
Defin dan Irham berjalan cepat keruangan Dokter yang bertugas untuk memeriksa kondisi Agnes, terlihat Dokter tersebut sudah menunggu kedatangan Defin di depan ruangannya.
"silahkan masuk, Pak!" Dokter itu langsung mempersilahkan Defin dan Irham untuk masuk karna memang ada hal penting yang harus dia sampaikan pada Defin.
"ada apa? apa wanita itu akan mati?" cibir Defin dengan penuh kebencian, terlihat jelas kemarahan diraut wajah lelaki itu.
Dokter berparas manis yang ada dihadapannya sedikit terkejut mendengar apa yang dia ucapkan, begitu juga dengan Irham yang tidak menyangka kalau Defin akan berkata seperti itu.
"begini, Pak! ada hal penting yang harus kita lakukan agar Ibu Agnes bisa-"
"Terserah! aku tidak peduli, lakukan apapun yang kalian inginkan. Lagipula, dia sudah bukan lagi menjadi tanggungjawabku!" Defin berbalik dan hendak pergi dari ruangan itu.
"kami harus mengangkat rahim Ibu Agnes!"
Deg, Defin yang sudah berada diambang pintu menghentikan langkah kakinya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan melihat kearah Dokter itu dengan tajam.
"kau, kau bilang apa?" tanya Defin dengan tidak percaya, dia lalu kembalu mendekat kearah Dokter tersebut tanpa mengalihkan tatapan tajamnya.
"rahim Ibu Agnes mengalami kerusakan total akibat benturan keras pasca kecelakaan, jadi kami terpaksa harus melakukan pengangkatan Rahim, Pak!"
"Pak!" teriak Irham dan Dokter itu secara bersamaan saat tiba-tiba tubuh Defin limbung ke belakang, dia merasa sangat syok mendengar kondisi Agnes seperti itu.
"pe-pengangkatan rahim?" lirih Defin, dia benar-benar tidak menyangka kalau kecelakaan itu akan berakibat fatal bagi Agnes.
"kami harus segera melakukan operasinya, Pak!" ucap Dokter itu lagi, dia benar-benar harus berkejar-kejaran dengan waktu yang semakin singkat untuk hidup pasiennya.
Defin langsung menandatangani surat persetujuan operasi untuk Agnes agar Dokter segera melakukan tindakan, lalu dia duduk disebuah kursi bersama dengan Irham.
"sabar, Pak!" ucap Irham, dia menepuk bahu Defin untuk memberikan semangat dan dukungan bagi atasannya itu.
"bagaimana mungkin ini bisa terjadi, Irham? bagaimana mungkin Agnes bisa kehilangan rahimnya?"
Bruk, Defin dan Irham langsung melihat kearah sumber suara saat mendengar benda terjatuh. Mereka berdua langsung berdiri saat melihat Zulaikha dan Ammar sudah berdiri di samping mereka.
__ADS_1
"maafkan kami, Pak! kami tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan kalian," ucap Ammar dengan pelan, dia merasa menyesal karna berada ditempat dan waktu yang salah.
Sementara itu, Defin terus melihat kearah Zulaikha yang sedang menundukkan kepalanya. Dia sangat yakin kalau Zulaikha juga pasti mendengar apa yang dia ucapkan tadi.
"tidak apa-apa," jawab Defin tanpa mengalihkan pandangannya, dia terus menatap kearah Zulaikha yang baru mengangkat kepala dan melihat kearahnya.
"kalau gitu saya permisi, saya harus keruang operasi," pamit Defin kemudian, sebenarnya dia masih ingin bersama dengan Zulaikha. Tetapi saat ini dia harus memastikan kalau operasi Agnes berjalan dengan lancar.
Ammar dan Zulaikha menganggukkan kepala mereka saat mendengar ucapan Defin, kini mereka hanya memandang punggung lelaki itu yang mulai menjauh dari pandangan.
"innalillah, Agnes!" lirih Zulaikha, dia merasa sangat terkejut saat mendengar kondisi Agnes saat ini.
Irham yang masih berada ditempat itu juga tampak sedih dengan keadaan yang sedang terjadi saat ini, dimana keluarga Defin satu persatu sedang terkena musibah dari Allah.
"Pak Irham!" Ammar menepuk bahu Irham saat lelaki itu terus memandang kearah Zulaikha membuat Irham merasa kaget sekaligus gugup.
