Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 89. Malam Kebahagiaan


__ADS_3

Ammar terpaku dibalik dinding saat mendengar segala curahan hati Syifa pada Ridwan, dia yang berniat pergi ke dapur terpaksa harus mengurungkan niatnya karna merasa tidak enak hati jika tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


Cukup lama Ammar berdiri ditempat itu, dia bahkan mendengar segala keluh kesah Syifa yang membuatnya ikut bersimpati pada Adik iparnya tersebut.


"apa yang kau lakukan sudah benar, Syifa. Kau mampu menahan hasrat cintamu sendiri demi kebahagiaan orang lain, dan tentu saja kau memang harus menahan hasrat itu." Ammar sedikit mundur dan menyembunyikan tubuhnya karna melihat Syifa dan Sita akan naik kelantai dua.


Setelah mencuri dengar obrolan Ridwan dan Adik-Adiknya, Ammar melanjutkan tujuannya yang sempat tertunda. Dia ingin mengambil air untuk Zulaikha, karna tadi dia mendengar kalau wanita itu beberapa kali batuk di dalam kamar mandi.


Sementara Zulaikha sendiri, sedang sibuk bercermin di dalam kamar mandi sembari memegang sebuah baju tidur tipis yang bahkan tidak bisa disebut sebagai baju.


"Kenapa Syifa dan Sita menyuruhku untuk memakai ini sih? inikan sangat memalukan!" Zulaikha meremmas baju tidur tipis itu sampai menjadi kusut karna tidak kuasa untuk memakainya.


Namun, tiba-tiba dia teringat dengan ucapan Aisyah yang mengatakan kalau seorang istri harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk suami mereka, apalagi disaat mereka akan melakukan malam pertama seperti saat ini.


Blush, wajah Zulaikha memerah saat mengingat kalau malam ini adalah malam pertamanya dengan Ammar. Jantungnya berdebar sangat kencang karna merasa gugup dan gelisah saat memikirkan kalau dia dan Ammar akan benar-benar menyatu layaknya sepasang suami istri.


"Huh, tenangkan dirimu, Zulaikha!" Zulaikha menarik napas dengan perlahan dan menghembuskannya, dia melakukannya berulang-ulang sampai merasa kembali tenang.


Tok, tok. "Zulaikha! apa kau baik-baik saja?"


Zulaikha terjingkat kaget saat mendengar suara panggilan dari Ammar, dia lalu bergegas mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang tadi dia pegang karna memang cuma baju itulah yang dia bawa masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Ammar menunggu Zulaikha dengan tidak sabar, dia merasa khawatir karna sudah cukup lama Zulaikha berada di dalam kamar mandi dan tidak memberikan tanda-tanda akan keluar.


"Zu-"


Ammar yang akan kembali memanggil Zulaikha terpaku di depan pintu saat melihat Zulaikha keluar dari kamar mandi, matanya membulat sempurna saat menyaksikan penampilan Zulaikha yang benar-benar membakar tubuhnya.


"i-itu, maaf karna aku lama," ucap Zulaikha, dia terus menundukkan kepalanya karna measa sangat malu dan tidak sanggup untuk melihat lelaki yang saat ini sudah menjadi suaminya.

__ADS_1


Ammar yang baru sadar dari lamunan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, dia tau kalau saat ini Zulaikha pasti merasa sangat malu padanya.


"Ayo, duduk! kau pasti lelah karna pernikahan kita." Ammar menarik tangan Zulaikha dan membawanya duduk di atas ranjang, dia kemudian mengambil segelas air dan memberikannya pada Zulaikha.


Zualikha menerima air pemberian Ammar dengan kaku, dia merasa benar-benar gugup dan gelisah saat ini.


"te-terima kasih," ucap Zulaikha, dia lalu meminum air itu dan kembali meletakkannya di atas meja samping ranjang.


Wajah Zulaikha kembali memerah saat sadar kalau sejak tadi Ammar tidak mengalihkan pandangannya dari wajahnya, dia bahkan ingin sekali menarik selimut yang ada di sampingnya untuk menutupi wajahnya agar Ammar tidak lagi melihatnya seperti itu.


