Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 51. keterkejutan Defin


__ADS_3

Hari-hari telah berlalu, kini Zulaikha dan kedua Adiknya sudah tinggal dirumah yang disediakan oleh Ammar. Mereka melewati hari-hari dengan kembali membuka toko bunga, yang memang sudah menjadi kesenangan mereka selama ini.


"Mbak, aku nanti mau pergi bareng Mas Ammar ya!" pamit Syifa, hari ini dia akan mengurus masalah perkuliahannya dengan ditemani oleh Ammar.


"Iya Dek, hati-hati ya!" ucap Zulaikha yang saat itu sedang sibuk menyiapkan pesanan dari pelanggannya.


"oh iya Sita, apa tidak sebaiknya kau ikut dengan Syifa? Mbak mau, kalau kau kuliah juga!" ucap Zulaikha kemudian, sementara Sita yang ada di sebelahnya terlihat menggelengkan kepala.


"aku tidak mau Mbak, aku cukup sampai SMA saja!" tolak Sita, sudah berulang kali Zulaikha menyuruhnya untuk melanjutkan pendidikan tetapi dia tetap tidak mau.


"ya sudah, terserah kamu saja. Tapi jangan pernah merasa kalau kau itu merepotkan Mbak, karna kau dan Syifa itu sama-sama Adik Mbak. Jadi sudah kewajiban Mbak untuk menyekolahkan kalian sampai manapun yang kalian inginkan!" balas Zulaikha, dia sebenarnya tau kalau Sita merasa tidak enak hingga membuatnya tidak mau melanjutkan pendidikannya.


"tidak kok Mbak, aku memang tidak ingin sekolah lagi. Aku cuma mau ngembangin bisnis bunga kita aja," balas Sita, dia benar-benar tidak ada niat sedikitpun untuk melanjutkan pendidikannya.


Tiba-tiba, datanglah seorang pria yang selalu hilir mudik kerumah mereka, siapa lagi jika bukan Ammar yang sedang melihat-lihat keadaan Zulaikha dan kedua adiknya.


"Assalamu'alaikum," ucap Ammar, Zulaikha dan kedua adiknya langsung melihat kearahnya dan membalas salam dari lelaki itu.


"wa'alaikum salam," balas Zulaikha dan Sita secara bersamaan.


"bagaimana Mbak? apa semuanya lancar?" tanya Ammar, matanya berkeliling mengamati keadaan toko Zulaikha.


"alhamdulillah, berkat bantuanmu semuanya berjalan dengan lancar, Ammar!" jawab Zulaikha, dia merasa beruntung karna bisa mengenal lelaki sebaik Ammar.


"ayo, Mas! Aku sudah siap!" seru Syifa yang baru menampakkan diri, dia menggendong tas ranselnya yang berisi segala berkas-berkas yang digunakan untuk mengurus perkuliahannya.


Setelah itu, Ammar pamit pada Zulaikha dan Sita untuk pergi bersama dengan Syifa kesebuah Universitas untuk mendaftar sebagai mahasiswi pindahan.


"nanti kamu tinggal isi data diri saja ya, Aku sudah mengurus masalah yang lainnya," ucap Ammar, dia melihat ke arah Syifa sekilas lalu kembali melihat ke arah jalanan.

__ADS_1


"baik, Mas! Oh ya, kata Bu Dijah Mas mengajar di Universitas itu juga ya?" tanya Syifa, dia sempat dengar dari Ibu Dijah kalau sebelum Ammar terjun ke perusahaan, dia sudah lebih dulu mengajar di Universitas itu.


Ammar tersenyum saat mendengar pertanyaan Syifa, "benar, aku bercita-cita menjadi seorang dosen," jawab Ammar.


Dari dulu, Ammar selalu mempunyai keinginan untuk menjadi tenaga pengajar. Oleh sebab itu, dia jarang sekali bergabung dalam perusahaan. Itu sebabnya Ammar tidak terlalu dikenal oleh sembarang orang sebagai pewaris dari perusahaan Azza, hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui statusnya tersebut.


Namun, seketika semuanya berubah saat terjadi kecelakaan pada sang Kakak. Mau tidak mau, dia harus terjun langsung dalam perusahaan untuk menggantikan almarhum Kakaknya yang saat itu sedang koma dirumah sakit.


