Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 70. Tangis Bahagia


__ADS_3

Zulaikha merasa terkejut saat mendengar kabar yang disampaikan oleh Ayah Rasyid, begitu juga dengan Ammar yang langsung mendekat kearah Zulaikha saat mendengar ucapannya.


"Ayah mohon Zulaikha, kembalilah ke sini, Nak!" pinta Ayah Rasyid dari sebrang telpon.


Zulaikha yang mendengar permintaan lelaki paruh baya itu hanya bisa terdiam dengan air mata yang mulai menggenang dikedua matanya, sementara Ammar langsung bertindak cepat dengan meminta ponsel yang saat itu masih berada dalam genggaman Zulaikha.


Zulaikha melihat kearah Ammar yang saat itu mengulurkan tangan bermaksud untuk meminta ponselnya, dia lalu segera menyerahkan ponsel itu pada Ammar.


"Ayah mohon Nak, tolong-"


"maaf, Pak! Mbak Zulaikha sedang merasa sangat terkejut saat ini, jadi dia tidak bisa berbicara pada Bapak," potong Ammar, dia lalu menyuruh Zulaikha untuk kembali duduk dan menenangkan diri.


"ka-kalau gitu, apa saya boleh meminta tolong padamu?" tanya Ayah Rasyid, saat ini dia tidak bisa melakukan apapun selain membawa Zulaikha kembali ketempatnya.


"katakan saja, insyaallah saya akan membantu," jawab Ammar.


Kemudian Ayah Rasyid menceritakan kalau saat ini istrinya sedang dirawat dirumah sakit akibat terjatuh dari atas tangga, juga karna mengalami serangan jantung membuat kondisi wanita paruh baya itu semakin kritis.


Ammar mendengarkan semua cerita Ayah Rasyid dengan khusyuk, tetapi matanya melihat kearah Zulaikha yang saat itu juga sedang melihat kearahnya.


"istri saya terus menyebut Zulaikha dan berharap agar Zulaikha mau menemuinya, jadi saya mohon. Saya mohon agar Zulaikha bersedia untuk kembali ke sini!"


"saya akan menyampaikannya pada Mbak Zulaikha, Pak," balas Ammar, dia tidak bisa mengambil keputusan atas nama wanita itu.


Setelah mengucapkan banyak terima kasih, Ayah Rasyid lalu mematikan panggilan telponnya. Ammar segera duduk kembali ketempatnya sembari meletakkan ponsel Zulaikha ke atas meja.


"apa Mbak baik-baik saja?" tanya Ammar dengan khawatir, andai Zulaikha sudah menjadi istrinya dia pasti akan memeluk dan menghapus air mata yang membasahi wajah Zulaikha saat ini.


"aku tidak tau apa yang terjadi, Mas. Aku rasa aku harus menemui Ibu Diana," jawab Zulaikha dengan pelan, sebenarnya dia merasa ragu untuk kembali ketempat itu. Namun, rasa khawatir dalam hatinya membuatnya tidak bisa tenang saat ini.


Sementara Ammar malah tidak bisa fokus karna panggilan yang disematkan Zulaikha untuknya, jantungnya berdebar keras saat panggilan Mas berhasil tertangkap diindra pendengarannya.


"Mas? Mbak Zulaikha memanggilku Mas?" Ammar tidak pernah menduga bahwa hanya karna panggilan saja dia sudah melayang seperti ini.

__ADS_1


"Mas! apa kau mendengarku?"


Ammar terlonjak kaget saat mendengar panggilan Zulaikha, dia lalu melihat kearah wanita itu dengan penuh kegugupan.


"a-apa tadi Mbak?" tanya Zulaikha.


"apa Mas bisa menemaniku ke sana?" tanya Zulaikha kembali, hatinya merasa gelisah jika Ammar tidak bisa menemaninya kembali ketempat itu.


Zulaikha bisa saja meminta Syifa atau Sita menemaninya, tetapi dia takut kalau kedua adiknya tidak akan setuju dengan apa yang dia lakukan.


Ammar merasa tersentuh saat Zulaikha mengajaknya pergi menemui mantan mertua wanita itu, dia berpikir kalau Zulaikha tidak akan menganggap keberadaannya saat ini.


"aku bisa, Mbak! aku bisa pergi bersama ke manapun Mbak mau!" jawab Ammar dengan semangat, tetapi ada satu masalah yang mengganjal pikirannya saat ini.


