Cinta Terakhir Zulaikha

Cinta Terakhir Zulaikha
Bab. 105. Hari Bahagia (Tamat)


__ADS_3

"Aku tau, kalau sejak tadi ada seorang lelaki yang memperhatikanku!"


Syifa membulatkan matanya saat mendengar apa yang Sita ucapkan, dia heran kenapa Sita bersikap santai saja saat ada seorang lelaki memata-matainya.


"terus kenapa kau diam saja? apa kau tidak takut, kalau dia berniat jahat padamu?" ucap Syifa, dia tidak habis pikir dengan apa yang temannya itu lakukan.


Sita tersenyum tipis, dia lalu duduk dikursi yang ada di teras rumah mereka. "apa yang harus aku takutkan? lagipula dia bukan berniat jahat padaku, tapi dia ingin meminta pertanggung jawaban dariku!"


Syifa semakin membulatkan matanya dengan kening berkerut karna tidak paham dengan apa yang Sita ucapkan.


"apa maksudnya? kenapa dia minta pertanggung jawaban darimu?" tanyanya dengan bingung.


Sita lalu menceritakan kecelakaan yang dialami oleh lelaki tersebut karna ulahnya, dia juga mengatakan kalau Zulaikha dan Ammar sudah mengetahui kejadian ini.


"namanya Tuan Sean, kata Mas Ammar dia pengusaha nomor 1 dinegara ini,"


"Hah? pe-pengusaha nomor 1?" Syifa kembali terkejut dengan identitas lelaki yang tadi sempat berbicara dengannya, dia tidak menyangka kalau lelaki seperti itu adalah seorang pengusaha besar.


"Lalu, apa dia menuntutmu?"


Sita menggelengkan kepalanya. "aku tidak tau, semuanya sedang diurus oleh Mas Ammar. Tapi ..." Sita menjeda ucapannya karna merasa ragu dengan apa yang akan dia katakan.


"tapi apa?" desak Syifa, dia paling tidak suka jika ada yang berbicara setengah-setengah padanya.


"tapi aku merasa seperti tidak asing dengan wajahnya, dan aku merasa seperti ada sesuatu diantara kami," ucap Sita, saat pertama kali melihat Sean, dia tidak merasakan apapun. Tetapi, saat dia memikirkannya kembali, hatinya seperti merasa ada sesuatu yang terjadi antara dia dan Sean dimasa lalu.


"tunggu, jangan bilang kau sedang jatuh cinta?" tuduh Syifa, dia tersenyum simpul sembari menyenggol lengan Sita.


"jatuh cinta dengan siapa?"


Sita dan Syifa terlonjak kaget saat mendengar suara Zulaikha, mereka berdua lalu berbalik dan tersenyum canggung pada wanita itu.


"dari tadi Mbak mencari kalian, tapi kalian malah di sini!" ucap Zulaikha, dia kelelahan karna sejak tadi mencari keberadaan mereka berdua.


"aku tadi ingin memanggil Sita, Mbak! eeh malah keterusan di sini," seru Syifa, dia yang memang ingin memanggil Sita malah teralihkan oleh kehadiran seseorang yang tidak dikenal.


"ya sudah, ayo kita kembali! kita harus menyambut keluarga Mas Ammar yang baru datang dari luar kota," ajak Zulaikha, mereka bertiga lalu kembali kerumah Ammar untuk menyambut para tamu.


Sementara itu, Ammar dan Rafa yang sudah sampai diperusahaan Sean terpaksa harus menunggu kedatangan lelaki itu. Mereka duduk diruangan Sean sembari menunggu kedatangannya, sesekali mereka membahas bagaimana reaksi yang aka  diberikan oleh Sean saat mendengar cerita dari mereka.


"apa kalian sudah lama menunggu?"


bak pucuk dicinta ulam pun tiba, baru saja mereka membicarakannya, kini Sean sudah berada dihadapan mereka.

__ADS_1


"tidak, Tuan! kami baru saja datang," jawab Ammar, mereka lalu kembali duduk saat melihat Sean sudah duduk dihadapan mereka.


"Bagaimana? apa ada sesuatu yang ingin kalian ceritakan?"


