Cinta Tulus Anak Majikan

Cinta Tulus Anak Majikan
Ani pingsan


__ADS_3

"Maksud kamu apa De, kenapa kamu marah begitu?" Dimas merasa heran kenapa Ade marah saat dia mengatakan jika ingin kerumah Ade


"Maksud aku,kamu tahu kan Ani sendiri dirumah, itu tidak baik jika kamu datang sebelum aku pulang," jawab Ade berbohong


"Terus jika kamu pulang dan aku tidak datang, berarti kamu selama ini hanya berdua dengan Ani dirumah, apakah itu baik?" Dimas balik bertanya


"Tidak, selama ini Ani ditemani mbak Tati selama ortuku tidak ada," Ade berbohong karena dia tidak ingin Dimas memikirkan hal buruk tentang dia


"Oke, aku tunggu sampai kamu pulang," lalu Dimas pergi dari hadapan Ade.


Ade masih menatap kepergian Dimas, 'aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Ani Dim, karena Ani akan menjadi milikku selamanya," gumam Ade dalam hati dan segera pergi


***


Kini sudah jam 2 siang Ani masih enggan untuk bangun, rasanya ia ingin tidur seharian dan kepalanya terasa sangat pusing, saat Ani ingin kekamar mandi untuk memenuhi panggilan alam, Ani berusaha untuk bangun tetapi kepalanya terasa sangat pusing Ani memaksakan untuk tetap bangun


Saat Ani baru melangkah dia merasakan bumi berputar. "Ya Allah kenapa kepalaku pusing sekali," dan tiba2


Bruukk... Ani pingsan


Belum berapa lama Ani pingsan mbak tati datang untuk mengajak Ani makan bersama mereka dibawah


Tok... tok.. tok..


"Ani... Ani..." Mbak Tati kembali mengulang memanggil Ani, namun tak ada jawaban, mbak Tati yang merasa cemas segera membuka pintu kamar gadis itu, kebetulan kamarnya tidak dikunci


Saat pintu kamar terbuka mbak Tati sangat terkejut melihat Ani sudah tergeletak di lantai


"Astaghfirullah.. Ya Allah, Ani! An, bangun Ani!" mbak Tati mencoba membangunkan Ani tapi Ani tak kunjung bangun, mbak tati segera memanggil Mira dan Novi untuk membantu mengangkat tubuh gadis itu ke atas tempat tidur


Setelah membaringkan Ani di atas tempat tidur. Mbak Tati segera menelepon Ade, dan tidak berapa lama Ade segera menerima telepon dari mbak Tati


"Ya halo Mbak, ada apa?" tanya Ade


"Den, Ani. Den!"


"Ani kenapa Mbak?" Ade agak meninggikan suaranya, walaupun dia sedang berada diruang meeting karena Ade begitu cemas mendengar Mbak Tati menyebut nama Ani

__ADS_1


"Ani pingsan Den, sampai sekarang belum sadar," ujar mbak Tati menjelaskan


"Apaa! Yasudah saya segera pulang!" Ade mematikan teleponnya, dia meminta maaf kepada rekan2 bisnis papanya karena ia tidak bisa ikut meting sore ini, Ade meminta asisten papanya untuk menggantikannya sementara waktu.


Ade segera keluar dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia benar-benar mencemaskan Ani, 'kamu kenapa Ani, jangan membuat aku takut. aku tahu ini semua salahku." mata Ade mulai memerah dia benar benar takut kehilangan Ani


Kini mobil yang dikendarai Ade sudah tiba di depan gerbang pagar rumahnya, karena pintu pagar tak kunjung dibuka Ade menekan klakson mobilnya dengan kencang saat itu juga sequrity berlari membukakan pintu pagar.


"Kenapa lama sekali pak?!" Ade meninggikan suaranya


"Maaf den tadi bapak lagi buang air,"


Ade tidak menjawab ia segera masuk kedalam dengan langkah tergesa-gesa


"Ada apa dengan den Ade kenapa dia begitu mencemaskan Ani ya? tidak biasanya dia bersuara tinggi begitu." Pak Dadang berbicara sendiri.


Ade segera masuk dan menuju kamar Ani, disana mbak Tati masih menemani gadis itu yang masih belum sadarkan diri.


