
Setelah perundingan panjang, akhirnya keputusan telah didapatkan. Keluarga Zulaikha dan keluarga Ammar memutuskan untuk kembali ke Indonesia untuk melihat keadaan Ibu Diana, sekaligus untuk acara lamaran yang akan diadakan dirumah lama keluarga Zulaikha.
Namun, saat Zulaikha menceritakan semua yang terjadi pada kedua Adiknya. Mereka tampak sangat tidak setuju dengan keputusan untuk kembali ketempat di mana mereka berasal, bukan karna alasan tidak ingin menjengul Ibu Diana tetapi karna keberadaan Defin yang pastinya akan kembali mengganggu Zulaikha.
"Dek, Mbak yakin dia tidak akan melakukan hal seperti itu," ucap Zulaikha, dia mencoba untuk meyakinkan kedua Adiknya kalau Defin tidak akan lagi mengganggunya.
"Mbak sendiri masih ingatkan, kalau beberapa hari yang lalu laki-laki itu pernah datang kerumah ini? dan Mbak malah bilang kalau dia tidak akan melakukan itu?" ucap Syifa dengan emosi dia sampai berdiri dari duduknya karna tidak setuju dengan keputusan yang telah mereka ambil.
Sita menggenggam tangan Syifa berusaha untuk menenangkannya, dia takut kalau sahabatnya itu akan lepas kendali dan berakhir dengan menyakiti hati Zulaikha walaupun Zulaikha sendiri tidak pernah merasa sakit hati pada kedua Adiknya.
Ammar dan Ibu Dijah yang masih berada ditempat itu saling lirik karna ketegangan yang sedang terjadi, mereka bingung harus melakukan apa untuk mencairkan suasana.
"tapi Dek, Mbak juga enggak bisa kan diam aja?" balas Zulaikha, dia melihat kearah Syifa dengan sendu membuat Syifa berdecak kesal karna tatapan sang Kakak yang terasa menusuk jantungnya.
Syifa lalu melepaskan genggaman tangan Sita dan berbalik untuk pergi dari tempat itu membuat semua orang semakin tegang.
Namun, saat baru beberapa langkah dia kembali berhenti dan menoleh kearah mereka semua. "Baiklah, terserah Mbak mau melakukan apa. Tapi kalau nanti dia membuat keributan dan mengganggu Mbak lagi, maka jangan salahkan aku kalau aku sendiri yang akan menguburnya hidup-hidup!" Syifa kembali melangkahkan kakinya kearah kamar.
"Syifa memang luar biasa sekali yah!" seru Ibu Dijah, dia tersenyum tipis saat melihat Syifa menghentak-hentakkan kakinya di atas tangga.
"maaf yah, Bu! Dia memang selalu seperti itu," ucap Zulaikha dengan tidak enak hati, dia takut amarah Syifa menyinggung perasaan mereka.
Ibu Diana dan Ammar menggelengkan kepala mereka saat mendengar apa yang Zulaikha katakan. "Dia lucu kok Mbak, persis seperti anak kecil." Ammar terkekeh pelan saat mengingat ekpresi wajah Syifa yang tadi tampak sangat kesal pada mereka semua.
"Dia memang selalu seperti itu, meledak-ledak dan emosian. Tapi sesungguhnya, dia wanita yang peduli dan berempati tinggi pada orang lain," ucap Zulaikha, dia tersenyum kearah kamar Syifa yang sudah tertutup rapat dari dalam.
Ammar dan Ibunya menyetujui apa yang Zulaikha katakan, mereka juga tau kalau dibalik amarah Syifa tersimpan rasa khawatir dan peduli pada sang Kakak.
Sita yang masih menyimak pembicaraan mereka tersenyum simpul. "Tentu saja Syifa itu baik, jika tidak mungkin dia sudah menggila dengan merebutmu, Ammar!" Sita bergegas pergi dari sana untuk menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa pulang ke Indonesia.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, keluarga Zulaikha dan Ammar sudah siap berangkat ke Indonesia. Ammar sudah menyiapkan pesawat pribadi untuk keberangkatan mereka membuat Zulaikha dan kedua Adiknya tercengang saat melihat capung besi itu milik keluarga Ammar.
"Ini benar-benar milik, Mas?" Zulaikha menunjuk tepat kearah pesawat yang terparkir dibandara, begitu juga dengan Syifa dan Sita yang tidak bisa berkedip saat melihat benda raksasa itu.
"Bener Ma, ini tuh punya Papa besar. Abis itu punya Papa kecil juga." Aziz melompat turun dari gendongan Ammar dan berlari naik ke dalam pesawat.