Ammar menganggukkan kepalanya, dia lalu menceritakan semua hal yang diceritakan oleh Zulaikha tadi, tidak ada yang dia tambahi dan kurangi, dia bercerita tepat seperti apa yan dia dengar.


Sean memejamkan matanya saat mendengar cerita Ammar, dia merasa sangat menyesal karna tidak ada di samping sang Adik disaat adiknya itu dalam keadaan kritis.


"aku harus mengucapkan banyak terima kasih pada keluarga istrimu, bahkan ucapan terima kasih saja tidak akan bisa membalas apa yang telah mereka lakukan untuk Sofia," ucap Sean setelah Ammar selesai menceritakan semuanya.


"tapi Tuan, apa, apa Sita benar-benar adik Tuan? maksud saya, kalaupun semuanya benar, saat ini dia tidak mengingat tentang keluarganya sendiri, dia bahkan tidak ingat dengan identitasnya," balas Ammar.


"Benar! sudah pasti dia hilang ingatan, karna kalau tidak, tidak mungkin dia tidak mengingatku!" Sean menganggukkan kepalanya, karna menurut penyelidikan sekretarisnya, Sita sama sekali tidak pernah melakukan apa yang dia lakukan dulu.


"jadi, apa Tuan akan membawanya?" tanya Ammar dengan hati-hati, Ammar harus memastikan apa yang akan dilakukan Sean saat ini.


"tidak! Aku tidak akan memaksanya, dan aku juga tidak akan mengatakan padanya kalau aku adalah Kakaknya sebelum kami melakukan tes darah! dan setelah itu, biar dia sendiri yang menentukan apakah dia ingin ikut bersamaku atau tidak!" walau sudah sangat lama Sean tidak bertemu dengan sang adik, tapi dia tetap tidak mau memaksanya. Karna dia tau kalau adiknya akan kembali merasa sakit jika dipaksa untuk mengingat dan kembali padanya.


Ammar dan Rafa bernapas lega saat mendengar apa yang Sean ucapkan, kini mereka tidak perlu merasa khawatir lagi dengan tindakan yang akan Sean lakukan.


Setelah pertemuan mereka selesai, Ammar dan Rafa segera pamit untuk pergi dari perusahaan itu. Tetapi, sebelumnya Ammar telah mengundang Sean untuk hadir keacara resepsi pernikahannya yang akan diadakan besok hari.


****


Para tamu undangan sudah mulai memadati tempat acara, mulai dari pejabat, konglomerat, pengusaha, artis, bahkan sampai masyarakat biasa yang tinggal disekitaran rumah Ammar ikut merayakan hari bahagia mereka.


Syifa dan Sita menjadi pengiring sepasang pengantin yang akan duduk disinggah sana, suara tepuk tangan mengiringi langkah Ammar dan Zulaikha menuju pelaminan.


Semua orang tampak sangat terpukau dengan ketampanan dan kecantikam dari sepasang pengantin, banyak juga dari mereka yang meminta untuk foto bersama membuat Ammar dan juga Zulaikha menjadi kewalahan.


"apa aku juga boleh berfoto denganmu?"


Syifa yang saat itu sedang melihat ponsel terkejut dengan kedatangan seseorang, dia lalu mendonggakkan kepalanya untuk melihat siapakah yang telah membuatnya terkejut.


"kenapa selalu dia sih?" Syifa merasa sebal saat melihat wajah Atha.


"jangan mengangguku dan pergilah! aku tidak ingin berbicara denganmu!" ketus Syifa, dia bangkit dan hendak pergi meninggalkan lelaki yang dia benci itu.


Atha menarik ujung hijab yang digunakan Syifa membuat wanita itu tidak bisa melanjutkan langkah kakinya, dia lalu berbalik dan menatap Atha dengan tajam seraya menarik hijab yang ada ditangan lelaki itu.


"lepaskan! apa yang kau-"


"teruslah menghindar dariku, Syifa! karna suatu saat nanti kau tidak akan bisa menghindar dariku, lagi!" ucap Atha sembari melepaskan hijab gadis itu.