"Mbak, apa aku boleh membicarakan sesuatu?" Ammar tau kalau saat ini dia tidak pantas untuk membahas masa depannya bersama Zulaikha, tetapi dia harus menjaga batasan antara lelaki dan wanita yang belum menjadi suami istri.


Zulaikha menganggukkan kepalanya untuk mempersilahkan Ammar mengucapkan apa yang ingin lelaki itu katakan.


"Mbak, aku tau kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untukku mengatakan hal seperti ini, tapi aku tidak mau kalau nantinya Allah akan murka pada kita yang tidak bisa menjaga batasan dalam hati maupun fisik kita sendiri," Ammar menarik napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya.


deg, Zulaikha terpaku saat mendengar apa yang Ammar ucapkan. Jantungnya berdebar hebat saat kata-kata Ammar terasa menancap tepat ke dalam hatinya, seluruh tubuh Zulaikha juga ikut bergetar karna luapan emosi yang saat ini sedang melanda hatinya.


Ammar mengambil sesuatu yang ada disaku jasnya, lalu dia menunduk dan mengulurkan sebuah kotak beludru berwarna merah kehadapab Zulaikha.


"maafkan aku yang tidak bisa menjadi lelaki romantis seperti baginda Rasulullah, aku hanya bisa menyiapkan sebuah cincin sebagai tanda bahwa aku benar-benar ingin menikah denganmu,"


Zulaikha meneteskan air mata haru saat mendengar semua ungkapan Ammar untuknya, dia tidak menyangka kalau ungkapan lelaki itu akan terdengar begitu indah melebihi apa yang pernah dia bayangkan sebelumnya.


"ya Allah, beginikah rasanya jika dicintai oleh makhluk ciptaanMu?"


Ammar menatap Zulaikha dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya, tampak tangannya sedikit bergetar karna rasa bahagia yang saat ini sedang dia rasakan.


"ya Allah, berkahilah niat baik hamba ini,"

__ADS_1


"aku mengizinkanmu untuk menghalalkanku, Mas!"


Sungguh hati Ammar merasa sangat bahagia saat mendengar jawaban dari Zulaikha, dia menundukkan kepalanya dan terlihat bahunya yang sedikit bergoyang akibat tangis yang coba dia tahan.


"terima kasih, Zulaikha. Terima kasih," lirih Ammar, dia lalu kembali menatap wajah Zulaikha yang sudah berlinangan air mata.


Suasana terasa sangat mengharukan dan membahagiakan untuk dua manusia yang saat ini sama-sama merasakan indahnya cinta yang sedang berjalan kearah pernikahan, bahkan sangking bahagianya mereka tidak mampu untuk melukiskannya dengan kata-kata.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada beberapa orang yang terus memperhatikan mereka dari pintu. Mereka juga terlihat meneteskan air mata karna rasa bahagia melihat Zulaikha dan Ammar yang akhirnya mengakui perasaan mereka satu sama lain, bahkan Ammar juga sudah meminta Zulaikha untuk menjadi istrinya.


Ibu Dijah, yang saat itu sedang berada dalam pelukan Syifa merasa sangat-sangat bahagia. Dia yang sudah lama menunggu wanita pilihan Ammar akhirnya bisa menyaksikan suatu ikatan cinta yang telah berlabuh pada sang pemilik.


Begitu juga dengan Sita dan Rafa yang menyaksikan ungkapan cinta Ammar dan Zulaikha, mereka merasa sangat senang karna dua orang yang mereka sayangi berhasil bersatu.


"Ammar!"


Ammar dan Zulaikha terlonjak kaget saat mendengar panggilan Ibu Dijah, dan mereka semakin kaget saat melihat ada beberapa orang yang sedang berdiri di depan pintu menyaksikan pertunjukan mereka berdua.


"I-Ibu." Ammar bangkit dan berlalu mendekati sang Ibu, begitu juga dengan Zulaikha yang mengikuti langkah Ammar dan berdiri tepat di sampingnya.


"Anakku, kau ternyata sudah besar Nak. Kau sudah dewasa." Tangan Ibu Dijah terulur menyentuh kedua pipi Ammar membuat lelaki itu mencium telapak tangan sang Ibu, kemudian Ammar menarik Ibunya ke dalam pelukannya membuat sang Ibu langsung terisak.


"terima kasih untuk semuanya, Bu. Terima kasih karna telah melahirkan, dan merawatku hingga aku bisa merasakan betapa indahnya karunia Allah yang telah memberikan rasa cinta pada setiap hati manusia,"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘

__ADS_1


Mampir juga yuk ke karya temen Othor, dijamin keren dan seru 😍



__ADS_2