"Bagaimana dengan keadaan Ani, Mbak? apakah dia sudah siuman?" tanyanya cemas


Ade segera duduk disamping Ani dia segera memeriksa dengan alat stetoskopnya, dan Ade memeriksa denyut nadinya juga, Pria itu segera keluar dan mengambil alat infus dan membawa tiang infus juga,


Ade dengan serius mencari nadi Ani, ia segera menancapkan jarum infus di tangan kiri wanita yang sangat ia cintai itu, setelah selesai Ade meminta mbak Tati untuk menjaga Ani sebentar


"Mbak tolong jaga Ani sebentar saya mau mandi dulu,"


"Baik den," Ade segera kekamarnya untuk mandi sebentar


Setelah selesai mandi Ade kembali ke kamar Ani, dia ingin menjaga kekasihnya itu.


"Mbak Tati pulanglah ini sudah hampir magrib," titahnya


"Tapi bagaimana dengan Ani den?" tanya Mbak Tati masih cemas


"Mbak, tenang saja. Ani biar saya yang menjaga, nanti kalau saya butuh bantuan mbak akan saya suruh supir untuk menjemput mbak,"


"Baiklah kalau begitu mbak permisi dulu, Den." Tati segera keluar untuk pulang, karena Novi dan Mira sudah pulang terlebih dahulu

__ADS_1


***


Kini hanya tinggal Ade dan Ani dikamar itu.Ade duduk disamping Ani, ia menatap wajah cantik yang pucat itu, Ade menggenggam tangan Ani dan mengecupnya. "Maafkan mas Ani," lirih Ade


"Mas tau ini semua kesalahan Mas, jangan seperti ini An, mas mohon maafkan kesalahan mas, kamu jangan membuat mas takut," Ade tak bisa menahan air matanya, rasanya baru kali ini ia menangis karena seseorang yang sangat ia cintai.


Saat Ade menggenggam jemari Ani, dia merasakan jari itu bergerak. Ade segera melihat ke wajah Ani.


Gadis itu berusaha membuka matanya, dia melihat sosok lelaki yang sangat dia rindukan. Ya walaupun dia mengatakan benci, tapi dilubuk hatinya yang paling dalam, Ani masih merindukan Ade, Ani ingin sekali memaafkan Ade tapi Ani selalu merasa Ade tidak jujur padanya karena Ani melihat Ade masih jalan bersama Gita


"Kamu sudah sadar? Ade menatap lembut, dan masih menggenggam tangan Ani. Ani segera melepaskan tangannya dari genggaman Ade


"Maafkan aku, tenanglah aku tidak akan menyakiti kamu,"


"Ani kenapa,Mas?" Ani bertanya dengan suara seraknya. sambil melihat selang infus yang masih terpasang di tangannya


"Kamu tadi pingsan. apa yang kamu rasakan, An? apakah ada yang sakit?" Ani menggeleng


"Tidak ada, Mas, Ani tadi hanya pusing," Ani mengalihkan pandangannya. "Apa kamu sudah makan?" Ani kembali menggelengkan kepalanya


"Kamu kenapa tidak makan, An? Aku mohon Ani, tolong jangan siksa diri kamu lagi, aku tau kamu sangat membenci aku, aku juga tidak tahu, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?"


Ani hanya diam, dia memiringkan tubuhnya mengarah jendela kamar, membelakangi Ade, tak Terasa air matanya jatuh


"Ani, aku mohon bicaralah! jangan hukum aku seperti ini. katakan kepadaku apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku?" Ade semakin merasa bersalah


"Ani ingin istirahat, Mas. Ani mohon tinggalkan Ani sendiri!" hanya itu yang keluar dari bibir gadis itu


Ade menghela nafas panjang, rasanya dia benar2 frustasi menghadapi Ani


"Baiklah, jika kamu butuh sesuatu panggil aku!" Ade segera keluar dari kamar Ani dan duduk di di balkon rumahnya dilantai dua, Ade sengaja memilih duduk Disana jika Ani butuh sesuatu Ade bisa mendengarnya


Kini Ade duduk sambil menikmati pemandangan Kota Riau yang dijuluki kota minyak dan kota bertuah itu, ntah apa yang sedang dipikirkannya


Bersambung...


jangan lupa like dan komentar nya ya teman-teman terimakasih banyak 😘😍 terimakasih

__ADS_1


__ADS_2