
Ammar mengajak Zulaikha dan kedua adiknya untuk masuk ke dalam rumah, kemudian mereka semua duduk diruang keluarga yang sangat nyaman dan hangat.
"bagaimana? apa kalian suka tinggal di sini?" tanya Ibu Dijah sembari mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan oleh pembantu.
"insyallah Bu, kami pasti akan sangat suka tinggal di sini," jawab Zulaikha, dia lalu melihat ke sekeliling dan matanya matanya fokus menatap ke satu bingkai foto besar yang ada diruangan itu.
"inilah rumah kami, dan yang di samping tadi rumah kalian. Jika ada sesuatu hal, jangan ragu untuk datang ke sini," ucap Ibu Dijah lagi, sebenarnya dia lebih suka kalau mereka bertiga tinggal dirumahnya.
Apalagi keadaan rumahnya yang sepi pasti akan menjadi ramai dengan kehadiran mereka. Namun, Zulaikha sudah menolak tawarannya dan diapun tidak bisa memaksakan apa yang dia inginkan.
"waah, itu foto Aziz waktu kecil ya?" seru Syifa sembari menunjuk sebuah potret yang tadi sempat manarik perhatian Zulaikha, terlihat difoto itu Aziz sedang duduk dipangkuan sepasang lelaki dan perempuan.
"iya, itu foto pertamanya dengan kedua orangtuanya,"
Zulaikha dan kedua adiknya mengerutkan kening saat mendengar apa yang Ammar ucapkan, mereka lalu memandang lelaki itu dengan penuh tanda tanya.
"wanita dan pria yang ada difoto itu adalah almarhum Abang dan Kakak iparku, mereka orangtua Aziz," sambung Ammar, dia sepertinya mengerti kalau Zulaikha dan kedua adiknya pasti bingung dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
"ja-jadi, Aziz bukan anaknya Mas?" tanya Syifa, dia melihat kearah foto dan kearah Ammar secara bergantian.
Ammar dan Ibu Dijah tersenyum saat mendengar pertanyaan Syifa, tetapi dibalik senyum itu ada sebuah luka yang sampai sekarang masih membekas dalam hati mereka.
"Aziz itu bukan anakku, tapi dia sudah melebihi anak buatku," jawab Ammar, dia lalu menggenggam kedua tangan Ibunya yang kembali sedih jika mengingat tentang kedua orangtua Aziz.
"maafkan kami, Ammar. Kami tidak bermaksud untuk membuat kalian sedih," ucap Zulaikha, dia merasa bersalah karna sudah membuat suasana menjadi menyedihkan seperti ini.
"tidak apa-apa Mbak, toh lambat-laun kalian pasti akan mengetahuinya," balas Ammar, dia lalu mulai menceritakan tentang kedua orangtua Aziz yang sudah meninggal dua tahun lalu.
__ADS_1
Flashback.
Telah terjadi kecelakaan beruntun, disebuah jalan yang sedang dipadati oleh pengguna lalu lintas. Beberapa mobil tertabrak oleh mobil pembawa bahan bakar yang mengalami rem blong, hingga menabrak kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti dilampu merah.
Kecelakaan besar tidak bisa dihindarkan, bahkan beberapa mobil langsung terbakar karna percikan bahan bakar yang dibawa oleh mobil yang mengalami rem blong.
Dalam kecelakaan itu, ada sepasang suami istri dan putra mereka yang merupakan anggota dari keluarga terpandang yang ada dikota itu. Yaitu Muhammad Al-Azzam dan istrinya Ainun Qolbiyah, serta putra mereka Muhammad Al-Aziz yang merupakan bagian dari perusahaan Azza.
Mereka terjepit di dalam mobil karna berada tepat di tengah-tengah kecelakaan beruntun itu, cukup lama polisi bisa mengeluarkan mereka karna adanya ledakan yang terjadi dilokasi itu.
Wanita yang bernama Ainun meninggal ditempat sedangkan suaminya mengalami kondisi yang sangat kritis, sementara putra mereka dalam keadaan baik-baik saja karna dipeluk oleh sang Ibu.
Ammar yang mendengar berita tentang kecelakaan itu langsung menghubungi sang Kakak, dia merasa sangat cemas saat beberapa kali panggilannya tidak dijawab. Lalu, tanpa menunggu apapun lagi. Ammar langsung tancap gas kelokasi kecelakaan, di mana tempatnya berjarak sekitar 3 km dari rumahnya.