Lalu mereka semua mengikuti langkah anak kecil itu untuk masuk ke dalam pesawat dengan membawa segala perlengkapan mereka masing-masing.
"tapi Mas, kenapa Mas masih memanggilku Mbak?" tanya Zulaikha sembari berjalan masuk ke dalam pesawat, Ammar yang saat itu berada di depannya langsung menoleh kebelakang membuat langkah Zulaikha terhenti.
"itu karna aku belum terbiasa Zulaikha, kadang juga aku merasa malu," ucap Ammar, dia lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kursi tepat di samping Aziz.
Zulaikha tersenyum simpul saat memperhatikan wajah Ammar yang terlihat memerah, kini dia yakin kalau lelaki itu benar-benar merasa malu padanya.
"Dia manis sekali." Tanpa sadar Zulaikha terus melihat kearah Ammar membuat kedua Adiknya terkikik geli saat melihat Kakak mereka terpesona oleh ketampanan lelaki itu.
"Ehem, dunia terasa milik berdua ya. Sampai enggak bisa berpaling gitu!"
"Mama! Mama kan duduk di sini!" Aziz memanggil Zulaikha membuat wanita itu tidak jadi mendudukkan tubuhnya, dia lalu melihat ke arah Aziz yang sedang menunjuk kursi kosong dihadapannya.
"Benar, Nak! duduklah di sini." Ibu Dijah menepuk kursi yang ada di sampingnya membuat Zulaikha langsung berjalan kembali kearah Ammar.
Dia terus menundukkan kepalanya karna merasa benar-benar malu, bisa-bisanya dia mempermalukan diri sendiri dihadapan banyak orang.
"Ya Allah, aku ingin tenggelam saja kedasar bumi!" Zulaikha melirik kearah Syifa dan Sita yang masih cekikikan menertawakannya, dia melotot dengan tajam seakan-akan menyuruh kedua Adiknya itu untuk diam.
"Zulaikha,"
"I-iya Bu?" Sangking terkejutnya mendengar panggilan Bu Dijah, Zulaikha sampai sedikit mengeraskan suaranya membuat Ammar dan Aziz yang ada di hadapannya langsung melihat kearah Zulaikha.
__ADS_1
Zulaikha hanya tersenyum canggung saat melihat tatapan keluarga Ammar padanya, dia benar-benar merasa kesal pada dirinya sendiri yang selalu membuat malu di depan orang lain.
"suara Ibu mengagetkanmu ya?" tanya Ibu Dijah, dia tersenyum geli saat melihat wajah Zulaikha yang merah padam akibat menahan malu.
"tidak kok Bu!" bantah Zulaikha, dia mencoba untuk menenangkan jiwa dan raganya yang sejak tadi terus bergejolak.
"begini, ada sesuatu yang ingin Ibu tanyakan padamu. Tapi, Ibu harap kau tidak tersinggung dengan pertanyaan Ibu!" ucap Ibu Dijah dengan pelan, dia melihat Zulaikha dengan tatapan yang lembut dan mendalam.
Zulaikha tersenyum untuk menanggapi ucapan wanita paruh baya itu. "untuk apa Zulaikha tersinggung, Bu? Ibu kan sudah seperti orangtua Zulaikha sendiri, jadi tidak pantas Zulaikha tersinggung ataupun marah pada Ibu!"
Ibu Dijah merasa senang dan tenang saat mendengar jawaban Zulaikha, sementara Ammar yang ada dihadapan dua wanita itu menajamkan telinganya untuk mendengarkan apa yang Ibunya bicarakan pada calon istrinya.
"Ibu ingin bertanya satu hal, Nak! jika seandainya..., seandainya Defin memintamu untuk kembali menjadi istrinya, apakah ada kemungkinan kalau kau akan memikirkannya?" suara Ibu Dijah terdengar sangat ragu-ragu untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan, untuk pertama kalinya dia merasa khawatir kalau-kalau Zulaikha masih menyimpan perasaan untuk mantan suaminya.
Zulaikha terdiam mendengar pertanyaan dari wanita paruh baya yang tidak lama lagi akan menjadi mertuanya, sementara Ammar melihat kearah sang Ibu karna merasa terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Ibunya itu pada Zulaikha.
"kenapa Ibu bertanya seperti itu? apa Ibu merasa khawatir dan tidak percaya pada Zulaikha?" Ammar lalu beralih melihat kearah Zulaikha yang sepertinya sudah bersiap untuk menjawab pertanyaan dari sang Ibu.
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yg udah baca 😘
Mampir juga yuk ke karya temen aku, dijamin seru dan bikin betah baca 😍
__ADS_1