juga sudah terlalu banyak menyakiti Zulaikha, Agnes. Bagaimana mungkin saat ini Ibu menyakitinya lagi?"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 🥰