Sesampainya dilokasi, Ammar melihat ada banyak polisi serta petugas medis yang berusaha menyelamatkan para korban kecelakaan. Matanya lalu menangkap satu anak kecil yang saat itu sedang digending oleh salah seorang polisi karna baru saja dikeluarkan dari dalam mobil.
"ya Allah, Aziz!" teriak Ammar sembari berlari kearah Aziz, tetapi langkahnya terhenti saat petugas kepolisian melarangnya untuk memasuki tempat kejadian kecelakaan.
"kami akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, Pak!" seru petugas tersebut, lalu dia memerintahkan petugas yang sedang menggendong Aziz untuk membawanya pada Ammar.
"ya Allah Aziz, kau tidak papakan Nak?" Ammar memeluk Aziz dengan erat serta memeriksa tubuh keponakannya itu, air mata sudah tidak bisa lagi dia tahan saat melihat kondisi yang sangat menyedihkan ini.
"Pa-pa, Pa-pa," oceh Aziz sembari menepuk-nepuk pipi Ammar membuat lelaki itu semakin pilu.
"iya Nak, ini Papa. Papa akan membawa Aziz pulang ya, sabar ya!" lirih Ammar sembari menggendong tubuh Aziz yang dilumuri oleh darah, kemungkinan besar itu adalah darah orangtuanya karna tidak ada sedikitpun luka yang menggores tubuh bocah kecil itu.
"Pak, kami telah membawa jenazah salah satu keluarga anda kerumah sakit. Sementara Pak Azzam sedang dalam kondisi-"
__ADS_1
Bruk, petugas kepolisian tidak dapat melanjutkan laporannya saat tubuh Ammar terjatuh begitu saja ke atas tanah.
"Pak!" teriak mereka sembari membantu Ammar untuk berdiri, salah seorang dari mereka segera mengambil Aziz dari gendongannya karna melihat anak itu sudah akan menangis karna melihat kondisi Ammar seperti itu.
"ya Allah ya Tuhanku, kenapa semua ini terjadi ya Allah," Ammar benar-benar syok dengan apa yang sedang terjadi saat ini, sangking terkejutnya dia bahkan tidak bisa untuk mengucapkan apa-apa selain terus menyebut nama Allah.
Lalu petugas kepolisian segera membawa Ammar dan juga Aziz kerumah sakit.
Flashback end.
Semua orang terdiam mendengar semua cerita Ammar tentang kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orangtua Aziz, tangis kesedihan memenuhi ruangan itu saat merasakan betapa terpukulnya keluarga mereka saat mendengar berita tentang kecelakaan itu.
"Bang Azzam sempat dirawat selama beberapa hari dirumah sakit, tetapi Allah ternyata lebih sayang padanya," ucap Ammar kemudian, dia menghapus lelehan air mata yang berhasil keliar dari sudut matanya, sementara Ibu Dijah sudah terisak dalam pelukan Zulaikha karna teringat dengan putra dan juga menantunya.
"sabar Bu, semua ini sudah takdir dari yang kuasa. Allah sangat menyayangi anak-anak Ibu, hingga Dia memanggil mereka terlebih dahulu daripada kita," lirih Zulaikha, dia mengusap bahu wanita paruh baya itu untuk memberikan ketenangan.
"Ibu bahkan tidak ada bersama mereka saat itu Nak, Ibu tidak bisa menemani mereka berjuang untuk bertahan hidup," ucap Ibu Dijah dengan terbata-bata. Saat kecelakaan terjadi, Ibu Dijah sedang berada diIndonesia menghadiri acara dikediaman Yusuf.
"Bu, semua sudah digariskan oleh yang maha kuasa. Ibu tidak boleh bersedih lagi, karna Abang dan Kakak ipar pasti juga akan sedih melihat Ibu seperti ini," lirih Ammar, dia mengusap air mata yang masih membekas diwajah sang Ibu.
Zulaikha dan kedua adiknya benar-benar merasa sedih dengan apa yang telah terjadi dikeluarga Ammar, mereka bahkan tidak bisa membayangkan jika hal seperti itu terjadi dalam keluarga mereka.
•
•
•
__ADS_1
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 😘