Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 57. Papa meninggal!


__ADS_3

"ya Allah, tolong lah aku!" Ammar sudah merasa cemas dengan apa yang akan Zulaikha tanyakan, telapak tangannya bahkan sudah berkeringat dengan debaran jantung yang kian menguat.


"menurutmu, dari mana mereka tau kalau aku ada di sini?"


Ammar langsung menghembuskan napas lega begitu mendengar apa yang Zulaikha tanyakan, dia lalu mengusap keringat yang mengalir dikeningnya karna sempat gelisah menunggu ucapan wanita itu.


"alhamdulillah," gumam Ammar yang masih bisa didengar oleh Zulaikha, wanita itu mengerutkan keningnya saat mendengar gumaman Ammar.


"apa mereka tau darimu, Ammar?"


"tidak! Aku tidak pernah mengatakan apapun pada siapapun, ngapain juga aku mengatakakannya pada mantan suamimu yang jelas-jelas masih mengharapkanmu lagi!"


Sangking gugup dan semangatnya Ammar sampai menjawab pertanyaan Zulaikha dengan sekali tarikan napas, dia bahkan tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan karna merasa kaget dengan pertanyaan wanita itu.


Sementara Zulaikha tercengang mendengar jawaban dari Ammar, wanita itu bahkan menatap Ammar dengan mata melotot dan mulut terbuka.


"ma-ma-maksudku aku tidak mengatakan apapun Mbak! Beneran," tambah Ammar kembali, membuat Zulaikha langsung tertawa saat melihat lelaki itu seperti kebakaran jenggot.


"iya, Ammar. Aku mengerti," ucap Zulaikha dengan masih tertawa pelan, sementara Ammar merasa semakin gugup dengan wajah yang memerah.


"lalu, dari mana mereka tau ya kalau aku ada di sini?" lanjut Zulaikha sembari melihat kearah Ammar seakan-akan sedang bertanya pada lelaki tersebut.


Ammar menghembuskan napasnya dengan perlahan, dia mencoba untuk kembali waras setelah dibuat gugup dan salah tingkah oleh Zulaikha.


"mudah saja, Mbak! Aku yakin dia pasti mencari tempat tinggalku, sekaligus agar bisa bertemu dengan Mbak," jawab Ammar, dia sudah bisa menduga darimana Defin tau kalau Zulaikha tinggal didaerah sekitar situ.


Zulaikha mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar jawaban dari lelaki itu, dia lalu menghela napas kasar karna tidak tau lagi harus melakukan apa agar Defin tidak kembali mengganggunya.


"apa, Mbak benar-benar tidak akan kembali lagi padanya?" tanya Ammar dengan ragu-ragu, dia penasaran dengan apa yang Zulaikha rasakan saat ini.


Zulaikha tersenyum mendengar pertanyaan Ammar, "aku tidak tau, Ammar. Tapi yang pasti, hatiku benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi. Sekarang, aku hanya bisa menyerahkan semuanya pada yang Maha Kuasa. Aku juga berharap, agar Allah menunjukkan jalan padaku, dan juga pada Mas Defin," ucap Zulaikha, terlihat jelas kesedihan diwajah wanita itu.


"semoga dijalanmu nanti, akan ada aku yang menemani, Mbak!" Ammar hanya bisa berdo'a agar suatu saat nanti Zulaikha membuka hatinya untuk memberikan ruang pada Ammar.

__ADS_1


Zulaikha melirik kearah Ammar dengan senyum tipis, sejujurnya sudah berulang kali hatinya berdebar saat bersama dengan Ammar. Apalagi lelaki itu selalu peduli dan perhatian padanya, tetapi dia juga sadar diri kalau dia tidak pantas memiliki perasaan istimewa pada lelaki yang sudah seperti adik baginya.


"aku selalu berdo'a agar kau mendapatkan kebahagiaan bersama dengan wanita yang kau cintai, Ammar!" do'a tulus dia panjatkan untuk lelaki yang sudah banyak membantunya, tanpa dia sadari kalau sebenarnya dia sendirilah yang selama ini dicintai oleh Ammar.


Setelah drama masa lalu selesai, Ammar memutuskan pamit untuk pulang bersama dengan Aziz. Namun, ternyata Aziz sedang tidur membuat dia kembali seorang diri.


Zulaikha yang sedang berdiri di depan pintu merasa terkejut saat seseorang menepuk pundaknya, dia menoleh kearah samping dan terlihatlah Syifa dengan tawa lebar karna melihat ekspresi terkejut diwajah Kakaknya.


"terus saja Syifa! apa kau mau membuat Mbakmu ini kena serangan jantung?" sembur Zulaikha, dia sampai terjingkat kaget dengan apa yang dilakukan Adiknya itu.


