
"katakan! katakan semuanya pada Mas, Dek!"
Air mata Syifa semakin deras mengalir saat mendengar apa yang Ridwan ucapkan, sementara Sita yang masih berada ditempat itu beralih menggenggam tangan Syifa seolah-olah mengisyaratkan kalau dia tidak boleh memberitahu segalanya pada Ridwan.
Ridwan yang merasa kalau telah terjadi sesuatu langsung mengajak mereka untuk kembali duduk, dia ingin mengetahui apa yang menyebabkan Syifa menangis seperti itu.
"kalian semua adalah Adikku, jadi apapun yang terjadi, kalian harus memberitahukannya pada Mas! Mas tidak mau kejadian Mbak kalian terulang kembali!" Ridwan menghela napas kasar saat kembali mengingat masalah Zulaikha, dia merasa kecewa karna tidak tau kalau dulu rumah tangga Adiknya tidak baik-baik saja.
Perlahan Syifa mulai mengangkat kepalanya dan melihat kearah Ridwan, dia ingin sekali mengatakan semuanya pada lelaki itu berharap kalau semua rasa yang bersarang dihatinya dapat hilang setelah mendengar nasehat dari sang Kakak. Tetapi dia juga tau kalau Kakaknya itu pasti akan sangat kecewa jika tau kalau dia menyimpan rasa cinta untuk suami dari Kakaknya sendiri.
"Syifa?" untuk sekali lagi Ridwan bertanya pada Syifa agar gadis itu mau membuka mulutnya, bahkan matanya kini melotot tajam seakan-akan memaksa Syifa untuk mengatakan segalanya.
"Mas, aku-"
Sita menguatkan genggaman tangannya saat merasa Syifa akan mengatakan semuanya, sementara Syifa sendiri langsung melihat kearah Sita dan menganggukkan kepalanya seperti berkata kalau dia tidak akan melakukan hal seperti itu.
"Syifa, jika kau tidak mengatakannya, maka Mas sendiri yang-"
"aku sedang jatuh cinta, Mas!" potong Syifa dengan pelan, terlihat Ridwan dan Sita sedikit terkejut dengan apa yang dia katakan.
Syifa meremmas jemarinya dengan perasaan gugup dan gelisah, tetapi jika dia tidak menjawab pertanyaan Ridwan, maka Kakaknya itu pasti akan terus memaksanya untuk membuka mulut.
"lalu, apa kau ingin kalau Kakak melamarkan lelaki itu untukmu?"
"tidak!" teriak Syifa dan Sita secara bersamaan, Ridwan sampai terlonjak kaget karna suara teriakan mereka berdua.
Sementara Syifa dan Sita saling pandang, mereka tidak menyangka kalau mereka akan menjawab pertanyaan Ridwan dengan serentak seperti itu.
"kenapa? tidak ada salahnya kalau wanita yang melamar seorang pria! lagi pula, dalam islam menganjurkan untuk menyegerakan sesuatu yang baik, sebelum datang setan yang mengarahkan sesuatu itu ke dalam hal yang tidak baik," ucap Ridwan, dia sedikit menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis karna merasa lucu dengan apa yang terjadi dengan Syifa saat ini.
__ADS_1
"tidak, Mas! bagaimana mungkin Mas melamar seorang lelaki yang sudah menjadi Adik ipar Mas sendiri?" Syifa kembali merasa bersalah dengan rasa cinta yang ada dihatinya.
"tidak, Mas! aku tidak bisa," lirih Syifa, dia mengusap air mata yang berhasil keluar dari sudut matanya.
Sita yang melihat kesedihan Syifa tentu saja ikut merasa sedih, sebenarnya dia sangat tidak tega melihat Syifa seperti itu. Namun, dia juga tidak bisa mendukung cinta gadis itu yang nantinya malah akan banyak menyakiti orang-orang yang mereka sayangi.
"kenapa tidak bisa? apa laki-laki itu tidak menyukaimu?" Ridwan merasa penasaran dengan sosok lelaki yang dimaksud oleh Syifa, dia juga ingin mengenal bagaimanakah sosok lelaki yang berhasil membuat Adiknya yang super keras menjadi jatuh cinta dan penuh dengan air mata seperti ini.
Syifa menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Ridwan, dia lalu menarik napas perlahan sebelum menjawab sosok lelaki yang ada dalam hatinya.
