Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 41. Salah Tingkah


__ADS_3

Agnes melirik ke arah Defin agar lelaki itu mengusir Ammar dan Zulaikha dari ruangan itu. Namun, sebelum Defin bertindak, Ammar sudah lebih dulu membuka suaranya.


"jangan mentang-mentang Mbak Zulaikha diam, kalian jadi bisa melakukan apapun yang kalian inginkan!" sentak Ammar, matanya berkilat penuh emosi dengan apa yang mereka berdua lakukan terhadap Zulaikha.


Zulaikha menggenggam pergelangan tangan Ammar membuat pria itu beralih melihat ke arahnya, pandangan mata Zulaikha seakan sedang bertanya-tanya dengan apa yang dia lakukan saat ini.


"tenang saja Mbak, kita diam bukan berarti kita salah. Kita juga harus membela diri kita sendiri!" bisik Ammar yang hanya bisa didengar oleh Zulaikha.


Defin yang melihat kedekatan mereka semakin merasa tidak suka, dia lalu mendekati Zulaikha dan menarik tangannya hingga menjauh dari Ammar.


"anda tidak berhak ikut campur dalam masalah ini!" ketus Defin, tangannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Zulaikha.


"seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu, Mas! kau tidak berhak untuk menyalahkan kami karna perilaku istrimu itu," balas Zulaikha, dia menghempaskan kasar tangan Defin hingga terlepas dari tangannya sendiri.


"apa kau bilang? perilakuku? adikmu itu yang telah membunuh anakku!"


"tidak! kau yang datang kerumahku dan mencari keributan, jika saja kau tidak datang apa mungkin adikku bisa menghajarmu!" ucap Zulaikha, dia yang tadinya bermaksud untuk minta maaf malah dicaci maki membuat darahnya terasa mendidih. Apalagi dibantu dengan kehadiran Ammar seolah-olah menjadikannya wanita yang berbeda.


Agnes mengepalkan tangannya seraya turun dari ranjang, dia ingin sekali mencakar bahkan membunuh wanita yang saat ini berada tepat dihadapannya.


Namun, belum sempat dia menghajar Zulaikha. Defin menarik tangannya saat melihat tetesan darah segar mengalir dari bekas infus membuat mereka semua terkejut.


Zulaikha bergegas untuk keluar dan memanggil Dokter ataupun perawat untuk membenahi tangan Agnes, sementara Defin dan Ammar masih berada diruangan itu.


Setelah kedatangan Dokter, Zulaikha dan Ammar memutuskan untuk keluar ruangan. Mereka duduk tidak jauh dari ruangan Agnes, terlihat Zulaikha sedang mencoba untuk menenangkan diri.


"emm Mbak, maaf kalau aku lancang. Tapi, apa aku boleh mengatakan sesuatu?"0 lirih Ammar dengan tangan yang saling bertautan, dia terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu pada wanita itu.


"katakan saja Ammar, kenapa harus ragu begitu? lagipula kamu sudah banyak bantu aku kan," jawab Zulaikha, dia lalu menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi.


Sementara Ammar melirik ke arah Zulaikha yang sedang memejamkan mata, dia sedang berperang dengan dirinya sendiri saat ini.

__ADS_1


"bagaimana aku tidak ragu Mbak, apa yang akan aku ucapkan pasti akan membuatmu sangat terkejut," Ammar masih merasa sangat bingung dan bimbang, sementara Zulaikha beralih melihat ke arahnya karna tidak mendengar suara lelaki itu.


"Ammar?" tanya Zulaikha kembali, terlihat Ammar menghembuskan napas pelan sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"menurutku, lebih baik Mbak pergi dari tempat ini," ucap Ammar dengan pelan dan sangat berhati-hati, dia takut kalau ucapannya menyinggung perasaan wanita itu.


Zulaikha tersenyum simpul saat mendengar apa yang Ammar katakan, bahkan Ammar dapat mendengar suara tawanya yang membuat Ammar mendongakkan kepala.


"mau ngomong gitu saja kok ragu? yaudah, ayuk kita pergi!" ajak Zulaikha kemudian, sementara Ammar hanya tersenyum miris karna ternyata Zulaikha salah menanggapi apa yang tadi dia ucapkan.