"Sunguh Zulaikha, sungguh ciptaan Allah sangat indah," Ammar menggenggam kedua tangan Zulaikha dan mengelusnya dengan sayang, tiba-tiba dia menundukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca membuat Zulaikha menjadi bingung.


"Ada apa? apa ada sesuatu, Mas?"


Ammar menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zulaikha, dia lalu mengusap air matanya dan kembali melihat kearah sang istri.


"Terima kasih karna telah bersedia menjadi istriku, terima kasih karna telah bersedia menjadi pendamping hidupku. Terima kasih Zulaikha, terima kasih."


"Zulaikha, aku tidak-"


"Mas, tidak ada yang harus berterima kasih di sini. Kita berdua setuju untuk menikah dan membina rumah tangga atas izin dari Allah. Allah lah yang mempertemukan kita, dan menjodohkan kita dalam ikatan tali pernikahan. Jadi jika Mas ingin berterima kasih, maka berterima kasihlah pada Allah. Karna sejatinya, Dialah yang memberikan semua kebahagiaan ini untuk kita,"


hati Ammar tersentuh mendengar ucapan Zulaikha, dia lalu memajukan kepalanya dan mengecup kening wanita itu membuag Zulaikha memejamkan kedua matanya.


"kalau begitu, izinkan aku untuk memilikimu, Zulaikha," lirih Ammar, dia semakin merapatkan duduknya agar bisa lebih dekat dengan Zulaikha.


Zulaikha sendiri tampak menundukkan kepalanya dengan malu-malu, dia lalu menganggukkan kepalanya untuk mengizinkan Ammar melakukan apa yang lelaki itu inginkan.


Malam semakin larut, di bawah temaran lampu tidur. Ammar menatap wajah Zulaikha yang tampak sangat cantik dengan semburat rona merah yang menghiasi pipinya.

__ADS_1


Lalu Ammar membaca do'a sebelum memulai ritual mereka malam ini, berharap agar hubungan yang mereka lakukan mendapat berkah dan mendapat keturunan yang soleh dan soleha dari sang pencipta.


Ammar menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, dia dapat merasakan kalau tubuh Zulaikha bergetar kala jemari tangan Ammar mulai menyentuh tubuhnya.


Ammar menghentikan kegiatannya sejenak dan melihat kearah Zulaikha yang saat ini sedang memejamkan kedua matanya, Ammar memandangi wajah sang istri yang sangat mempesona dengan sifat baik yang berhasil membuatnya tergila-gila.


Tiba-tiba, Zulaikha membuka kedua matanya. Zulaikha merasa heran karna Ammar tidak melanjutkan apa yang dia lakukan, matanya menatap lurus ke depan memandangi wajah Ammar yang tampak bercahaya dimatanya.


"aku mencintaimu, Zulaikha! aku sangat mencintaimu," ucap Ammar sembari mendaratkan kecupan singkat dibibir sang istri.


Wajah Zulaikha semakin memerah saat mendengar ungkapan cinta yang terlontar dari mulut Ammar, dia lalu memberanikan diri untuk membalas apa yang suaminya itu katakan.


"aku juga mencintaimu, Mas!"


Senyum merekah terbit dibibir Ammar kala Zulaikha membalas ungkapan cintanya, dia yang sedari tadi terus tersenyum semakin melebarkan senyum itu karna merasa benar-benar bahagia.


Kemudian Ammar kembali melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda, rasa syukur terus terucap dalam hatinya karna saat ini dia bisa bersama dengan seorang wanita yang benar-benar dia cintai.


"beginikah, beginikah indahnya cinta yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Melakukan hubungan halal di bawah tali pernikahan dan mendapat banyak pahala dan berkah dari sang Maha pencipta,"


Seketika Ammar kembali menghentikan kegiatannya saat merasakan sesuatu yang sangat susah untuk dia tembus, dia lalu melihat kearah Zulaikha yang sedang meringis menahan sakit dengan keringat yang membasahi wajahnya.


"mungkinkah, mungkinkah Zulaikha masih perawan?"




__ADS_1


TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2