"aku tidak bisa melamarnya, Mas! apalagi bersama dengannya, karna dia-" Syifa menjeda ucapannya saat rasa sakit kembali mencubit hatinya, untuk pertama kalinya dia merasa jatuh cinta, tapi dia juga harus menghilangkan cinta yang ada dalam hatinya.
"dia, dia sudah menjadi suami orang lain,"
"apa? kau, kau bilang apa? suami orang lain?" Ridwan merasa sangat terkejut mendengar jawaban Syifa, terlihat jelas raut kekecewaan diwajahnya saat ini.
Syifa kembali menganggukkan kepalanya dengan jemari yang saling bertautan, telapak tangannya mulai basah karna terkena keringat dingin yang menjalar diseluruh tubuh.
Sita, yang masih setia duduk di samping Syifa mengusap bahu gadis itu dengan sayang seolah-olah memberi semangat padanya. Dia juga melihat kearah Ridwan dengan sedih dan bersiap ingin mengucapkan sesuatu pada lelaki itu.
"apanya yang bagaimana mungkin, Mas?" tanya Sita, sepertinya dia tidak setuju dengan apa yang Ridwan sampaikan.
Ridwan melihat Sita dengan tajam. "kau tau semuanya, Sita?"
Sita menghela napas kasar dan menganggukkan kepalanya, dia yakin kalau saat ini dia juga akan terkena amukan dari Ridwan.
"kau juga tau, tapi kau diam saja? kau diam saja saat saudarimu mencintai suami orang lain?"
"lalu aku harus melakukan apa, Mas? apa aku harus membelah dada Syifa, dan mengambil hatinya untuk mengeluarkan rasa cinta yang dia punya untuk lelaki itu?"
__ADS_1
Ridwan terdiam mendengar apa yang Sita ucapkan, lidahnya terasa kaku untuk membalas apa yang gadis itu ucapkan.
"Mas, aku tau kalau Syifa jatuh cinta pada seorang lelaki yang sudah menikah dengan wanita lain. Aku juga tau kalau tidak mungkin bagi Syifa untuk bersama dengan lelaki itu. Tapi, apa salah Syifa dalam hal ini, Mas? dia juga tidak mau punya perasaan pada lelaki yang tidak bisa dia miliki, hatinya juga tersiksa merasakan rasa cinta itu! andai, andai saja kita punya kuasa atas rasa cinta yang ada dihati kita, kita pasti tidak akan salah jatuh cinta pada orang lain!"
seketika suasana menjadi sunyi senyap, Ridwan yang tadinya tampak emosi dan kecewa, kini berubah menjadi sendu.
Tiba-tiba, ingatannya kembali pada kenangan masa lalu saat almarhum Kakaknya membawa seorang wanita pulang kerumah mereka saat Kakaknya itu sudah menikah, bahkan sudah punya anak bersama wanita lain.
Saat itu, dia juga tampak sangat emosi dan berharap agar Kakaknya itu pergi jauh dari mereka. Namun, dia kembali tenang saat istri Kakaknya itu memberikan nasehat padanya mengenai rasa cinta yang tidak bisa dikendalikan dalam hati kita sendiri, terlebih-lebih jika setan sudah berhasil menguasai hati tersebut.
"Mas, aku minta maaf jika sudah melewati batas. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk mengajari ataupun menggurui, Mas!" lirih Sita, dia merasa menyesal karna tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri.
Ridwan meneteskan air mata saat mendengar apa yang Sita ucapkan, sesungguhnya dia sangat bangga mempunyai Adik-Adik yang sangat cerdas dan berwawasan luas seperti mereka.
"Tidak! kau tidak bersalah, Sita. Mas lah yang tidak bisa berpikir baik seperti kalian."
Syifa dan Sita menggeleng-gelengkan kepala mereka untuk membantah apa yang Ridwan ucapkan, mereka tidak setuju dengan apa yang lelaki itu ucapkan.
Tanpa mereka semua sadari, sejak tadi ada sepasang telinga yang sedang mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Dia yang berniat untuk mengambil air minum tidak sengaja mendengar curahan hati Syifa dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur.
•
•
•
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Sambil nunggu Zulaikha update, yuk baca karya aku yang lainnya 🥰