Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 90. Tersegel Sempurna


__ADS_3

"Mungkinkah, mungkinkah Zulaikha masih perawan?"


Ammar tercengang mendapati suatu kebenaran tentang kesucian Zulaikha yang berhasil mengguncang jiwanya, dia benar-benar merasa sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Zulaikha masih tersegel dengan sempurna.


Ammar lalu kembali melanjutkan ritualnya dengan sedikit kuat mengguncang tubuh Zulaikha, dia bisa merasakan ada cairan hangat yang mengalir melewati sela-sela kakinya.


"dia, dia benar-benar masih perawan!" Ammar kembali sadar saat merasakan punggungnya sedang dicengkram kuat oleh Zulaikha sampai kuku-kuku wanita itu menggores kulit Ammar.


"istriku, kau, kau masih perawan?" lirih Ammar, dia melihat Zulaikha dengan mata berkaca-kaca.


Zulaikha sendiri juga melihat kearah Ammar, dia tersenyum tipis dan sedikit menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sang suami.


Tangis Ammar pecah saat mendapat jawaban dari Zulaikha, dia lalu mengecup seluruh wajah sang istri dengan perasaan bahagia dan juga sakit secara bersamaan.


"sebenarnya neraka seperti apa yang telah kau rasakan dalam rumah tanggamu dulu, Zulaikha. Kau bahkan tidak mendapat hakmu sebagai seorang istri. Sungguh aku merasa sangat sakit, Zulaikha!"


Ammar terus memeluk tubuh Zulaikha dengan erat seraya terisak karna rasa sakit yang bahkan tidak akan bisa dia bayangkan, bagaimana rasa sakitnya bagi seorang istri yang sudah setengah tahun menikah tetapi tidak mendapatkan hak batin dari suaminya sendiri.


Zulaikha merasa bingung melihat reaksi yang diberikan oleh Ammar, dia bahkan dibuat sangat terkejut saat melihat Ammar menangis karna pengakuannya.


"ada apa ini? apa Mas Ammar tidak suka kalau sebenarnya aku masih perawan? dia bahkan sampai menangis seperti itu karnaku,"


Tangan Zulaikha terangkat dan mencoba untuk mengangkat kepala Ammar yang sejak tadi berada diceruk lehernya, dia memaksa lelaki itu untuk menegakkan kepala agar mereka bisa bersitatap mata.


"Kenapa Mas menangis? apa, apa Mas tidak suka kalau aku masih perawan?"


Ammar menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan Zulaikha, dia kembali mendaratkan kecupan singkat dikening sang istri yang saat ini tepat berada di bawahnya.


"lelaki mana yang tidak bahagia jika istrinya adalah wanita suci yang bahkan belum tersentuh sedikitpun oleh lelaki lain, padahal wanita itu berstatus sebagai seorang janda," lirih Ammar, air mata terus bercucuran kala dia mengucapkan kata demi kata yang terlontar dari mulutnya.


Zulaikha menghapus air mata Ammar yang terus menetes membasahi wajah tampannya, dia lalu mengusap bahu lelaki itu seakan-akan memberikan ketenangan agar Ammar berhenti menangis.


"sungguh Zulaikha, aku tidak pernah menyangka kalau kau masih sangat-sangat terjaga. Dan jujur saja, aku merasa sangat bahagia karna aku adalah lelaki pertama yang memilikimu. Tapi-" Ammar menjeda ucapannya karna tidak mampu untuk melanjutkan apa yang akan dia katakan.

__ADS_1


Zulaikha yang tau maksud dari ucapan Ammar beralih mengecup bibir sang suami dengan mesra membuat Ammar sangat terkejut, dia bahkan sampai memegangi bibirnya yang baru saja dikecup oleh Zulaikha.


"aku tau apa yang akan kau katakan, Mas! dan aku tau kalau kau menangis bukan karna kesucianku, tapi karna hubunganku di masa lalu," ucap Zulaikha, dia lalu mendorong tubuh Ammar hingga lelaki itu berbaring di sampingnya.


"aku tidak apa-apa, Mas! aku sudah mengikhlaskan dan melupakan semua kejadian dimasa lalu, dan semua itu karna kehadiranmu," lanjut Zulaikha, dia mengelus wajah Ammar membuat lelaki itu merasa lebih baik.


