Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 78. Rumah Sakit


__ADS_3

Akhirnya Zulaikha dan kedua adiknya kembali ketempat asal mereka, tampak kebahagiaan terlihat jelas diwajah mereka semua membuat Ammar dan Ibunya juga merasa senang.


"Zulaikha!"


Rombongan Zulaikha langsung menoleh kearah sumber suara, terlihat Ridwan dan istrinya berjalan kearah mereka semua.


"Assalamu'alaikum," ucap Ridwan dan Aisyah setelah berdiri dihadapan mereka, semua orang menjawab salam itu dan berlalu saling bercengkrama melepas rindu.


"bagaimana kabar Ibu dan Ammar?" tanya Ridwan saat menyalim tangan Ibu Dijah, dia melempar senyum tulus pada semua orang yang ada ditempat itu. Sementara Aisyah sendiri sedang saling berpelukan dengan Adik-Adiknya karna sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu.


"alhamdulillah kami sehat-sehat saja, Ridwan! bagaimana denganmu dan keluarga?" tanya Ibu Dijah kemudian.


Mereka semua lalu saling bertukar kabar dan saling bercengkrama untuk melepas rindu sembari berjalan keluar dari bandara.


Sebelumnya Ridwan telah memutuskan untuk membawa mereka semua kerumahnya, termasuk Zulaikha dan kedua Adiknya. Dia ingin kalau acara lamaran Zulaikha diadakan dirumahnya saja karna memang dialah satu-satunya wali orangtua untuk wanita itu.


"Mas sudah menyiapkan semuanya, Zulaikha! Mas juga sudah mengundang para kerabat untuk menghadiri acara lamaranmu," ucap Ridwan saat mereka sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, dia menoleh kearah belakang untuk melihat Zulaikha yang saat itu juga sedang melihatnya.


"apa enggak terlalu merepotkan, Mas? aturannya yang sederhana saja!" balas Zulaikha, dia hanya ingin ditemani oleh keluarga terdekatnya saja.


"sederhana gimana sih Mbak! pernikahan Mbak itu harus seperti itu, masak iya cuma kita-kita aja yang liat!" seru Syifa yang dibenarkan oleh Sita, mereka kompak sekali jika dalam hal seperti ini.


"pernikahan?" tanya Ridwan dengan heran, dia melihat kearah Ammar yang sedang mengemudikan mobil mereka.


Ammar lalu menceritakan semuanya pada Ridwan tentang rencana pernikahannya dengan Zulaikha, dia juga mengatakan kalau acara pernikahan itu akan diadakan ditempat ini.


"memang sesuatu yang baik itu harus disegerakan, Ammar! Mas setuju dengan apa yang Ibumu katakan," ucap Ridwan setelah Ammar selesai menceritakan semuanya.


Ammar merasa sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh Ridwan, begitu juga dengan Zulaikha yang bersyukur atas persetujuan yang diberikan oleh Kakaknya.


Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai ditempat tujuan. Semua orang lalu bergegas turun dan mengangkat barang-barang mereka untuk dibawa masuk ke dalam rumah, terlihat beberapa kerabat Aisyah sudah menunggu kedatangan mereka.


***

__ADS_1


Setelah beberapa jam berlalu, Zulaikha, Ammar dan Ridwan memutuskan untuk menjenguk Ibu Diana saat itu juga.


Zulaikha tidak mau lagi menunda-nunda kedatangannya untuk melihat keadaan Ibu Diana karna memang itulah tujuan utama Zulaikha kembali kenegara ini.


"Dek, nanti kau langsung saja yah bertemu dengan Bu Diana," ucap Ridwan tanpa melihat kearah Zulaikha, dia merasa khawatir kalau Defin nanti akan kembali mengganggu sang Adik.


"Iya, Mas! Aku ke sana kan memang mau ketemu sama Ibu," jawab Zulaikha dengan senyum tipis, dia mengerti apa yang sedang dikhawatirkan oleh Kakaknya.


Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai diparkiran rumah sakit. Zulaikha dan yang lainnya bergegas untuk turun dan berlalu mencari ruangan yang ditempati oleh Ibu Dijah.


Namun, baru beberapa langkah keluar dari mobil. Zulaikha melihat Defin dan Irham keluar dari dalam ambulance, beserta seorang wanita yang sedang berbaring di atas banker rumah sakit.