Sejak saat itu, Ammar selalu disibukkan dengan perusahaan. Dia jadi jarang sekali mengajar, karna memang pekerjaan yang harus dia selesaikan sangatlah banyak.


"kenapa Mas bercita-cita sebagai dosen?" tanya Syifa, dia sangat penasaran dengan apa yang ada dalam pikiran Ammar.


Biasanya seorang anak pengusaha pasti bercita-cita ingin menjadi pengusaha dan pembisnis sukses, tetapi Ammar malah berkeinginan untuk mengajar.


"eeemm, kenapa ya? mungkin karna mengajar lebih mudah, ketimbang menjadi pengusaha!" jawab Ammar dengan diiringi tawanya, membuat Syifa terpana melihat senyum manis yang terbit diwajah lelaki itu.


"siapapun pasti akan sangat senang kalau punya dosen sepertimu, Mas!" Syifa tidak bisa memalingkan wajahnya dari arah lelaki itu.


Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai ditempat tujuan. Ammar segera mengajak Syifa untuk keruangan administrasi guna mengurus segala keperluan perkuliahannya, Ammar juga memperkenalkan berbagai peraturan yang ada di Universitas itu.


Sementara itu, ditempat lain terlihat seorang pria sedang berhenti di depan rumah Zulaikha. Sudah dua hari dia melihat kalau rumah wanita itu selalu kosong, padahal sebelumnya Zulaikha tidak pernah pergi ke manapun dan mengosongkan rumahnya.


"sebenarnya dia pergi ke mana?" gumam Defin, dia lalu melajukan mobilnya kerumah orangtuanya.


Sesampainya di sana, Defin segera mendatangi sang Ibu yang saat itu sedang duduk di taman samping rumah dengan ditemani oleh secangkir teh dan makanan ringan di atas meja.


"assalamu'alaikum, Bu!" ucap Defin sembari mendekat ke arah Ibu Diana, dia lalu mencium tangan wanita paruh baya itu dan duduk di sampingnya.


"wa'alaikum salam, Defin!" jawab Ibu Diana, dia merasa senang saat melihat putra semata wayangnya datang berkunjung.

__ADS_1


"kenapa kau tidak mengajak Agnes?" tanya sang Ibu, dia melihat ke sekeliling Defin untuk mencari menantunya.


"dia sedang pergi Bu," jawab Defin, sudah sejak pagi dia tidak menemukan Agnes dirumah mereka.


"oh ya Bu, apa Ibu tau Zulaikha pergi ke mana?" tanya Defin kemudian, dia menuang teh yang ada di atas meja ke cangkirnya dan meminum teh tersebut.


"Zulaikha? kenapa kau bertanya tentang dia?" tampak jelas raut tidak suka diwajah Ibu Diana saat Defin kembali mengungkit soal mantan istrinya, dia takut kalau semua itu akan kembali memantik kobaran api antara Defin dan juga Agnes.


"sudah dua hari ini rumah mereka kosong Bu, aku tidak melihat siapa pun di sana!" jawab Defin, ucapannya itu berhasil membuat sang Ibu menjadi kaget.


"ti-tidak ada siapapun? apa kau yakin?" tanya Ibu Diana memastikan, dia sudah merasa tidak tenang saat ini.


"dua hari yang lalu aku lewat dari depan rumahnya Bu, dan aku melihat rumah itu kosong. Hari ini, pas aku lewat juga ternyata rumah itu masih kosong. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah pergi ke manapun!"


deg, tiba-tiba jantung Ibu Diana berdebar keras saat menyadari kalau mungkin saja Zulaikha benar-benar pergi sesuai dengan apa yang dia inginkan waktu itu.


"di-dia benar-benar pergi?" ucap Ibu Diana dengan terbata-bata, wajahnya tampak sangat pucat saat ini.


Defin yang mendengar ucapan sang Ibu mengernyitkan keningnya, dia merasa tidak mengerti kenapa Ibunya berkata seperti itu.


"pergi? apa maksud Ibu?"





TBC.

__ADS_1


Terima kasih buat yang udah baca 😘


__ADS_2