Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 59. Penderitaan Defin


__ADS_3

POV. Defin Argadinata


Hari demi hari terasa sunyi dan hampa bagiku, entah kenapa relung hatiku terasa sangat sunyi walaupun aku berada dikeramaian seperti saat ini.


Mataku berkeliaran melihat ke sana kemari memperhatikan lautan manusia yang sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ada yang menari, mabuk, bahkan ada yang saling menuntaskan hasrat mereka tanpa merasa malu dihadapan banyak orang.


"wooy, Bro!"


tiba-tiba aku terkejut saat kurasakan bahuku sedang dipegang oleh seseorang, seketika aku melihat ke arah samping dan tampaklah seorang pria dengan senyum lebar sedang menatapku.


"ada apa Def? kenapa semakin hari kau tampak seperti Zombie?"


Aku berdecak kesal saat mendengar ocehan temanku yang satu ini, dia selalu saja berhasil membuat suasana semakin menjengkelkan untukku.


"Pergi kau! jangan menggangguku!" Aku melepaskan tangannya yang masih bertengger dibahuku, lalu kembali menghadap ke depan.


"kau ini sebenarnya kenapa? kalau udah enggak betah sama Agnes, lebih baik ceraikan saja!"


Aku melotot kearah Sandri yang berbicara seenak jidatnya saja, tidak mungkin aku menceraikan Agnes saat pernikahan kami baru saja diresmikan oleh negara.


Ya, baru seminggu yang lalu aku mendaftarkan pernikahan siriku. Awalnya aku tidak ingin melakukan itu, tetapi karna Agnes dan Ibu terus memaksa maka akupun tidak bisa berkutik lagi.


"lagi pula kenapa sih kalian seperti ini? bukannya dulu hubungan kalian sangat mesra ya? bahkan kalian sampai menikah sirikan?"


Aku mendessah pasrah saat mendengar ucapannya, entah mulai dari kapan hubunganku dan Agnes menjadi seperti ini. Padahal hubungan kami sebelumnya sangat baik, bahkan sangking baiknya aku menjadikannya istri pertama dan berbohong pada Zulaikha.


Benar! Zulaikha!


Aku baru ingat, hubungan kami retak saat Zulaikha mengetahui pengkhianatanku. Semua hancur begitu saja, baik hubunganku dengannya dan hubunganku dengan Agnes.


Sejak berjauhan dengan Zulaikha, aku mulai merasakan bagaimana rasa kehilangan. Bagaimana aku menjalani hari-hariku dengan pikiran yang tertuju padanya, aku bahkan sampai melupakan cinta pertamaku yang sudah aku perjuangkan dengan mati-matian.


Dulu, aku tidak menginginkan kehadiran Zulaikha. Namun, Tuhan menghadirkannya menjadi istriku. Susah payah aku menerima ikatan itu walaupun pada akhirnya aku menikahi Agnes, hubungan rumah tangga itu tetap berjalan dengan baik.


Tapi sekarang? bagaimana mungkin Takdir mempermainkan hatiku seperti ini?


Saat aku sudah kehilangan Zulaikha, hatiku malah semakin terikat padanya. Aku bahkan sudah tidak sanggup untuk memiliki hubungan dengan Agnes, andai waktu itu dia tidak mengandung anakku sudah pasti aku akan menalaknya.


"ditanya kok malah melamun sih!"


Aku terjingkat kaget saat mendengar ucapan Sandri, aku melirik tajam kearahnya dan dibalas dengan senyum lebar yang serasa ingin kurobek mulutnya itu.

__ADS_1


"apa sih! Apa kau tidak bisa membiarkanku sendiri!" balas ku, tetapi bukannya diam dia malah semakin mengejek keadaanku.


Baiklah, terserah!


Aku tidak ingin memikirkannya yang semakin membuatku pusing, lalu kuambil segelas alkohol dan meminumnya untuk melupakan semua masalah yang sedang terjadi.


****


Samar-samar aku melihat seorang wanita sedang berdiri dihadapanku, aku berusaha untuk membuka kedua mataku lebar-lebar supaya bisa melihat jelas sosok wanita itu.


"bangun! dasar laki-laki brengsek!"


kedua mataku langsung terbuka lebar saat mendengar cacian yang wanita itu layangkan padaku, aku yakin sekali kalau Agnes lah yang mencaciku seperti itu.


"apa?" ucapku ketus, aku mengusap kepalaku yang terasa sangat sakit.


"apa kau bilang? apa tidak bisa kau tidak menyusahkanku, hah!"


