Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 74. Keputusan Ammar


__ADS_3

Defin dan Ayah Rasyid segera pamit dari rumah Ridwan, mereka sudah berusaha keras untuk memohon pada lelaki itu. Jika Ridwan tidak mau mengambulkannya, maka mereka juga tidak bisa lagi untuk memaksa lelaki itu.


"sekarang bagaimana? apa menurutmu Ridwan akan membawa Zulaikha kemari?" tanya Ayah Rasyid, dia menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


Defin melirik kearah sang Ayah dengan sendu, bukan hanya tentang keadaan Ibunya yang sedang sakit tapi karna dia kembali teringat dengan sosok wanita cantik dan baik hati yang pernah menjadi istrinya.


"seperti yang dia kayakan tadi, Yah. Mas Ridwan tidak akan membawa Zulaikha kembali ke sini, tapi mungkin dia akan mengabari Zulaikha tentang hal ini," jawab Defin kemudian, dia yakin kalau Ridwan tidak akan setega itu pada keluarganya. Apalagi saat ini Ibunya sedang kritis dan sangat ingin bertemu dengan Zulaikha.


"lalu apa bedanya, Defin? apa bedanya kalau kita yang mengabari Zulaikha atau Ridwan?" Ayah Rasyid merasa tidak mengerti dengan apa yang putranya itu katakan.


"Beda Ayah, semuanya pasti berbeda!" gumam Defin, dia menarik sedikit sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyuman.


Tiba-tiba, terdengar dering ponsel Defin yang langsung mengalihkan perhatian mereka. Defin merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel yang sejak tadi berbunyi.


"Halo,"


"maaf kalau saya mengganggu, Pak!" sambar Irham dari sebrang telpon, suaranya terdengar sangat gelisah dan sedikit bergetar.


"ada apa Irham? apa kau sudah mendapat hasilnya?" tanya Defin, dia memerintahkan sekretarisnya itu untuk menyelidiki kasus jatuhnya Ibu Diana. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi hingga membuat sang Ibu sampai harus berada dirumah sakit dalam keadaan kritis.


"saya sudah mendapatkan rekamannya, Pak! sekarang-"


"Tunggu aku diruangan!" Tut, Defin langsung mematikan panggilan telpon Irham saat mendengar kalau lelaki itu sudah mendapatkan apa yang dia perintahkan.


Tanpa menunggu apapun lagi, Defin langsung putar arah menuju perusahaan membuat Ayah Rasyid mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Kita mau ke mana?" Ayah Rasyid mengalihkan pandangannya kearah Defin yang sedang fokus menyalip mobil-mobil yang ada dihadapan mereka.


"Defin?" karna tidak mendapat jawaban dari putranya, Ayah Rasyid kembali bertanya pada Defin.


"kita harus ke kantor sebentar, Yah!" jawab Defin tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


Ayah Rasyid hanya diam saat mendengar jawaban dari putranya itu, dia lalu kembali menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.


Sementara itu, ditempat lain terlihat dua orang gadis sedang hilir mudik ke sana ke mari untuk menyiapkan acara lamaran Kakak mereka yang akan diadakan nanti malam.

__ADS_1


Syifa terlihat sibuk menyiapkan berbagai macam makanan untuk disajikan pada para tamu, sementara Sita lagi sibuk mendekorasi ruangan yang akan digunakan untuk momen bahagia antara Ammar dan juga Zulaikha.


Zulaikha sendiri saat ini tengah duduk disebuah ayunan yang ada di samping rumahnya, dia yang ingin membantu kedua adiknya langsung diseret keluar oleh Mama Dijah.


"kau tidak boleh melakukan apapun, cukup duduk tenang dan bahagia!"


itulah kata-kata yang diucapkan oleh Mama Dijah saat menyeret Zulaikha untuk menjauh dari segala pekerjaan, wanita paruh baya itu tidak mau kalau Zulaikha sampai kelelahan karna terlalu sibuk mempersiapkan acara itu.


Karna tidak diperbolehkan untuk ikut campur, alhasil Zulaikha duduk sendirian diayunan samping rumahnya.


"Huft! sekarang, apa yang harus aku lakukan?" Zulaikha beralih mengambil ponsel yang sejaj tadi terletak di sampingnya, dia lalu melihat-lihat media sosial untuk mengisi waktu kosong yang terasa sangat membosankan ini.


Ting, tiba-tiba ada sebuah notifikasi pertanda pesan masuk diaplikasi hijau berbunyi. Zulaikha segera melihat pesan dari seseorang dengan senyum merekah seperti baru saja mendapat hadiah yang sangat istimewa.