__ADS_1


"Cih!" Syifa kembali melanjutkan langkah kakinya untuk meninggalkan Atha, sementara Atha sendiri hanya tersenyum simpul melihat gadis yang berhasil masuk ke dalam hatinya mulai menjauh.


Sementara itu, Sita yang sedang berbincang dengan salah satu temannya merasa dipanggil oleh seseorang. Dia lalu berbalik, dan melihat kalau Sean lah yang sedang memanggilnya.


"apa Tuan memanggilku?" tanya Sita, dia duduk dikursi yang ada dihadapan Sean.


"apa kau bisa menemaniku? aku merasa sedih karna tidak ada yang berbicara padaku!"


Sita melihat ke kanan dan kiri, terlihat semua orang sedang saling berbincang dengan teman-teman mereka, dan memang hanya Sean saja yang diam sendirian dimeja itu.


"baiklah, saya akan menemani anda!"


Sean tersenyum lebar mendengar ucapan Sita, tanpa gadis itu sadari kalau sejak tadi ada sekretaris pribadi Sean yang terus menghalau orang-orang yang ingin bicara pada lelaki itu, termasuk para kolega bisnis dan juga teman-temannya.


Begitulah cara pendekatan yang dilakukan oleh Sean, perlahan namun pasti dia ingin membuat Sita mengingat akan keberadaannya. Dia tidak mau memaksa sang Adik untuk mengingatnya, karna luka yang ada dikepala gadis itu adalah luka yang cukup parah dan bisa menyebabkan rasa sakit yang akan kembali dirasakan oleh Sita.


Ammar dan Zulaikha yang melihat kearah Sita ikut tersenyum bahagia dengan pendekatan yang dilakukan oleh Sean, mereka senang karna melihat Sean begitu menyayangi Sita.


"Mas, aku merasa sangat bahagia!" ucap Zulaikha tiba-tiba, dia menggenggam kedua tangan Ammar dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau bahagia, kenapa menangis, Sayang?" Ammar mengusap air mata yang mengalir dipipi Zulaikha, ingin sekali dia mengecup pipi itu, tapi karna saat ini mereka sedang berada di pelaminan, Ammar terpaksa mengurungkan niat mulianya itu.


"ini air mata bahagia, Mas! setelah bertemu denganmu, begitu banyak kebahagiaan yang aku rasakan. Setiap hari aku selalu bersyukur, dan berterima kasih pada Allah, karna telah memberikan suami yang membawa keceriaan dan kebahagiaan dalam hidupku,"


Ammar merasa terharu dengan apa yang Zulaikha katakan, dia tersenyum dengan sangat manis sembari membalas genggaman tangan Zulaikha.


"aku juga bahagia kalau bisa membuatmu bahagia, Sayang! aku beruntung memiliki istri yang baik, dan berakhlakul karimah sepertimu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, istriku!"


"aku juga, Mas! aku juga sangat mencintaimu, terima kasih karna sudah hadir dalam kehidupanku, dan terima kasih untuk cinta dan kebahagiaan yang telah Mas berikan padaku,"


Akhirnya, Zulaikha mencapai puncak kebahagiaannya bersama dengan Ammar. Seorang lelaki muda yang membuatnya kembali tersenyum atas luka-luka yang telah orang-orang torehkan dihatinya, lelaki itu bukan hanya mengembalikan senyum Zulaikha, tetapi membuat wanita itu merasakan cinta yang sesungguhnya.





End.


halo readers kesayanganku, terima kasih untuk kalian semua yang telah mengikuti cerita Zulaikha sampai akhir 🥰 aku bisa menyelesaikan cerita ini berkat dukungan dari kalian semua 😍 salam sayang dan peluk dari aku 🤗 tetap setia dan dukung semua karya-karya aku yah, karna akan ada cerita seru disetiap karya 🥰


Tetap simpan Zulaikha dirak favorit kalian yah, karna aku akan memberi pengumuman saat cerita tentang Syifa dan Sita rilis di awal bulan Desember 😍 terima kasih dan sampai jumpa dikarya* yang lainnya 🥰 love you 😘

__ADS_1


__ADS_2