"maaf, istriku. Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri hingga membuatmu kembali mengingat masa lalu,"


"Tidak apa-apa, Mas! ada kalanya kita harus mengingat masa lalu sebagai cermin agar kita tidak mengulangi sebuah kesalahan yang telah kita lakukan." Zulaikha tersenyum simpul sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dia baru sadar kalau saat ini mereka sedang tidak berpakaian.


Setelah merasa lebih baik, Ammar dan Zulaikha menghabiskan malam dengan penuh kebahagiaan. Mahligai cinta yang mereka rasakan semakin sempurna tatkala mereka bisa bersatu dalam tali kemesraan yang benar-benar membakar jiwa mereka.


***


Keesokan harinya, Zulaikha bangun lebih awal dari Ammar. Dia melirik kearah sang suami dan tersenyum malu kala teringat dengan kegiatan yang mereka lakukan, dia lalu melihat kearah ranjang yang menampakkan bercak darah sebagai tanda bahwa dia telah menyerahkan segalanya pada suami tercinta.


Zulaikha lalu sedikit menundukkan kepalanya untuk mengecup kening Ammar, dia lalu mengucap basmalah dan mendaratkan kecupan singkat dikening sang suami.


"selamat pagi, suamiku!"


Zulaikha langsung beringsut mundur saat mendengar suara Ammar, dia tampak sangat malu saat melihat ternyata suaminya itu sudah bangun.


Sementara Ammar sendiri langsung bangun dan mendekat kearah Zulaikha, dia meletakkan kepalanya dibahu wanita itu seraya mengecup pipi sang istri dengan mesra.


"sayang, kita shalat subuh berjamaah yuk!" ajak Ammar dengan suara serak khas bangun tidur, dia melingkarkan kedua tangannya tepat diperut Zulaikha.


Zulaikha menganggukkan kepalanya dan menurunkan kakinya dari ranjang, tetapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karna Ammar masih memeluk perutnya dengan erat.


"5 menit lagi!" seru Ammar, dia yang mengajak Zulaikha tapi dia juga yang tidak ingin beranjak dari ranjang.


Setelah 5 menit berlalu, akhirnya mereka turun dari ranjang percintaan itu, terlihat Zulaikha langsung membersihkan diri sementara Ammar kembali merebahkan dirinya di atas ranjang.


Ammar menatap langit-langit kamar sembari tersenyum dengan lebar, pagi ini dia merasa benar-benar sangat bahagia.

__ADS_1


Tok, tok. "Ammar! apa kau sudah bangun?"


Ammar langsung bangkit saat mendengar suara panggilan Ridwan, dia bergegas memakai celananya karna saat ini dia hanya memakai celana pendek saja.


"Yah, Mas!" Ammar membuka pintu kamarnya dan menyembulkan diri keluar dari kamar.


Ridwan terkekeh pelan saat melihat penampilan Ammar saat ini, di mana lelaki itu terlihat masih berantakan dengan rambut yang acak-acakan.


"belum mandi? udah mau subuh loh," cibir Ridwan, dia kembali terkekeh saat melihat wajah malu Adik iparnya itu.


Ammar memalingkan wajahnya dengan tangan yang menggaruk kepala, dia merasa sangat malu karna tidak sedari tadi membersihkan diri.


"eem, ada apa Mas?" untuk menghilangkan rasa malunya, Ammar memilih bertanya tentang maksud tujuan Ridwan mengetuk pintu kamarnya pagi ini.


"oh iya, Mas mau ngasitau, kalau besok kita akan mengadakan resepsi untuk pernikahan kalian. Bagaimana menurutmu?" tanya Ridwan, dia merasa harus tau bagaimana pendapat Ammar tentang acara resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan esok lusa.


"aku tidak masalah, Mas! mau kapanpun diadakan aku ngikut aja, tapi aku juga akan mengadakan resepsi jika sudah pulang ke Malaysia," ucap Ammar, dia juga akan mengadakan acara resepsi jika sudah kembali ke negaranya.


Karna sudah mendengar jawaban dari Ammar, Ridwan memutuskan untuk kembali kekamarnya.


Namun, Sebelum kembali ke kamarnya, Ridwan kembali menggoda Ammar. "Bagaimana, Mar? sukseskan?" Ridwan mengedipkan sebelah matanya dengan senyum mengejek.


Ammar yang mendengar godaan Ridwan beralih mendorong tubuh lelaki itu agar segera pergi dari depan kamarnya, kemudian dia kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah merah seperti tomat.


"dasar! ada-ada aja sih," ucap Ammar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2