"Assalamu'alaikum Mbak, eeh Zulaikha 😊 apa aku mengganggumu?"


itulah isi pesan yang membuat senyum Zulaikha merekah, dia lalu membalas pesan Ammar dengan sangat bersemangat.


"Wa'alaikum salam, Mas! Aku sedang tidak mengerjakan apa-apa kok."


Zulaikha langsung mengirim pesan balasan pada Ammar, dia tersenyum lucu saat melihat tingkahnya sendiri yang sudah seperti anak belasan tahun yang sedang pertama kali jatuh cinta.


Sementara itu, Ammar yang saat ini sedang tiduran dikamarnya bersorak senang saat mendapat balasan oesan dari Zulaikha.


Dia lalu membalas pesan itu dengan semangat 45 yang membara, sembari memandangi potret Zulaikha bersama dengan Aziz yang terletak diatas meja.


"kenapa aku jadi seperti ini?" gumam Ammar, lalu dia kembali melihat kearah ponselnya saat merasakan ponsel itu bergetar.


"Mas Ridwan?"


Ammar segera mengangkat panggilan telpon dari Ridwan sembari bangkit dari tidurannya. "Assalamu'alaikum, Mas?"


Terdengar balasan salam dari sebrang telpon membuat Ammar mengerutkan keningnya, suara Ridwan terdengar lirih dan tidak seperti biasanya.


"ada apa, Mas? apa terjadi sesuatu pada Mas?" tanya Ammar dengan khawatir, dia yang sudah terbiasa berbicara lewat telpon dengan lelaki itu sudah merasa yakin kalau sedang terjadi sesuatu pada Ridwan.

__ADS_1


"begini Ammar, Mas ingin memberitahu kalau mantan mertua Zulaikha sedang sakit," jawab Ridwan dengan pelan, terdengar jelas keragu-raguan dari suara lelaki itu.


Ammar tersenyum saat mendengar apa yang Ridwan katakan. "Aku sudah mendengar kabar itu Mas, dan aku turut berduka untuk orangtua Defin."


Ridwan yang ada disebrang telpon tersentak kaget saat mendengar apa yang Ammar katakan, dia tidak menyangka kalau lelaki itu sudah tau tentang musibah yang sedang terjadi pada keluarga Defin.


"jadi, kalian sudah tau?" tanya Ridwan kemudian, lalu Ammar menceritakan semua yang telah terjadi pada Ridwan. Termasuk tentang Ayah Defin yang menelpon Zulaikha untuk memohon pada wanita itu agar kembali ketanah air.


"ja-jadi, apa yang Zulaikha katakan?" tanya Ridwan setelah Ammar selesai menceritakan apa yang pernah terjadi pada mereka.


"Zulaikha tidak mengatakan apapun, Mas! dia hanya diam sambil menangis saat mendengar kabar itu," jawab Ammar dengan jujur, dia lalu mengatakan kalau Zulaikha sangat terkejut saat mendengar kabar itu.


"lalu, bagaimana menurutmu, Ammar? apa Zulaikha harus melihat otangtua Defin?" Ridwan bertanya mengenai pendapat Ammar, karna biar bagaimana pun saat ini lelaki itu yang akan mempersunting Zulaikha.


"Semua aku serahkan pada Zulaikha, Mas! jika dia ingin pergi, maka aku juga akan pergi bersamanya. Tapi, aku tidak mau kalau kami melewati batas antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrimnya. Itu sebabnya, aku meminta Zulaikha untuk segera menikah denganku."


Hati Ridwan terasa tenang saat mendengar apa yang diucapkan oleh Ammar, dia benar-benar merasa bahagia karna sifat Ammar yang sangat baik dan bijaksana.


Ridwan lalu menceritakan semua yang terjadi hari ini, yaitu tentang kedatangan Ammar kerumahnya dan memohon agar dia membawa Zulaikha bertemu dengan Ibu Diana.


"lalu sekarang bagaimana, Mar? apa kita harus menunggu sampai pernikahanmu dan Zulaikha selesai?" tanya Ridwan kemudian, dia menyerahkan segala keputusan pada lelaki itu.


"Aku akan mengatakannya pada Zulaikha, Mas!"


Akhirnya sebuah keputusan sudah diambil, setelah sambungan telpon terputus, Ammar bergegas keluar rumah untuk mengunjungi Zulaikha dan mengatakan perihal keberangkatan mereka hari ini.


"semoga ini keputusan yang terbaik, Zulaikha. Aku tidak mau ada penyesalan dalam hatimu jika terjadi sesuatu dengan mereka di sana,"


•


•


•


TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Maafkan aku yang jarang update akhir-akhir ini 🥺 do'akan agar aku cepat pulih dan bisa crazy up untuk kalian 🥰


__ADS_2