
Setelah semua persiapan selesai, besok pagi Zulaikha dan kedua adiknya akan pindah ke negara tetangga bersama dengan Ammar.
Lelaki itu sudah mengurus semua persiapan mereka hanya dalam waktu beberapa jam saja, dia bahkan sudah menyiapkan sebuah rumah untuk tempat tinggal mereka, tepat di samping rumahnya sendiri.
Awalnya Ibu Dijah meminta Zulaikha dan kedua adiknya untuk tinggal bersama nya, tetapi Zulaikha menolaknya dan mengatakan kalau dia merasa malu jika menumpang dirumah wanita paruh baya itu.
Alhasil Ammar menyediakan sebuah rumah tepat di samping rumahnya, yang sebenarnya masih bagian dari rumahnya sendiri.
Karna terlalu sibuk mempersiapkan semuanya, Zulaikha sampai tidak sadar kalau waktu sudah larut malam. Dia melihat Syifa dan Sita sudah tergeletak tidak sadarkan diri di atas sofa, sementara dia sendiri duduk dikarpet sembari membungkus beberapa barang untuk dibawa pergi.
Zulaikha kemudian bangkit dan membawa barang-barang itu ke ruang depan, dia lalu kembali lagi untuk membangunkan kedua adiknya supaya tidur di dalam kamar.
"Dek, Syifa! Sita, banguun!" Zulaikha menggoyang tubuh Syifa dan Sita sampai kedua gadis itu membuka mata.
"eemm, jam berapa ini Mbak?" tanya Syifa sembari membangkitkan tubuhnya, dia mengucek kedua matanya agar terbuka dengan sempurna.
"sudah jam setengah satu Dek, kalian pindah kekamar sana!" perintah Zulaikha, dia sendiri juga sudah merasa sangat ngantuk saat ini.
"apa? jam setengah satu?" teriak Syifa membuat Sita yang masih telentang disofa mendadak jadi bangun, sementara Zulaikha langsung mencubit lengan Syifa karna teriakannya yang cetar membahana.
"duuh, sakit Mbak!" ucap Syifa sembari mengusap-usap lengannya yang terasa panas, dia lalu bangkit dan berjalan ke arah kamar dengan gontai.
Zulaikha hanya terkekeh pelan melihat sang Adik, dia lalu mengikuti langkah mereka untuk masuk ke dalam kamar.
Zulaikha merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya berkedip-kedip memandang langit-langit kamarnya dengan pikiran-pikiran yang mulai berkeliaran ke mana-mana.
"ya Allah, aku serahkan semuanya padaMu,"
kemudian mata Zulaikha mulai terpejam untuk memasuki alam mimpi.
Sementara ditempat lain, ada seorang wanita paruh baya yang tidak bisa memejamkan matanya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam tetapi dia tetap saja tidak bisa tidur.
Ayah Rasyid yang merasa terganggu dengan gerakan Ibu Diana mengerjapkan matanya, dia melirik kearah sang istri yang terlihat sedang melamun menatap langit-langit kamar.
"sudah malam kok belum tidur, Bu?"
suara Ayah Rasyid mengejutkan Ibu Diana yang sedang memikirkan Zulaikha, wanita itu sampai terlonjak kaget dengan jantung berdebar-debar.
__ADS_1
"kamu apa-apaan sih Yah, buat kaget aja!" seru Ibu Diana sembari memukul lengan suaminya.
Ayah Rasyid beranjak bangun, dia kembali menghidupkan lampu kamar mereka membuat Ibu Diana ikut mendudukkan tubuhnya.
"ini sudah malam, kenapa Ibu belum tidur?" tanya Ayah Rasyid kembali, dia melihat raut cemas dan gelisah diwajah sang istri.
Ibu Diana lalu menghela napas berat, dia bingung harus menceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya atau tidak.
"apa Ibu sedang memikirkan Zulaikha?"
Ibu Diana langsung melihat kearah sang suami dengan tajam, dia merasa bingung karna suaminya itu tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
"ada apa? apa terjadi sesuatu dengan Zulaikha?" tanya Ayah Rasyid kembali, dia menatap curiga kearah istrinya yang berubah menjadi gugup.
"eem itu Yah, aku-aku sudah mengatakan semuanya pada Zulaikha," lirih Ibu Diana dengan jemari yang saling bertautan, sementara Ayah Rasyid hanya menghela napas saja.
"lalu? apa lagi yang kau pikirkan? bukannya kau sudah melakukan semua yang kau mau?" ucap lelaki paruh baya itu dengan tajam.