"Agnes?" ucap Zulaikha saat mengenali wajah seorang wanita yang saat itu sedang dibawa ke dalam rumah sakit, dia lalu bergegas mengejar langkah Defin dan juga Irham yang mengikuti ke mana para petugas rumah sakit membawa Agnes.


Ammar dan Ridwan yang melihat Zulaikha pergi ikut melangkahkan kaki mereka, kedua lelaki itu juga ikut penasaran dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Mas Defin!"


"Zu-Zulaikha-" Defin yang sudah selangkah memajukan kakinya mendadak jadi berhenti saat melihat kedatangan Ridwan dan juga Ammar, dia lalu sedikit menarik sudut bibirnya agar tidak terlihat terlalu terkejut.


"kalian ada di sini?" tanyanya kemudian setelah berhasil menenangkan perasaannya yang mulai bergejolak, dia melihat kearah Zulaikha dan dibalas dengan senyum manis wanita itu.


"kami baru saja sampai, Pak Defin," jawab Ammar, dia lalu berbicara pada Zulaikha dan memintanya untuk duduk dikursi.


Hati Defin terasa berdenyut sakit saat melihat kedekatan Ammar dan juga Zulaikha, dia lalu memilih untuk memalingkan wajahnya saat tidak sengaja bertatapan mata dengan Ammar.


Sementara itu, Ridwan yang terus memperhatikan arah pandang Defin menjadi sangat geram saat lelaki itu masih saja memperhatikan Zulaikha. Dia lalu beralih mendekati Defin membuat lelaki itu tersenyum dengan canggung.


"di mana ruangan Ibumu?" Ridwan langsung saja bertanya di mana keberadaan orangtua lelaki itu, dia ingin cepat-cepat membawa Zulaikha pulang agar Defim tidak bisa lagi melihatnya.


"Ibu? ka-kalian ingin bertemu Ibu?" tanya Defin dengan tidak percaya, dia tidak menyangka kalau kedatangan mereka kerumah sakit untuk menjenguk Ibunya.


"iya, Pak! apa Pak Defin bisa memberitahukan ruangan Ibu Diana?" ucap Ammar.

__ADS_1


Defin bergegas pergi dari tempat itu menuju ruangan sang Ibu dengan diikuti oleh Ammar dan juga Ridwan, sementara Zulaikha masih diam ditempat itu sembari melihat kearah Irham.


"bagaimana kabarmu, Irham?" tanya Zulaikha.


Irham yang sejak tadi diam mulai mengembangkan senyumnya saat mendengar sapaan dari Zulaikha. "Alhamdulillah baik, Mbak! Mbak sendiri gimana?" Irham merasa sangat senang karna bisa bertemu lagi dengan Zulaikha.


"Alhamdulillah Mbak juga baik, emm..., kalau gitu Mbak duluan yah, Irham!" Zulaikha yang tadinya ingin bertanya mengenai apa yang terjadi memutuskan untuk mengurungkan niatnya, dia merasa kalau saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya mengenai hal itu.


Lagipula, Zulaikha juga merasa tidak berhak untuk mengetahui ataupun ikut campur dengan urusan pribadi mereka. Dia lalu melangkahkan kakinya untuk menyusul kepergian Ammar dan juga Ridwan.


Defin membawa mereka semua keruangan di mana Ibunya berada, terlihat Ayah Rasyid sedang berbaring di atas sofa dengan mata terpejam membuat Ammar dan Ridwan merasa sungkan untuk masuk.


"Ay-" Defin yang akan membangunkan Ayahnya seketika menutup mulut saat merasa lengannya sedang dicengkram oleh seseorang, dia lalu beralih melihat kearah samping dan ternyata Ammarlah yang sedang memegang lengannya.


"Biarkan saja, Ayah anda pasti sangat lelah." Ammar menepuk lengan Defin sebelum melepaskan pegangan tangannya, lelaki itu tersenyum sembari masuk ke dalam ruangan dengan perlahan karna takut mengganggu tidur lelaki paruh baya itu.


Defin terdiam saat mendengar apa yang Ammar katakan, matanya melirik kearah lengannya yang tadi dipegang oleh Ammar. Entah kenapa hatinya terasa sedikit bergetar karna ucapan lelaki itu, padahal apa yang Ammar katakan hanyalah ucapan biasa saja.


"seperti ini kah sifat lelaki yang akan menjadi suamimu, Zulaikha!"





TBC.


Terima kasih buat yang udah baca 😘


Mampir juga yuk ke karya teman aku, dijamin seru dan bikin betah buat baca 😍


__ADS_1


__ADS_2