
Zulaikha merasa sangat terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Ridwan, tetapi lain hal dengan Ammar yang terlihat santai saat mendengar semua yang dikatakan oleh lelaki itu.
"ba-bagaimana bisa? aku tidak-"
"itulah kenyataannya, Zulaikha! mereka masih berusaha untuk membuat kau dan Defin kembali bersatu!"
Zulaikha terdiam saat mendengar semua ucapan Kakaknya, dia lalu melirik kearah Ammar yang dibalas dengan senyuman manis lelaki itu.
"ya Allah," Zulaikha menghembuskan napas kasar karna merasa tidak enak hati dengan Ammar, apalagi lelaki itu selalu saja menerima semua masalahnya dengan lapang dada.
"Mas sudah mempersiapkan semuanya, nanti malam kalian akan melaksanakan akad!"
"apa?" teriak Zulaikha dan Ammar secara bersamaan.
Tubuh Ridwan terjingkat kaget sampai kepalanya membentur atap mobil karna teriakan Zulaikha dan Ammar yang cetar membahana, dia sampai berdecak kesal sembari mengusap-usap kepalanya yang terasa nyeri.
"apa, apa tidak terlalu terburu-buru, Mas?" tanya Ammar, dia benar-benar sangat terkejut dengan keputusan yang telah ditentukan oleh Ridwan.
Zulaikha yang akan bertanya kalah cepat dengan mulut Ammar, tetapi dia merasa sedikit sedih saat mendengar pertanyaan dari lelaki itu seakan-akan Ammar tidak ingin cepat-cepat menikah dengannya.
"lebih cepat lebih baik, Ammar! Mas tidak mau terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan!" jawab Ridwan, dia tidak mau kalau nantinya masa lalu Zulaikha kembali menjadi penghalang dalam masa depan yang akan dilalui oleh sang Adik.
"aku tau, Mas! hanya saja-" Ammar melirik kearah Zulaikha yang terlihat menatap lurus ke depan, dia takut kalau wanita itu merasa keberatan jika langsung menikah dengannya malam ini.
"kau tidak perlu memikirkan Zulaikha, dia sudah sangat siap untuk menikah denganmu kapanpun juga!"
Blush, wajah Zulaikha dan Ammar memerah saat mendengar ucapan Ridwan. Terutama Zulaikha yang ingin sekali menghilang dari tempat itu karna rasa malu yang terasa mengoyak harga dirinya.
"apa yang Mas Ridwan katakan? apa dia tidak tau kalau apa yang dia katakan itu membuatku malu!" Zulaikha memilih untuk kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela sembari meletakkan telapak tangannya di wajah agar Ammar tidak bisa melihat raut wajahnya saat ini.
__ADS_1
Sementara Ammar sendiri juga mengalihkan wajahnya ke arah jendela, entah kenapa dia merasa malu padahal seharusnya Zulaikha lah yang malu saat ini.
"bisa-bisanya Mas Ridwan berkata seperti itu!" Ammar tersenyum tipis mengingat ringannya mulut Ridwan mengatakan sesuatu yang membuatnya malu.
"ada apa? apa sekarang kalian sedang pura-pura malu?" ucap Ridwan dengan tawa yang menggema di dalam mobil sembari melajukan mobilnya untuk menuju rumah.
Ammar dan Zulaikha ingin sekali menyumpal mulut Ridwan yang entah kenapa hari ini berubah seperti orang lain, padahal sebelumnya Ridwan tidak pernah menggoda mereka seperti itu.
Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai ditempat tujuan. Ridwan, dan Ammar bergegas untuk turun dan berlalu masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi senyap.
"Selamat datang calon pengantin!"
Begitu Ridwan membuka pintu, suara cetar membahana menyambut kedatangan mereka beserta taburan kelopak mawar merah dan putih yang menaburi seluruh tubuh Ridwan dan juga Ammar, sementara Zulaikha mematung di dekat mobil karna dia baru saja keluar dari mobil tersebut.