"iya Yah, tapi aku kepikiran soal lelaki yag ada dirumah Zulaikha!"
Ayah Rasyid mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang istrinya ucapkan, "laki-laki? Maksudmu, Ridwan?"
"apa?" teriakan Ayah Rasyid menggema diseluruh ruangan kamar itu, matanya melotot tajam seakan-akan ingin keluar dari kelopak matanya.
"apa maksudmu, Bu? kau jangan becanda?" tanyanya kemudian, dia tidak percaya bahwa Zulaikha sudah mempunya calon suami. Apalagi perceraian Zulaikha dan Defin baru memasuki minggu ketiga.
"aku serius Yah, lelaki itu mengaku calon suami Zulaikha. Dan Zulaikha sendiri juga tidak membantahnya!" jelas Ibu Diana dengan menggebu-gebu, dia meyakinkan suaminya kalau apa yang dia ucapkan adalah benar.
"kalaupun dia benar-benar calon suami Zulaikha, lalu apa urusannya dengan kita, Bu?" tanya Ayah Rasyid kembali, walaupun dia merasa kaget mendengar kabar tentang Zulaikha. Namun, dia masih sadar diri bahwa mereka tidak berhak lagi ikut camput dengan kehidupan wanita itu.
"iya aku tau kalau semua itu bukan urusan kita lagi, tapikan-"
"sudahlah! Berhenti ikut campur dan menganggu kehidupan Zulaikha, kau sudah tidak punya hak untuk mencampuri urusannya!" potong Ayah Rasyid, kemudian dia kembali mematikan lampu kamar dan merebahkan diri untuk istirahat.
Sementara Ibu Diana hanya mendessah pasrah, dia lalu mengikuti suaminya untuk masuk ke alam mimpi.
****
__ADS_1
Keesokan harinya, Zulaikha dan semua keluarganya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Begitu juga dengan Ammar dan keluarganya yang sudah tidak dirumah Zulaikha, terlihat Yusuf juga ada bersama dengan mereka.
"kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun Dek, biar semuanya Mas yang urus!" ucap Ridwan, dia mengelus puncak kepala Zulaikha dengan sayang.
"benar Zulaikha, biar aku dan Bang Ridwan yang mengurus semuanya di sini. Kau hanya perlu berangkat dan memulai kehiduapan barumu bersama dengan Ammar,"
semua mata melihat tajam kearah Yusuf saat mendengar apa yang pria itu katakan, terlebih-lebih Ammar yang ingin sekali mencekik leher saudaranya itu.
"ehem, maksudnya memulai kehidupan baru dinegara Ammar," ralat Yusuf, dia lalu mengedipkan sebelah mataya ke arah Ammar membuat lelaki itu memandangnya dengan murka.
"aku sudah mengikhlaskan Zulaikha untukmu, Ammar. Aku berdo'a semoga kalian berjodoh!"
Yusuf yang awalnya jatuh hati dengan Zulaikha, memilih untuk mundur saat mengetahui bahwa Adiknya sendiri jatuh cinta dengan wanita itu.
Awalnya dia sangat terkejut saat mengetahui kalau Ammar mengenal Zulaikha, kemudian Ammar menceritakan awal mula mereka bisa bertemu dan berkenalan.
Yusuf merasa kalau pertemuan mereka itu tidaklah biasa, mungkin saja garis takdir sengaja mempertemukan mereka untuk saling mengisi dan menemani.
Semua keluarga Zulaikha mengantar kepergian mereka ke bandara, tangis haru menyelimuti suasana bandara saat Zulaikha berpamitan pada Kakak dan juga Kakak iparnya untuk pergi ke negara lain.
Begitu juga dengan Syifa dan Sita yang juga sedih karna harus meninggalkan negara yang banyak menyimpan kenangan mereka sejak kecil.
"jaga diri kalian baik-baik ya, insyaallah kalau Mas libur, Mas pasti akan berkunjung ke sana," ucap Ridwan sebelum melepas kepergian Adik-Adiknya.
Zulaikha dan kedua adiknya menganggukkan kepala mereka dengan tangis yang terus membasahi pipi, mereka lalu mengikuti langkah Ammar dan keluarganya yang sudah berjalan menuju tempat keberangkatan.
Setelah pesawat yang dinaiki Zulaikha berangkat, Ridwan dan keluarga kecilnya bergegas untuk kembali kerumah mereka. Namun, langkah mereka harus terhenti karna ada seseorang yang memanggil mereka.
"Mas Ridwan, sedang apa di sini?"
•
•
•
TBC.
__ADS_1
Terima kasih buat yang udah baca 😘