Aku mendonggakkan kepala agar bersitatap mata dengan Agnes, kulihat dia sangat emosi dengan wajah memerah seperti setan.


"memangnya aku menyusahkan apa? hah!" apa dia pikir cuma dia saja yang bisa mencaci maki aku seperti itu, aku juga bisa jika hanya mencaci wanita itu.


"Menyusahkan apa kau bilang? kau mabuk-mabukan dan membuatku harus menjemputmu ke Club sana!"


"jika kau tidak mau menjemput, tinggal bilang sajakan! Tidak perlu mencaciku seperti itu!"


Aku melangkahkan kaki ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan ocehan Agnes yang serasa memekakkan telinga, ku tutup pintu kamar mandi itu dengan kuat membuat wanita itu berteriak semakin nyaring.


"hah, dia memang pintar sekali membuat aku kesal!"


Aku beralih menghidupkan shower untuk mengguyur kepalaku yang masih saja terasa pusing, lalu kucoba untuk menutup mata meresapi setiap tetes air yang membasahi kepalaku.


"Mas Defin, mau teh atau kopi?"


tiba-tiba aku kembali membuka kedua mataku saat mendengar suara Zulaikha yang menawarkan minuman padaku seperti yang selalu dia lakukan dipagi hari, aku melihat kesekeliling kamar mandi tetapi tidak ada satu orang pun yang ada di dalam sini kecuali aku.


apa tadi cuma halusinasi ku saja?


"sial, sial!" aku berteriak sembari meninju sebuah kaca besar yang ada dihadapanku sampai kaca itu pecah berkeping-keping, tetesan darah dan luka yang disebabkan oleh kaca itu bahkan tidak terasa sakit ditanganku.


"kenapa, Zulaikha? kenapa aku terus memikirkanmu? Kenapa? Aaargh!" untuk kesekian kalinya aku meninju-ninju bekas pecahan kaca yang ada dihadapanku sampai kurasakan tangan ini berdenyut sakit.

__ADS_1


Lalu tubuhku merosot jatuh kelantai begitu saja saat bayangan Zulaikha bersama lelaki lain melintas dalam kepalaku, di mana mereka pasti sedang sangat bahagia saat ini.


Zulaikha, tidak bisakah kau memberi satu kesempatan lagi untukku? Aku akan melakukan apapun untukmu, Zulaikha. Aku berjanji aku tidak akan menyakitimu lagi! hidupku terasa menyakitkan dan hampa tanpamu, Zulaikha!


Tanpa aku sadari, air mata berhasil lolos membasahi wajah ini. Pikiran ku mulai mengingat-ingat kembali kenangan-kenangan lama yang membekas dalam hati ini.


Setelah kurasa perasaanku mulai membaik, aku segera menuntaskan ritual mandiku. Namun, saat baru terkena sabun. Tanganku terasa sangat sakit dan perih, mungkin saja pecahan kaca itu masuk ke dalam kulit hingga rasanya begitu luar biasa.


Selesai mandi, aku segera mengambil pakaian yang ada dilemari. Lalu bergegas keluar setelah membungkus tanganku dengan kain agar darahnya tidak terus mengucur deras.


Aku melirik Agnes yang saat itu sedang bermain ponsel dan bersantai ria, wanita itu sepertinya tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi.


"tunggu! mau ke mana kau?"


langkahku terhenti saat ku dengar suara Agnes memanggil, aku segera berbalik dan melihatnya dengan tajam.


"kenapa tanganmu? bukannya tadi masih baik-baik saja?"


Cih


Aku mendessah kesal saat mendengar pertanyaannya, tampak jelas diwajah wanita itu kalau dia hanya penasaran saja tanpa ada rasa khawatir sama sekali.


"apa yang kau inginkan?" aku langsung bertanya tanpa berniat untuk menjawab ucapannya tadi, aku tidak ingin berlama-lama lagi di rumah ini.


"aku sudah ikut program kehamilan, jadi-"


"apa?" aku tersentak kaget saat mendengar apa yang wanita itu ucapkan, bahkan rasa sakit ditanganku seketika lenyap karna terkejut dengan perkataan Agnes.


"kenapa kau kaget seperti itu, Sayang! kita kan memang harus mempunyai anak!"


Aku melirik kearah Agnes yang sangat tenang dan gampang membicarakan soal keturunan, padahal wanita itu sendiri jarang sekali ada dirumah.


Maaf Agnes, aku tidak ingin punya anak denganmu!





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2