"ma-maafkan saya, Pak!"
"duduklah, apa kita boleh berbincang sedikit?" tanya Ammar, dia mempersilahkan Irham untuk duduk ditempatnya tadi duduk.
"Irham, sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Zulaikha dengan terisak, dia merasa sangat sedih dengan kondisi Ibu Diana dan juga kondisi Agnes saat ini.
Irham menghela napas kasar, dia juga sebenarnya tidak begitu tahu-menahu masalah keluarga Defin. Semua terjadi begitu cepat, bahkan dia sendiri pun merasa tidak percaya dengan apa yang dia ketahui tentang Agnes.
"kalau anda tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa, Pak Irham! kami hanya-"
"tidak, Pak! bukan seperti itu." Irham mengibas-ngibaskan tangannya untuk membantah ucapan Ammar, dia bukannya tidak mau menceritakan semuanya. Tetapi dia hanya bingung harus bagaimana menceritakannya pada mereka.
"semua berawal saat Ibu Diana menangkap basah perselingkuhan Agnes dan Rio,"
"apa?" teriak Zulaikha dengan tidak percaya, dia melihat kearah Irham dengan tajam saat mendengar apa yang lelaki itu katakan.
Flashback
__ADS_1
Saat itu, Ibu Diana sedang dalam perjalanan menuju kediaman Defin. Dia yang tau kalau sudah beberapa hari Defin dinas keluar negeri memilih untuk menemani Agnes, Ibu Diana merasa kasihan dengan menantunya yang pasti merasa bosan dan kesepian karna kepergian putranya.
Saat Ibu Diana sampai dihalaman rumah Defin, dia melihat ada sebuah mobil berwarna hitam sedang terparkir diparkiran rumah itu. Dia lalu bergegas untuk masuk ke dalam dan melihat siapakah orang yang sedang bertamu dirumah putranya.
Namun, saat baru sampai di depan pintu. Ibu Diana melihat pintu rumah itu tidak terkunci, dia juga melihat berbagai macam minuman beralkohol berserakan diruang tamu.
Dengan langkah cepat, Ibu Diana masuk ke dalam rumah dan berjalan kearah kamar karna memang kondisi rumah sangat sepi, dia tidak melihat keberadaan Agnes dirumah itu.
Langkah Ibu Diana terhenti saat mendengar suara dessahan demi dessahan menggema dari arah kamar. Dia yang saat itu masih berada di atas tangga langsung membeku ditempat saat mendengar suara percintaan Agnes dan seorang lelaki yang tidak dia ketahui identitasnya.
Sementara Agnes yang mungkin tidak mengetahui keberadaan Ibu Diana berjalan santai keluar dari kamar hanya memakai bra dan segitiga saja, tetapi saat dia berada di depan pintu, seorang lelaki langsung menghampirinya dan menciumnya dengan mesra tepat dihadapan Ibu Diana.
Seketika Ibu Diana berteriak membuat Agnes dan pria tersebut terkejut dan baru menyadari kalau ada orang lain ditempat itu, Agnes yang melihat keberadaan mertuanya langsung berlari masuk ke dalam kamar sementara Ibu Diana tetap diam sembari memegangi dadanya.
Setelah beberapa saat, Agnes kembali menghampiri Ibu Diana. Terlihat dia sedang mencoba untuk mencari alasan dan pembenaran untuk apa yang tadi dia lakukan.
Lambat laun, pertengkaran pun terjadi. Ibu Dijah dan Agnes tampak saling dorong di atas tangga hingga kaki Ibu Diana tergelincir dan terjatud dari tangga tersebut.
Flashback end
"kami berhasil menemukan kebenaran itu setelah beberapa hari melakukan penyelidikan melalui cctv yanv awalnya berhasil dihilangkan oleh Rio, tapi kami belum mendengar cerita langsung dari Ibu Diana," ucap Irham kemudian saat dia sudah selesai menceritakan tentang apa yang terjadi pada keluarga Defin.
Tangis Zulaikha pecah saat mendengar semua cerita Irham, dia tidak menyangka kalau semua itu akan terjadi pada keluarga yang dia sayangi.
•
•
•
TBC.
Terima kasih buat yang udah baca 🥰
__ADS_1
Mampir juga yuk ke karya temen aku, dijamin seru dan keren 😍