"loh, pasangannya uncle Ammar itu laki-laki, Oma?" celetuk salah satu bocah yang ikut melempari Ridwan dan Ammar dengan bunga.
"hus, bukan sayang!" ucap Ibu Dijah sembari menggendong putri kecil itu membuat semua orang tertawa saat melihat raut wajah Ammar dan Ridwan yang tampak memerah.
"nah, ini baru bener. Ini Mama aku!" seru Aziz sembari memeluk kedua kaki Zulaikha membuat Zulaikha merasa malu.
Seluruh keluarga besar Ammar dan Zulaikha ternyata sudah berkumpul dirumah Ridwan karna memang sebelumnya Ridwan telah memberitahu Aisyah kalau malam ini Zulaikha dan Ammar akan langsung menikah.
Awalnya Aisyah tidak setuju dengan apa yang suaminya katakan, tetapi setelah mendengar alasan Ridwan maka dia langsung semangat untuk menyiapkan segalanya.
Segala persiapan akad nikah Ammar dan Zulaikha sudah selesai dipersiapkan, Ibu Dijah memerintahkan banyak orang untuk mengurus semuanya hingga dalam hitungan 3 jam saja semuanya langsung siap sedia.
Saat ini, Zulaikha sedang berada di dalam kamar bersama dengan para perias yang akan meriasnya menjadi seorang putri yang menakjubkan, dengan ditemani oleh Ibu Dijah yang terus memuji kecantikan alami menantunya.
"ya Allah, Nak! kau sangat cantik, Sayang! Ibu yakin kalau Ammar pasti akan langsung pingsan saat melihatmu," seru Ibu Dijah membuat para perias cekikikan, begitu juga dengan kedua Adik Zulaikha yang juga ada ditempat itu.
__ADS_1
"kalau nanti Mas Ammar pingsan, bagaimana dengan akadnya, Bu?" balas Syifa yang mulai mendramatisasi keadaan membuat Zulaikha langsung mendaratkan cubitan mautnya dilengan gadis itu.
"iya juga yah, tapi tidak apa-apa. Nanti kalau dia pingsan, kita siram dia pakai air garam!"
tiba-tiba suara tawa mereka pecah diruangan itu saat mendengar ucapan Ibu Dijah, begitu juga dengan Zulaikha yang tidak bisa menahan tawanya akibat ucapan lucu yang dilontarkan calon mertuanya itu.
Tanpa terasa, waktu sangat cepat berlalu. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Terlihat semua keluarga sudah berkumpul diruang tamu beserta penghulu yang sengaja diundang untuk acara akad nikah antara Ammar dan juga Zulaikha.
Ammar terlihat sangat tampan dengan balutan baju kurung khas malaysia berwarna putih dengan peci yang menutupi kepalanya, dia semakin terlihat berwibawa dan gagah karna memakai sampin yang melilit pinggang sampai lututnya.
Tidak berselang lama, datanglah Ibu Dijah yang mengatakan kalau Zulaikha juga sudah siap untuk melaksanakan ijab kabul saat ini juga.
Semua orang tampak bersemangat untuk menyaksikan momen bersejarah itu, terlebih-lebih keluarga besar Zulaikha yang sudah mengetahui masa lalu menyedihkan dari wanita itu.
Zulaikha sendiri sedang menunggu di dalam kamar bersama dengan kedua Adiknya, dia terus meremmas jemarinya karna merasa gugup dengan ijab kabul yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
"Bismillah, Mbak! tenangkan diri, tarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan," ucap Syifa sembari mengusap tangan Zulaikha yang mulai berkeringat, begitu juga dengan Sita yang mengusap punggung sang Kakak seolah-olah mengerti kalau saat ini Kakak mereka pasti sedang sangat gugup.
Syifa lalu bangkit dan mengambil segelas air yang ada di atas meja untuk diberikan pada Zulaikha agar wanita itu sedikit tenang, tetapi matanya melihat seorang lelaki yang sangat dia kenali sedang berdiri di halaman rumah mereka.
"apa yang dia lakukan di sini?"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