"enggak akan hilang enggak Mbak!" sindir Syifa, sembari menunjuk ke arah rumah Ammar dengan mulutnya, sementara Zulaikha langsung berbalik dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat.


"Mbak kenapa? apa Mbak sakit?" goda Syifa dengan senyum licik di wajahnya, dia senang sekali menggoda sang Kakak yang saat itu semakin salah tinggkah.


"kau enggak bantu Sita? sana!" usir Zulaikha sembari mendorong tubuh adiknya agar pergi ke toko mereka, dia merasa sangat malu karna ketahuan terus memperhatikan Ammar.


Sementara Syifa senyum-senyum sendiri melihat sang Kakak yang salah tingkah seperti itu, dia yakin kalau Kakaknya punya perasaan untuk Ammar.


"Papa!"


Begitu melihat Zulaikha, Aziz langsung menangis histeris sembari berlari kearah wanita itu, sementara Zulaikha sendiri merasa sangat bingung dan kaget karna tangisan Aziz.


"ada apa Sayang? kenapa menangis?" tanya Zulaikha sembari mencoba untuk menenangkan bocah itu, dia mengelus-elus punggung Aziz dengan sayang.


"hiks, Papa! Papa!" seru Aziz dengan menangis sesenggukan, membuat Zulaikha semakin dilanda kebingungan.


"sssh, sshh. Ini Mama Sayang, Mama ada di sini!" seru Zulaikha, dia lalu menggendong tubuh Aziz dan membawanya keluar kamar.


"Mama, mana Papa? Aziz mau sama Papa!" ucapnya, tangannya melingkar dileher Zulaikha sembari terus memanggil Papanya.


"iya Sayang, Papa ada dirumah. Kita ke sana ya, Aziz jangan nangis lagi! Hem," ucap Zulaikha dengan sayang, dia menghapus air mata Aziz yang masih membekas diwajahnya.


Dia lalu berjalan menuju rumah Ammar yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya sendiri, karna memang Ammar sengaja memberikan rumah itu pada mereka agar dekat dengan rumah keluarganya.

__ADS_1


Zulaikha melirik kearah Aziz yang terlihat masih menangis walaupun sudah tidak sesenggukan seperti tadi lagi.


"bentar lagi kita ketemu sama Papa, Aziz jangan menangis lagi yah!" ucap Zulaikha kemudian, terlihat wanita itu sudah berada di depan pagar rumah mewah keluarga Ammar.


"loh, Ibu Zulaikha!" seru penjaga gerbang rumah Ammar yang dibalas dengan senyuman dan anggukan kepala Zulaikha, pria paruh baya itu segera membuka gerbang agar Zulaikha bisa masuk.


"terima kasih, Pak!" ucap Zulaikha, penjaga gerbang itu membalas ucapan Zulaikha dengan senyumannya juga.


Zulaikha lalu berjalan masuk kehalaman rumah Ammar, terlihat beberapa pelayan sedang berlalu lalang disekitar rumah mewah itu.


"lihat! Papa sedang ada di taman," seru Zulaikha saat melihat Ammar sedang duduk di samping rumah bersama dengan Ibu Dijah, Zulaikha lalu mempercepat langkah kakinya agar lebih cepat bergabung dengan mereka.


"Papa!" teriak Zulaikha sembari melambaikan tangan Aziz membuat Ammar dan Ibunya menoleh kearah mereka, terlihat Ammar dan Ibunya tersenyum cerah dan bangkit dari duduk mereka untuk menyambut kedatangan wanita itu. Walaupun setiap hari Zulaikha selalu datang untuk menemui atau bermain dengan Aziz.


"Papa meninggal!


seketika langkah Zulaikha terhenti saat mendengar ucapan Aziz, dia melihat bocah kecil itu dengan tajam karna merasa kaget dengan apa yang dia katakan.


Sementara Ammar dan Ibu Dijah yang masih melihat kearah Zulaikha merasa bingung saat melihat wanita itu berhenti, mereka memutuskan untuk mendekati Zulaikha karna wanita itu masih terdiam dengan melihat kearah Aziz.


"Sayang, apa Mama boleh tau apa yang Aziz ucapkan tadi?" tanya Zulaikha kembali, dia mengelus pipi Aziz membuat bocah itu kembali berkaca-kaca.


"Papa meninggal, Papa ikut meninggal bersama Papa besar!"


deg, jantung Ibu Dijah serasa berhenti berdetak saat mendengar apa yang Aziz ucapkan. Sementara Ammar hanya terdiam sembari melihat kearah putranya.





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2