"ya sudah lah, mungkin memang seharusnya aku tidak mengatakan itu!" Ammar lalu ikut bangkit dan mengekori ke mana Zulaikha pergi.


Mereka berdua memutuskan untuk kembali pulang, percuma berbicara pada Agnes dan Defin yang maunya menang sendiri dan selalu menyalahkan orang lain atas perbuatan mereka sendiri.


Sesampainya dirumah, mereka berdua sudah disambut oleh pasukan penjaga rumah. Terutama Syifa yang langsung berlari menghampiri Zulaikha, yang baru saja keluar dari mobil Ammar.


"bagaimana Mbak? apa dia baik-baik saja?" tanya Syifa sembari bergelayut manja dilengan sang Kakak, sementara Zulaikha hanya terkekeh pelan melihat tingkah sang Adik.


Zulaikha yang bermaksud ingin menyalim tangan Bu Dijah tidak sengaja bertabrakan dengan Ammar yang juga ingin menyalim sang Ibu.


Dug, kepala mereka saling adu kekuatan membuat Zulaikha meringis sambil menggosok-gosok kepalanya.


"ya Allah, maaf Mbak! aku enggak sengaja," ucap Ammar, lalu tanpa dia sadari tangannya sudah mengusap kepala Zulaikha membuat wanita itu terjingkat kaget.


"hah? ma-maaf Mbak!" Ammar yang menyadari kalau tangannya sudah sangat lancang langsung menarik tangan itu sampai dia mundur beberapa langkah ke belakang.


Pyar, tiba-tiba suara nyaring terdengar dari balik punggung Ammar membuat semua orang merasa terkejut. Terutama Ammar yang langsung berbalik dan melihat sebuah guci besar sudah pecah berhamburan di atas lantai.


"ya Allah, sebenarnya ada apa denganmu, Ammar?" ucap Bu Dijah dengan penuh penekanan, dia tidak menyangka kalau sang putra akan bersikap seperti itu.


Sementara Zulaikha dan kedua adiknya hanya menahan tawa saat melihat raut wajah Ammar yang dipenuhi dengan ekpresi, mulai dari bingung, malu, gelisah dan sebagainya.

__ADS_1


Ammar berjongkok untuk mengumpulkan pecahan guci itu, tetapi Zulaikha segera menahannya dan menyuruh Ammar untuk kembali berdiri.


"maaf ya Mbak! aku enggak sengaja," ucap Ammar dengan wajah yang sudah merah seperti tomat, dia lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa malu yang menguasainya saat ini.


"enggak apa-apa Ammar, sudah sana masuk! biar kami aja yang membereskannya" perintah Zulaikha, dia lalu meminta Bu Dijah untuk membawa Ammar ke dalam rumah.


Setelah kepergian Ammar, tawa Syifa dan Sita pecah ditempat itu. Mereka merasa sangat lucu dengan apa yang baru saja terjadi, terutama saat melihat wajah Ammar yang memerah seperti baru terkena panah asmara.


"hahaha, gila banget sih!" seru Sita sambil memegangi perutnya yang terasa kencang, dia masih belum bisa menghentikan tawanya akibat kelucuan Ammar.


Zulaikha juga ikut tertawa karna mengingat apa yang terjadi, lalu dia memerintahkan kedua adiknya untuk mengambil sapu dan tempat sampah untuk memasukkan pecahan guci tersebut agar tidak mengenai kaki.


Sementara itu, Ammar yang sudah duduk di sofa diceramahi habis-habisan oleh sang Ibu. Ibunya merasa malu karna tingkah konyol Ammar dirumah orang lain, apalagi saat melihat raut wajah Ammar yang tampak jelas sedang salah tingkah.


"kalau kau memang menyukainya, biar Ibu persiapkan acara untuk meminangnya,"


"Bu, kalau ada yang dengar gimana? Ibu ini sembarangan saja," bisik Ammar, dia melihat ke arah Zulaikha dan kedua adiknya yang masih berada diteras depan.





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga ke karya teman Othor ya 😍


__ADS_1


__ADS_2